Krisis Sosok Ayah

Taufik Noor, seniman keren punya Jogjakarta di instagramnya pernah ngepost kurang lebih begini “ Coba tonton video ini, dan dengar apa yang Mas Eross katakan. Lalu pandanganmu tentang cinta, keluarga dan lagu-lagu SO7 akan berubah.”

Apa yang ingin  ‘dibagikan’ Mas Eross sejalan dengan apa yang pernah diceritakan oleh sahabat saya.

“Kita krisis sosok ayah” katanya.

“Maksudnya?” Saya bertanya.

“Iya. Indonesia, tepatnya anak-anak Indonesia mengalami krisis sosok ayah. Sosok ayah identik dengan pencari nafkah dan pemimpin dalam keluarga. Ia tegas, kaku, dan cenderung canggung dalam hubungan emosional dengan anak. Padahal peran ayah dalam mendidik anak secara emosional pun akan sangat berpengaruh penting kepada perkembangan kepribadian anak. Tahu tidak, anak laki-laki yang kehilangan sosok ayah akan berdampak pada rendahnya harga diri anak, kesulitan identitas seksual, lemah dalam ngambil keputusan. Dan untuk anak perempuan, kehilangan sosok ayah dapat menyebabkan kesulitan mengetahui dan menentukan pria yang tepat untuk jadi pasangan hidupnya.” Ia menjelaskan panjang lebar

“ Hilangnya sosok ayah bukan hanya karena (maaf) meninggal atau orang tua berpisah kan?” Saya masih bertanya

“Benar. Ayah , fisikalnya ada, emosional nya tidak pun termasuk dalam tidak adanya sosok ayah. Dan tahu tidak, akibat hilangnya sosok ayah untuk anak laki-laki, lebih berbahaya jika dibandingkan hilangnya sosok ibu untuk anak perempuan. Masih banyak ayah yang menganggap bukan tugasnya untuk menjadi tempat anak bercerita, berbagi masalah, bahkan sedih dan menangis. Padahal, Ayah pun memiliki andil yang penting dalam memberikan perhatian. Banyak anak yang saya tangani yang ternyata memang menjadi ‘pemakai’ , karena bermasalah dalam keluarga, dan rata-rata, hampir semua kehilangan sosok ayah. Kasus Homo pun, kurang lebih demikian ”

 

Saya diam. Mencerna apa yang barusan dijelaskan sahabat saya. Oh iya sahabat saya ini seorang psikolog klinis.

Belakangan saya searching, dan “Indonesia adalah negara kedua di dunia yang anak-anaknya merasa tidak berayah. Sebab, sebagian besar ayah merasakan tugas membimbing anak adalah tugas ibu. Sementara Indonesia saat ini sudah disebut dalam kondisi darurat narkoba dan juga darurat pornografi” (Khofifah, 2015)

Sebegitu pentingnya peran ayah, sosok ayah physically, emotionally. Beruntungnya Mas Eross adalah satu dari sekian anak yang alhamdulillah tidak jadi korban hilangnya sosok ayah dalam perkembangannya. Meski ada penyesalan dan kesedihan, tetapi Ia tetap bisa berjalan dengan ketimpangan menjadi ayah tanpa panutan ayah yang baik. Masih banyak anak lain yang sayangnya tidak seberuntung Mas Eross. Dan luar biasanya adalah, benar kata Mas Taufik Noor, pandangan tentang lagu-lagu SO7 berubah. Mereka lahir dari laki-laki hebat yang paham benar arti mencintai dan dicintai.

Saya tidak ingin memberi komentar terhadap apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah. Tidak pantas. Ingin meng-kode- calon ayah anak-anak saya, ah terlalu jauh. Si calon saja masih rahasia Langit. Saya hanya tiba-tiba teringat teman-teman laki-laki saya yang kurang ekspresif, canggung untuk mengungkapkan kesenangan, kesedihan, dan lebih memendam. Apakah bibit dari sosok ayah yang nanti akan hilang? Ah, semoga saja tidak.

40b870954c026a94105f211b31e545dd

 photo

Kali Ini Beda

Lucu saja rasanya kali ini.

Tak serupa yang sudah-sudah dan telah-telah. Ada di antara berharap tapi terlalu takut akan kecewa.

Melihat dan merasakan banyak kebaikannya. Mengagumkan.

Tuhan, apa yang Kau mau aku lakukan? Ini tangan hamba, tuntunkan jalan.

156796403-edit

photo

Sebentar Saja

Bicara tentang waktu, kita bicara tentang rahasia. Berapa banyak orang yang tahu pasti sisa waktunya setelah tiap detiknya berkurang? Bukan, bukan berapa banyak. Adakah?

Pun, berapa banyak orang yang tahu pasti jika hidup itu sebentar saja? Berapa banyak yang sadar kalau hidup itu tak akan lama? Saya membayangkan, andai saya, andai orang-orang selalu ingat kalau waktu kita tinggal sebentar, ya kita akan ‘pulang’, mungkin kita tak akan lagi menyimpan dan menunda-nunda banyak hal. Semisal, rasa, harta. Menunda segala kebaikan dan ibadah dengan pikiran, “masih ada waktu kok, nanti saja”. Well, tenang, saya tidak akan membahas urusan pribadi seseorang dengan Tuhannya ini. Bukan kapasitas saya, kan?

Semisal yang saya sebut pertama sajalah, soal rasa. Menyimpan rasa. Sadar atau tidak, banyak yang rela menyimpan rasa bahkan ada yang terlalu lama, membiarkan mereka yang berhak mendapatkannya tak tahu apa-apa. Gengsi? Malu? Takut?

Rasa. Kagum, simpatik, sayang, rindu, cinta, marah, kecewa. Apalagi? Berapa banyak orang yang egois menikmati nya sendiri, tanpa mau berbagi? Padahal dengan membaginya sesuai porsi yang pantas dan cara yang pas, bisa mengubah sesuatu, sesuatu yang kembali ke rasa lagi. Ah, menjelaskan nya susah bagi saya. Rasa memang untuk dirasakan, bukan dijelaskan, kan?

Membolehkan seseorang tau kalau Ia dirindukan, sama saja dengan mengatakan kalau hadirnya berarti. Mengungkapkan kecewa, sama saja mengajak seseorang itu untuk berbicara, menyelesaikan masalah, melapangkan hati. Toh dengan hanya menyimpannya sendiri saja tidak akan mengubah apa-apa. Kecuali kita dianugerahi kemampuan membaca hati dan pikiran, semisal telepati, maka tak mengapa.  Jangan sampai sia-sia hati yang Tuhan berikan itu. Tak berfungsi.

Maka kembali lagi, jika kita sadar, waktu kita hanya sebentar, mungkin kita mau menghabiskannya dengan tidak egois. Sebelum sesal datang, waktu kita tak bisa diulang.

 

671717134483c18f731c9e943dd55696

photo

Perjalanan 5 Menit

Sisa hujan masih menggenang di sisi-sisi jalanan. Awan-awan putih masih belum mau pergi. Pagi itu, Palu serupa Malang, sejuk dengan ujung-ujung dingin yang dibawa hujan tadi malam. Di jam 10 pun, suhunya masih sama, ditambah gerimis. Bismillah, saya masuk kelas dengan satu new warming up activity di kepala saya.

Processed with VSCO
Processed with VSCO

Ada 25 mahasiswa di kelas saya pagi ini. Mereka mahasiswa baru. Dan hari ini minggu kedua kami bertemu. Sebelum masuk materi, saya meminta mereka untuk keluar kelas selama 5 menit. Ada yang senyum-senyum penasaran mau bikin apa, ada yang diam bengong tapi bingung. Nah, enaknya mengajar di semester 1 adalah dosennya juga ikut tertransfer excited dan semangat -perpindahan dari anak sekolah ke mahasiswa- mereka.  Maka akan selalu sangat menyenangkan berangkat dari rumah dengan semangat dan disambut di kelas juga dengan semangat, yang lebih malah. Jadi, instruksi saya adalah,

“Yang kalian akan lakukan adalah keluar dari kelas selama 5 menit. Kalian harus berjalan sampai di ujung gedung ini. Laluu amati apa saja, siapa saja, yang akan kalian lewati. Apa saja, siapa saja. Nanti setelah 5 menit, masuk kembali, lalu kita lihat apa yang akan kalian lakukan.” Seruan excited mereka masih terdengar, lebih riuh malah. Dan ada satu mahasiswi yang bertanya,

“Bu, bawa buku ndak?”

“ No. Amati bukan catat. Oke, sekarang kalian boleh keluar, Sebelum 10.18 am kalian sudah harus kembali ke kelas.”  Jawab saya.

“Iya Bu” Mereka menjawab rame, semangat. I guess, that is one of magical sounds God gives. Mereka pun mulai keluar.

Saya pun ikut keluar sebatas depan pintu kelas. Karena akan tidak lucu, kalau mereka balik dari perjalanan 5 menit itu dan akan ada barang mereka yang hilang karena kelas kosong (bu dosen nya masih ingat jaman sekolah, ditinggal bentar, pulpen berpindah tangan hha)

Mereka pun mengamati sekitarnya, nengok kiri kanan, ke lantai atas lantas mengangguk, ada yang tenang, diam. Macam-macam. Oh sekedar informasi, gedung kuliah umum Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ini dan Fakultas lainnya adalah gedung 3 lantai, dengan formasi dari bawah ke atas yaitu jejeran 9 kelas dengan jarak spasi adalah tangga dan wc di antara tiap 3 kelas. Jadi total ada 27 kelas di satu gedung. Dan berhadapan dengan gedung yang sama bentuknya, terhubung dengan ‘jembatan’ di lantai dua dan tiga. Mereka mengamati apa saja, saya juga, mengamati mereka. Ada yang jalan sama teman dan teman-temannya, ada yang sendiri. Ada yang jalan sampai bolak-balik kedua ujung gedung, ada yang sampai ujung langsung balik ke kelas. Karena kelas-kelas lain ada yang lagi kosong jam kuliah, maka suasana di luar kelas waktu itu lumayan ramai. Lebih semarak.

5 menit pengamatan pun selesai. Satu-satu mereka kembali ke kelas dengan raut wajah yang beda-beda. Setelah semuanya kembali ke kursi masing-masing.

“Well. Sudah perjalanan 5 menit nya ya. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan?” Sambil senyum saya bertanya. Dijawab pun dengan senyum malu-malu. *eh kenapa kayak orang lagi PDKT. Kelas sunyi.

“Sekarang, saya minta 3 orang untuk maju menceritakan hasil pengamatannya tadi. Silahkan.”

“ Saya Bu!”  Beberapa mahasiswa serentak antusias semangat ngacung. Sementara yang lain senyum saling melihat teman-temannya. Yang terpilih maju adalah 2 mahasiswi dan 1 mahasiswa. Mereka bertiga saya minta berdiri di depan kelas, dan bergantian menceritakan perjalanan 5 menit mereka.

Mahasiswa pertama (perempuan),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Baiklah, saya akan menceritakan hasil observasi  saya selama 5 menit di luar tadi. Jadi, yang saya lihat adalah banyaknya mahasiswa di kampus ini. Dan dalam kepala saya adalah kita sebagai mahasiswa harus menjaga nama baik kampus ini. Sekian yang bisa saya sampaikan, wassalamu’alaikum warrahmatullah.”

Mahasiswa kedua (perempuan),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Di luar tadi saya melihat banyak mahasiswa yang sedang tidak ada mata kuliah. Mereka ngobrol di luar kelas, sementara di dekat mereka berserakan sampah. Tidak adanya kesadaran untuk mengangkat sampah-sampah itu. Itu saja, terima kasih, wassalamu’alaikumwarrahmatullah.

Mahasiswa ketiga (laki-laki),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Baiklah, saya akan menceritakan apa yang saya lihat selama 5 menit tadi. Hal pertama yang saya lihat ketika keluar kelas tadi adalah sebuah pot bunga besar depan kelas ini dengan ukiran gold. Pot nya bagus, sayang, tidak ada tanaman atau bunga di pot tersebut. Yang kedua, di ‘jembatan penghubung’ lantai dua, ada dua orang mahasiswi duduk di kursi dengan beberapa kertas. Keliatannya mereka bicara serius, mungkin KRS nya belum ditanda tangan dosen PA (Penasehat Akademik) nya. Yang ketiga, (Well, anak ini detail juga) saya lihat ada sepeda terparkir di samping kelas. Padahal kita tahu di situ bukan tempat parker sepeda. Kampus sudah menyediakan tempat parker di depan. Yang keempat, saya lihat ada 3 orang mahasiswa. 2 memakai jas kampus, yang 1 nya lagi memakai setelan gamis, berjenggot. Kelihatannya mereka sedang diskusi masalah agama, mungkin itu senior dan junior. (Masih ada lagi ternyata) lalu saya ketemu beberapa teman saya, dan mereka merokok. Sangat disayangkan, mereka merokok dalam lingkungan kampus dan dalam jam belajar. Pas lagi jalan balik ke kelas, beberapa teman menyalami saya, Alhamdulillah, silaturahmi masih baik dan pas di depan kelas, saya liat Ibu yang bilang 5 menit sudah selesai. Saya pun masuk kelas. Itu saja (saja? Hehe) yang bisa saya ceritakan, terima kasih. Wassalamu’alaikum warrahmatullah.”

Well, ketiga mahasiswa ini sudah selesai bercerita, lalu? Saya masih menanyakan siapa lagi yang mau bercerita, karena tadi masih ada beberapa yang antusias. Tapi ternyata hanya 1 yang masih mau bercerita. Yang lainnya jadi malu-malu lagi. Yang maju kali ini mahasiswa, Komsat a.k.a Ketua Komisariat, atau Ketua Kelas/ Tingkat.

Mahasiswa keempat,

“Assalamu’alaikum warrahmatullah, apa yang saya amati 5 menit di luar tadi, adalah pertama, saya lihat teman-teman yang perempuan, berjalan sambil gandengan tangan. Rasanya damai saja melihat orang-orang yang bersahabat. Yang kedua, saya lihat satu perempuan berjilbab (haha, padahal semuanya berjilbab). Masya Allah, cantik, santun. Sementara dosennya ini nanya “Jadi, udah ditandain kelasnya di mana?” Dan kelas pun rebut ciyee ciyee ke Komsat mereka. Sudah Bu, di kelas sebelah haha. Wets, saya hanya melihat dengan mata, bukan pakai hati, santai teman-teman hehe.  Dan yang terakhir, di luar ada cermin besar, saya bercermin. Kelas masih ketawa. Yang saya lihat adalah saya masih banyak kekurangan, saya harus bisa lebih baik lagi ke depannya. Itu saja cerita saya, terima kasih, wassalamu ‘alaikum warrahmatullah.”

 

“Oke. Silahkan tepuk tangan untuk empat teman kalian yang sudah sharing cerita mereka.” Sekelas tepuk tangan dan saya belum meminta mereka kembali ke tempat duduk. Mereka berempat masih senyum malu usai bercerita

“Nah sekarang saya mau bertanya ke yang lain, bagaimana, cerita teman kalian ada yang sama tidak?”

“Tidak, Bu” Ada yang menjawab sambil menggeleng semangat.

“Tempat yang diamati beda ndak? apa ada yang keluar dari batas gedung tadi?” saya masih bertanya.

“Tidak, Buuu. Tempatnya sama semua”

“Oke, kalau kita amati, Anisa –mahasiswa pertama- melihat satu hal dari sudut pandang yang umum, tidak detail, kan? Sedangkan Frida –mahasiswa kedua- melihat fokus ke satu hal, mengkritisi apa yang kurang, tapi lupa memberi solusinya. Dan Afwan, -mahasiswa ketiga- Ia tipe pengamat yang detil. Ingatannya bagus, dan cenderung menganalisa satu hal dari detail yang tampak. Ia bisa melihat lebih dari satu sudut pandang. Dan yang terakhir, Rasyid, Ia cenderung melihat sisi keindahan dari satu hal. Sepertinya Ia penikmat ketenangan.” Subjektif saya menilai cara pikir keempat mahasiswa di depan kelas ini.

“Well kalau begitu, teman kalian ada yang bisa disalahkan karena cerita mereka beda-beda meskipun tempatnya sama?”

Jawaban serentak masih sama, “Tidak, Bu.”

“So, apa yang bisa kalian simpulkan dari perjalanan 5 menit dan cerita-cerita teman kalian?

“Perbedaan pendapat, Bu” ada yang menjawab

“Ok. Perbedaan pendapat. Jawaban lain?” Saya masih menunggu yang lebih tepat.

“Perbedaan pengamatan, Bu” Mahasiswa di dekat saya berdiri menjawab.

“Oke, good! atau perbedaan cara pandang!” Mulailah giliran saya yang berbicara untuk menambahkan sedikit pemahaman mereka.

“ Dalam perkuliahan nanti kalian akan banyak berinteraksi, berdiskusi, sharing. Ketika pandangan teman kalian berbeda dengan apa yang kalian pikirkan, bukan berarti teman kalian salah lalu kalian lah yang benar. Atau sebaliknya. Apa yang ada di depan kalian, sangat banyak, sangat luas. Buka ‘mata’ kalian, luaskan pikiran dan wawasan kalian. Jangan berpikiran sempit, saling menyalahkan. Toh kalau nanti ada yang salah dalam kelas kita, jangan merendahkan, jangan memaki. Berikan cara terbaik untuk membenarkan. Bisa ya?”

“Bisa Bu.” Mereka menjawab plus anggukan. Ada senyum, pun masih ada yang lempeng-lempeng saja. Hahaha. Entahlah, yang saya rasakan saat itu adalah hati saya bertambah sekian space lapangnya untuk mengingat dan memasukkan mereka dalam cerita hidup saya yang entah sampai kapan.  Pagi itu saya bahagia. 🙂

d13e2e1b8c9810e9f79339c7774b96bd

photo

 

Menulis Itu…

Menulis adalah cara saya untuk jujur. Jujur pada perasaan sendiri, pun pada orang-orang yang untuknya tulisan saya, saya tujukan. Bukan berarti apa yang saya lakukan lantas jauh berbeda dengan tulisan saya, tetapi dalam tulisan lah saya bisa jauh lebih jujur dan ekspresif.

 

Ada orang-orang yang tumbuh dengan rasa malu yang tinggi. Saya salah satunya. Lalu ada yang protes, “yuni, itu bukan malu. Itu gengsimu yang terlalu tinggi”. Entahlah. Lalu kata yang lain lagi, “Kamu itu egois”.

 

Mungkin memang egois. Mungkin. Saya selalu memilih cara saya untuk dimengerti, lantas menggunakan cara yang sama untuk mengerti, bukan cara orang lain bagaimana mereka mau dimengerti.

 

Yang saya tahu hanyalah saya sedang jujur. Sekarang pun, saya menuliskan satu dari sekian pikiran yang belakangan mondar-mandir di kepala saya. Lucu saja rasanya, makin kesini, makin berpikir, beberapa hal yang kemarin saya percayai, tak lagi sama. Ada ha-hal yang saya sukai pun, sekarang tak lagi sama. Saya menemukan perbedaan di perjalanan pemikiran saya. Lantas, apakah selain egois, saya pun plin-plan? Tak punya pendirian?  Sementara, menurut saya, saya tak keras kepala lagi.

 

Satu contoh, saya dulu akan sangat *sebut saja* terpesona dan mengagumi orang lain *utamanya lelaki yang puitis, sarkastic, yang bisa bikin kepala saya muter kesana sini hanya untuk menangkap maksud tulisannya. Saya lalu bertemu, terkagum-kagum dengan beberapa dari mereka yang saya temui dalam perjalanan saya. Menikmati perbincangan-perbincangan dengan mereka yang sepertinya terlahir sudah dengan kemampuan berkata-katanya itu. Tapi sekarang? Yang ada tinggal lah rasa hormat kepada kemampuan mereka itu. Kagum dan terpesonanya sudah hilang entah kemana. Ada apa dengan saya?  Mungkin kalian akan berpikir karena saya pernah kecewa lantas apa-apa tak lagi sama. 🙂 Bagi saya, saya hanya sedang membuka mata lebih jernih lagi.

Manusia hidup dengan kedinamisannya. Hari ini bisa A, besok mungkin K. Hari ini suka besok tak lagi sama. Lalu pertanyaan saya, Tuhan kapan Kau datangkan Ia yang menemani hamba dalam perjalanan hidup yang dinamis ini? Hamba meminta pertolonganMu, sampaikan salam hamba padanya. Itu saja. *ehh

 

*Dan 2  menit waktu kalian terbuang karena curhatan penulis, maafkan. Haha.

 

30a623913719840adcf1024aaf9c9a12

Kesebelasan Gen Halilintar; Sedikit Kekaguman Saya tentang Tanggung Jawab

Saya lupa dimana pertama kali melihat Keluarga Gen Halilintar. Last year, If I’m not mistaken, It was in one of programs on tv. Dan ekspresi saya, wow, I was amazed. They are so cool, traveling to many places, countries, ALL OF THEM. Dan setelah itu, saya mulai nyari-nyari info lain tentang keluarga ini, gugling lah, yutub lah. Di kepala saya cuma ada “Oke, mereka keren, kompak, pinter-pinter, traveling kemana-mana”. Dan saya sempat kepikiran mereka hanya akan jadi peramai dunia pertelivisian, jadi bintang tamu dari programs tv ke tv. Udah, sampai situ saja.

Ternyata enggak. Dari official instagram mereka, saya tahu dan akhirnya saya niat beli buku mereka yang waktu itu masih coming soon. Masih penasaran dan amazed dengan gimana hidup kesebelasan gen halilintar ini, mereka udah kemana aja, ngelakuin apa aja, ngelewatin apa aja. Dan buku nya launched, segeralah saya ga mikir dua kali buat took the book home. Lumayan mahal lah ya untuk buku dalam negeri, di atas 100K. Worth it tapi!

 

DSCN6321 UA

Banyakkan foto deh kayaknya di buku nya, hehehe. Full color dan ternyata mereka juga publishernya. Eh semua ding, dari design cover, lay out, konten, full created by Kesebelasan Gen Halilintar. Dibuka dengan cerita masa muda dari Ibu Lenggogeni dan Bapak Halilintar. Bagaimana mereka bertemu dulu, perjalanan sampai akhirnya memutuskan bersama dalam ikatan pernikahan tanpa pacaran. Eyya. Wallahu alam. Tapi, insya Allah segala yang tertulis sesuai fakta. Saya akhirnya gak heran kenapa Kesebelasan Gen Halilintar bisa sekeren sekarang, ada suami sekaligus Bapak yang berkeinginan dan berusaha kuat dan cerdas juga Istri dan ibu yang selalu siap menjadi penyeimbang di sisi suaminya dan guru yang baik untuk anak-anaknya.

 

DSCN6398 UA

Saya kagum. Iya. Tentu. Masya Allah. Saya lebih melihat dari sisi tanggung jawab, diberikan rejeki 1 anak saja, sudah tentu berat, tanggung jawabnya, mendidiknya, menjaganya, mengajarnya, melindunginya, memenuhi segala hak nya, jasmani rohani, apalah lagi 11, ya SEBELAS anak, yang waw, bisa alhamdulillah insya Allah sehat, cerdas, kreatif, pintar, dan hey jiwa leadershipnya sudah nampak. Masing-masing anak dengan tanggung jawabnya, dengan kreatifitasnya.

Mungkin ada bahkan banyak keluarga besar di luar sana yang tak masuk tipi seperti mereka. atau mungkin ada yang bilang, “iyalah jelas mereka bisa pinter, jalan-jalan kesana sini karena orang tuanya pengusaha, mampu lah”. Hello, clean up your negativity, please! Iya. Akan selalu ada orang-orang dengan pikiran negatifnya mencari celah untuk masuk, berkomentar, bla bla bla. Kritis beda dong ya sama kata-kata ala haters. Memang, apa-apa yang disajikan televisi, sudahlah pasti telah dipilah dan dipilih. Untuk tujuan tertentu pun. Well, kembali ke otak kita, mau memproses yang baik atau yang jelek mulu.

Kembali ke kesebelasan gen halilintar, sekali lagi yang saya kagumi adalah kemampuan kedua orang tua mereka dalam menjalani tanggung jawab. Menakhodai kapal kesebalasan anak-anak hebat ini. Saya tidak hapal nama-nama dan urutan mereka, hehehe. Yang saya tahu, mereka menginspirasi generasi hari ini, utamanya mewakili muslim-muslimah untuk menjadi agen muslim yang baik di mata masyarakat dunia. Sampai sekarang, mereka masih aktif menebar inspirasi di social media. Pun masih sedikit berdrama di salah satu tv station.

Well, in syaa Allah selalu dalam lindungan keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tulisan ini salah satu bentuk kekaguman terhadap berkah Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Bapak Halilintar dan Ibu Geni, yang masih ada di kepala saya sampai sekarang. Keep istiqomah dalam segala kebaikan yang nampak pun tidak. Saya tidak tahu bagaimana keluarga besar ini di mata kalian yang sedang membaca ini. Biarkan saya tetap dengan kekaguman saya terhadap mereka. Terima kasih sudah membaca 🙂

Jakarta, 1st Day of Happiness Series

 

Rumus dari ‘berserah kepada jalan Tuhan’ memang selalu menghasilkan sesuatu yang manis.

 

Setelah gagal ke Togean bareng teman-teman kece, Allah ‘nyuruh’ saya ke Jakarta. Bismillah. Berangkat tanggal 2 Mei 2016, saya dan teman-teman langsung nyari penginapan deket UI, supaya pagi nya pas kegiatan tinggal jalan kaki or naik angkot ke UI.  Eh, ga ada yang deket. Ada sih, apartemen, di gugel sama instagram katanya harian, pas ngecek ke kantornya, bulanan ding. Bisa sih kalo pake jasa Buk Ibuk calo. Yetapi kan ribet dan ga aman. Akhirnya sama panitia kegiatan kita diarahin ke guest house Fakultas Ilmu Budaya, Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia. Pas liat bangunannya, kok agak-agak suram, sunyi dan dapat lantai dasar pula. Eh pas masuk, gak suram, malah pas buka pintu geser ke beranda samping, Wuih pemandangannya ijo seger. Lumayan lah, standard guest house plus pemandangannya, dituker sama 370K / malam.

 

C360_2016-05-02-17-22-36-072

Rebahin badan, terus  cari makan malam. Skalian langsung nodong Ruddiwan, temen se- SMP dan SMA yang kebetulan kerja di Jakarta, buat datang nengokin temennya ini. Janjinya pulang kantor langsung cuss ke guest house. HHa, jam 9 malem pas udah mau baring-baring manja saking cape nya, dia baru nelp “We, saya sudah di depan”. Ini daerah Ibukota kali neng, dimana waktu banyak diabisin di jalan. Dan saya baru tau pas ngobrol kalo tadi pas pulang kantor sore, dia ke rumahnya dulu, di daerah BEKASI, dan saya di UI, DEPOK. Kalo start di Palu, itu mungkin sama aja dia nyamperin temennya di Pusat Laut Donggala sana.

Ketemu temen lama itu rasanya selalu bikin bahagia. Apalagi pas lagi maen jauh ke kota orang gini. Nyaman saja, di antara orang-orang lain yang tak kau kenal, lalu ada satu orang yang di masa-masa lalu kalian selalu ketemu. Menyenangkan. Nostalgia jaman sekolah, ngomongin lugu dan nakalnya kita-kita dulu, ngitungin teman seangkatan yang udah nikah, sementara kita masih hhaha hihihi.

Ruddiwan ga banyak berubah, kecuali,,, ga ada. Hahaha. Makin dewasa mungkin. Secara dia paling tua di kelas, pas SMA. Dan saya paling muda. Kita sekelas, tapi bedanya 2 tahun pas. Ngobrolin banyak hal dan Kalo ga ditegur security, mungkin kita bisa ngobrol sampe pagi. Jam 00.00 an Ruddiwan pamit pulang. Jangan salah paham ya, kita ditegur bukan karena berisik atau karena karena yang lain. Hanya karena peraturan jam 23.00-05.00 ga boleh nerima tamu. Hahahaa.

 

_20160502_214828

Dan well God, perhaps that I am too serious seeing this life, but what lesson that YOU want to tell me? Bahwa silaturahmi memang berberkah. Begitu banyak orang dalam hidupmu, kalian bertemu, lalu berpisah. Kalian mengingat, sejenak lupa, dan mengenang. Kalian rindu, bertemu lalu kembali rindu.

Hari pertama trip kali ini. Masih ada hari kedua, ketiga, keempat, kelima. Alhamdulillah.

Ayat-Ayat Cinta 2: Ekspektasi dan Opini

Identitas buku

Judul Buku: Ayat-Ayat Cinta 2

Penulis: Habiburrahman El Shirazy

ISBN: 978-602-0822-15-0

Penerbit: Republika

Editor: Syahruddin El-Fikri dan Triana Rahmawati

Cetakan: IV, Desember 2015

Tahun terbit: 2015

Jumlah halaman: 690

Harga: 95.000

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya akhirnya memutuskan buat membawa pulang buku karya Kang Abik ini setelah akhirnya menyingkirkan Jo’s Boys dari tangan saya (Little Women series). Ekspektasi saya sangat besar terhadap lembar-lembarnya yang bertumpuk tebal. Saya ingin mendapatkan rangkaian sentilan, siraman dan ketenangan untuk kepala, hati dan iman saya.

Halaman-halaman pertama saya mulai di ruang tunggu Bandara Juanda dalam perjalanan pulang ke rumah. Fahri menyambut kita, pembaca, di Edinburgh, Ibu kota Skotlandia, yang ternyata adalah tempat impian istrinya, Aisyah. Fahri yang sekarang makin ‘kuat’ secara personal dan akademis. Ia adalah seorang dosen di bidang Filologi, di The University of Edinnburgh. Ph.D nya diperoleh di bidang yang sama dari Albert- Ludwigs-Universitat Freiburg, Jerman. Oh iya di sini Kang Abik menggunakan sudut pandang orang ketiga. Saya suka penggambaran detail setting tempat dalam buku ini. Saya pun akhirnya googling beberapa tempat, the University of Edinburgh, kawasan Stoneyhill, the Central mosque of Edinburgh,  yang betul-betul digambarkan dengan baik.

Tokoh-tokoh yang dikenalkan pun, kebanyakan tokoh baru. Keira, remaja tetangga Fahri yang sangat benci kepada muslim. Adik nya Jason, pun sama. Nenek Catarina, Brenda, Paman Hulusi, Nyonya Janet, Baruch, dll. Selain itu, Paman Akbar, Misbah, Syaikh Ustman pun masih ‘menemani’ Fahri. Hidup Fahri pun akan berkisah bersama mereka.

Fahri, dalam buku ini betul-betul digambarkan sebagai lelaki tanpa cela menurut ukuran manusia. Ia sukses dalam karir di Edinburgh sebagai dosen yang diakui ilmu dan kemampuannya, bisnisnya pun berjalan lancar dan berkembang, kedermawanannya terhadap sesama, tak ketinggalan, Ia tetap memberikan kajian di perkumpulan muslim di UK, pun hafalan Qur’an tetap tak ditinggalkan. Sayangnya, dengan semua yang dimiliknya, ternyata Ia hidup tanpa Aisyah. Aisyah hilang! Fahri harus selalu meneteskan air mata ketika mengingat istrinya tercinta. Why Aisha disappeared and how Fahri fill his days while waiting Aisha that he believes will return? Just read the book 😉

Pastinya desakan untuk segera menikah lagi datang dari kerabat-kerabat Fahri. Satu dua wanita pilihan ditawari sebagai pengganti Aisyah.

Well. Buku ini tentang Islam, kasih sayang, kehidupan, perjuangan dan cinta. Banyak juga pelajaran tentang sejarah Islam dan keadaan Islam sekarang yang saya baru tahu. Kang Abik menyelipkan pelajaran-pelajaran itu ke dalam dialog-dialog dengan cukup baik. Fahri yang harus ‘menjawab’ dan ‘melawan’ paham islamophobia di sekitarnya pun menjadi bagian menarik yang bisa dicontoh oleh kita. Puncak dari pemikiran besar dalam novel ini adalah pada debat prestisius di Oxford Debating Union yang diikuti Fahri sebagai seorang pakar Islam Timur Tengah dan Asia Tenggara. Jujur saja, tentang content, ilmu dan pandangan Kang Abik tentang phenomena islamophobia, saya bisa banyak belajar. It adds my islamic knowledge and values.

Hanya saja, sebagai pembaca yang butuh sesuatu yang move, and pause my brain at the same time, I couldn’t find it. Mungkin subjektif, kalau menurut saya alur ceritanya datar-datar saja, penggunaan kalimat yang terlalu biasa dan too eksplisit, saya tidak merasakan sesuatu yang mengharukan dan bisa membuat saya tiba-tiba diam, mengulangi lagi dan lagi. Tebakan saya tentang apa yang akan terjadi pun ternyata tidak salah. Endingnya juga. Ya. Sama.

Sekali lagi, ini menurut kacamata saya. Saya juga membaca beberapa buku Kang Abik. Saya kagum dengan ilmu serta pandangan beliau tentang  agama, cinta, kasih sayang dan kehidupan yang luar biasa. Terima kasih untuk buku yang tetap mengajarkan dan menebarkan banyak kebaikan, semoga bernilai berkah, in syaa Allah. Aamiin.

1453550704931

 

Selamat membaca

 

Smile from A Smiler

One thing that I love to see from other people is their smile. It’s something precious that someone can give freely. It can be seen and felt. I talk about sincere smiles that sent by heart and felt by heart, too. It is calming and relaxing. People who love to smile indicate that they are happy. They transferred positive vibes that people need days by days.

Smiling makes someone look positively attractive. Researchs have proven that people become more attractive when they are wearing smile. Smile is also good for our health. It is one of effectife exercises for face. Why? Because when we smile, bloodstream around our face becomes more smoothly and thousands of nerve move spontaneously. This causes the muscles and skin of our face tightened, thus it reducing wrinkles. Stay young with smile.

As social beings, people love to be respected and appreciated. Smile is the easiest thing to show our respect. The sincere one, not the fake. We can feel it. There is something special with sincere smile. It’s like, the eyes also smile. It can change our feeling, turn to something we can’t express. Dr. Aidh Al-Qarni says, “That smile is something beautiful, engaging, fun and exciting. Someone who sees people smiling will feel peace and his heart filled with coolness.”

 

smile (2)

            When you’re smiling, no doubt it simply makes you better. Research has shown that smiling releases serotonin – a neurotransmitter that produces feelings of happiness and wellbeing. It’s like a circle of happiness, you feel happy and you smile, smile and you feel happy!

So, just be a smiler to keep the happiness inside and spread it outside, people!

 

(ameliayuni, Jan 2016)

 

smile (1)
Smile, you are beautiful.

 

*some parts are quoted, edited and translated from some sources.

Blog at WordPress.com.

Up ↑