Wait! Is That A Joke?

Beberapa hari lalu, di grup whatsapp teman jaman SMA, salah seorang teman saya mengirim satu foto. Sayangnya, foto tersebut bukan hal  yang layak dan patut untuk dilihat, kecuali oleh segelintir orang yang menganggapnya biasa saja. Bahkan si pengirim dan satu teman saya lainnya terang-terangan mengirim emoticon tertawa dan menganggapnya sebagai bahan bercandaan.

Dan foto tersebut ( maaf- perempuan yang kelihatannya sedang duduk dan memilih apel, dan bagian bawahnya kelihatan, entah benar atau editan, dengan caption “Saya jual apel, siapa yang minat?” Sementara ybs memang tidak sedang menjual apel ) bukan yang pertama kalinya dikirim oleh ybs. Sebelumnyapun, beberapa minggu sebelumnya ybs mengirim candaan foto dan video serupa. I just can’t understand it. He is a father. He has a wife. He has kids. And he thinks it’s a normal thing to do, and it’s JUST A JOKE! Dirty jokes for some people are really a joke. Hufh.

Dirty jokes, sayangnya sering kita jumpai. Tidak hanya pada orang dewasa, remajapun. Ets, tunggu dulu, bukannya terbiasa ketika dewasa, adalah bertahun-tahun terbiasa sebelumnya?

Membercandai hal-hal privasi, menyerempet ke hal-hal porno ataupun seksis, adalah mungkin konsumsi kaum laki-laki saja, bahkan mungkinpun tidak semua laki-laki menyukai dirty jokes. Tapi, lantas mengirimnya di grup kumpul-kumpul teman sejak SMA, yang di dalamnya ada seorang ibu, seorang ayah- yang juga memiliki anak perempuan- dan banyak wanita yang menutupi auratnya,, Hei, kemana penghargaannya? Tidakkah terpikirkan oleh para dirty jokers ini  bagaimana jika keluarganya bisa saja menjadi objek dari dirty jokers lainnya? Pak, Seeing women as objects of your dirty jokes is not funny at all.

Satu teman saya, seorang perawat, mengungkapkan kekecewaan dan kekesalannya kepada pengirim foto tsb, dengan bahasa yang sopan. Disusul saya sendiri, dengan hormat menyilahkan ybs untuk membuat grup sendiri jika ingin share hal serupa. Lalu, satu lagi, perempuan juga, menjadi penetral yang mengingatkan ybs untuk menyadari kesalahannya. Dan apa reaksi ybs?  Ia meminta maaf , saling menyalahkan dengan satu orang yang di awal tadi juga ikut tertawa, mencandai lagi beberapa tanggapan kami dan ujung-ujungnya“ Grup ini sudah terlalu serius, sudah ndak sama dengan waktu SMA. Sudah serius semua” (Dude, Please! Tempat main terus itu di TK kan ya?)

Sampai akhirnya ketua kelas (yang sekarang sudah jadi ayah satu anak perempuan) dan beberapa teman cowok lainnya ikut bersuara dengan bijaknya, menegur ybs. Closed. Satu teman akhirnya left dan teman yang lain mengirimi quiz untuk menetralisir suasana. Dan ybs? Diam saja. Tak lagi bersuara. Semoga saja sedang benar-benar menyadari kesalahannya.

Saya tidak sedang menjelekkan ybs. Yang saya garisbawahi adalah sikapnya. Perlakuannya sejak melempar dirty jokes di grup dan tanggapan-tanggapannya. Dan sejak SMA, ybs memang lebih banyak ‘bermain’ nya. Apa yang semakin saya pahami dari satu kejadian yang mungkin kita sering alami sehari-hari ini adalah karakter. Terbentuk sejak bayi bahkan dari dalam kandungan, dalam pengasuhan orangtua , serta lingkungan pergaulan bertahun-tahun tidak akan simsalabim berubah hanya karena seseorang itu sudah menjadi orangtua, menjadi ayah, menjadi ibu. Seseorang tidak akan langsung bisa memahami jika ia tidak pernah mau belajar. Seseorang tidak akan seketika menjadi bijak jika mendengarkan saja ia tak mau. Dan seseorang tidak akan menjadi dewasa hanya karena umurnya bertambah. Banyak hal bukan hanya butuh waktu, tapi kesadaran. Semoga Tuhan  dengan KeMaha-Baikkannya selalu memberikan kita kesadaran untuk belajar.

Dan dirty jokes, yang dianggap biasa oleh segelintir orang adalah, pelecehan seksual terang-terangan, di depan umum dan parahnya pelakunya tidak menyadari apa yang ia lakukan adalah bagian dari melecehkan. Dengan menegur ybs, dengan menulis ini, saya tak mengapa dicap terlalu serius, daripada tidak mau berpikir dan merasakan. Semua ada pertanggungjawabannya kan, nanti?  Mari terus belajar, bersuara, berani menegur orang sekitar yang melemparkan candaan yang seksis, porno dan mengarah ke fisik, bagian tubuh kita. Mari mengusahakan sesuatu yang baik dan sehat, dimulai dari diri sendiri, untuk generasi.

 

Serious

Advertisements

Motor Baru Bapak Buat Siapa?

KTP Klaten
foto: ilustrasi

 

Bapak I : Eh, Si (sebut saja) Joni barusan beli motor, tapi bukan buat mai tua nya (baca: istri nya). – dengan intonasi serupa mengabarkan hal bahagia, karena sambil sedikit tertawa.

 

Bapak II: Hah, maksudnya? (Belum paham maksud Bapak I, temannya)

 

Bapak I: Iya. Dia bakredit motor, tapi bukan buat istrinya. Kong pake namaku. Sering lambat bayar. Jadi, tiap datang orang finance batagih ke rumah, saya juga pigi batagih ke rumahnya. Huu marah-marah istrinya.   ( Iya. Dia ngredit motor, tapi bukan buat istrinya. Terus pake namaku. Sering lambat bayar. Jadi tiap orang finance nagih ke rumah, saya juga nagih ke rumahnya. Istrinya marah-marah).

 

Bapak II: Astaga…

 

Bapak I: Kong istrinya tanya, “kenapa juga komiu mau disuruh pake namanya komiu? Baru, mana de pe motor?”   ( Trus istrinya nanya, “Kenapa sih mau disuruh pake nama bapak? Trus, motornya mana?”)

 

Bapak II: Jadi, apa komiu bilang? ( komiu: kamu versi sopan dalam bahasa lokal sini, Kaili)

 

Bapak I: Saya bilang ya saya ndak tau motornya di mana.

 

 

Percakapan dua bapak dalam antrian di belakang saya, di kantor dinas Dukcapil Sulawesi Tengah, pagi tadi. Saya tidak nguping ya. Suara mereka saja yang kedengaran telinga saya. Lalu setelahnya, saya menghela nafas. Motor baru bapak buat siapa? Berat. Berat. Berat.

Oh Lisan.

“ Loh, sekarang ga kerja? Di rumah aja jadi ibu rumah tangga? Sayang dong ijazahnya”

“ Baru 3 bulan? Kok udah gede banget perutnya”

“ Umur segitu kok belum nikah? Kebanyakan milih-milih yaa”

 

Dan mungkin masih banyak pertanyaan lain yang si penanya ga sadar or even pun sadar sudah menyakiti perasaan yang ditanya. Banyak dari kita yang mungkin sering mendengar pertanyaan-pertanyaan serupa ini, atau jadi objek penanya atau bahkan justru jadi penanya.

Saya beranggapam, bisa jadi si penanya berpikir dan merasa pertanyaannya biasa-biasa saja, sesuai fakta. Tapi ia lupa, pikiran dan perasaan orang tak semua sama. Si penanya pun mungkin tak sadar, ia menanyakan sesuatu yang telah diikhtiarkan oleh orang lain sebaik-baiknya. Atau si penanya mungkin tak punya hati, sehingga tak bisa memposisikan dirinya jika menerima pertanyaan yang sama.

Salah seorang teman saya, beberapa bulan lalu mengungkapkan rasa bahagianya ketika hamil sekitar dua atau tiga bulan dengan mengupload foto hamilnya. Sangat terlihat bahagia. Dan kebahagiaan itu diganggu dengan komentar, “ tiga bulan? Kok udah besar gitu?” Pertanyaan itu bukan hanya dari satu komentar, beberapa. Yaa Allah, tidak berada di posisi teman saya, bukan berarti saya tidak bisa memahami perasaannya membaca komentar-komentar ‘tak penting’ itu.  Ketika kita bahagia dengan satu hal, lalu orang lain tiba-tiba merusaknya. Apalagi sepemahaman saya yang terbatas, ibu hamil lebih sensitive, emosinya tidak stabil. Tidak bisa kah kita cukup ikut berbahagia juga? Memberinya selamat dan doa saja? Kalaupun kita merasa ada yang tidak biasa, simpan saja, toh pertanyaan-pertanyaan seperti itu apa manfaatnya? Belum tentu benar dugaan kita, tapi sudah tentu menyakiti perasaan objek tanya.

Balasan teman saya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu masya Allah, ia ungkapkan dengan sabar. “Oh iya, bawaan badan ibunya”. Sampai, qadarullah, ia dan suami harus merelakan anak yang dikandungnya pergi di bulan kelima. Ia sedih luar biasa. Berbaris-baris kalimat dalam postingannya yang menceritakan bagaimana cintanya ia perjuangkan, anaknya yang tumbuh bersama miom, ia usahakan yang terbaik dengan dokter terbaik, penjagaan luar biasa, doa-doa yang dilangitkan mengalahkan rasa sakit fisik dan mungkin hatinya sebagai seorang perempuan, seorang ibu. Pertanyaan-pertanyaan ‘nyinyir’ pun terjawab. Dengan sangat sabar dan stabil kalimat-kalimatnya menjelaskan tiap sakit, tiap usaha, tiap sabar dari suami, keluarga, dirinya dan Allah sebagai jawaban “kok udah gede gitu perutnya?” Semoga Allah berikan ganjaran terbaik untuk sabarnya.

See? Sebelum bertanya, mari kita berpikir berkali-kali, apakah pertanyaan kita perlu? Apakah pertanyaan kita benar? Apakah kata-katanya tidak menyakitkan? Kalau ketiga jawabannya tidak-tidak-ya. Maka, tahan lidah kita. Lisan kita mungkin memang tak untuk senangkan semua telinga, tapi juga bukan untuk menyakiti hati lainnya. Marilah, jadi orang baik yang terjaga lisannya.

Dari Abu Musa, beliau berkata: “Wahai Rasulullah siapakah muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “Muslim yang paling baik adalah muslim yang selamat muslim lainnya dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

2c0b97ee8343f1d670432f8a3cc7b55f--proverbs--words-hurt

Saya Psikolog, Saya Depresi dan Ingin Bunuh Diri

Baru-baru ini, lagi, kasus bunuh diri tergaungkan dengan dahsyat di seluruh dunia. Orang besar dengan capaian karir yang luar biasa, mengakhiri kehidupan di tangannya sendiri.

 

Coba kita jujur pada diri sendiri.

Apa yang pertama terlintas ketika mendengar cerita tentang orang yang bunuh diri.

Tanggapan yang banyak terdengar adalah komentar-komentar negatif.

Penghakiman pada si pelaku, penghakiman atas perbuatannya, penghakiman atas sikap dan perilaku, bahkan sampai penghakiman atas kualitas agamanya, kualitas imannya.

Tiba-tiba saja ramai kalimat-kalimat negatif

“Berdosa sekali orang itu!”

“Pasti ilmu agamanya kurang”

“Bunuh diri kan dosa”

“Kasian ya padahal dia sudah memiliki banyak hal”

“Kasian ya dia, gak tahu bersyukur kayaknya”

“Cepat sekali menyerah”

dan serangkaian kalimat lainnya yang berusaha untuk mengasihani sekaligus mencibir perilaku itu.

 

Jika hanya demikian yang mampu kita lakukan, kita tidak akan mampu mencegah perilaku bunuh diri. yang terjadi, kita akan semakin menambah jumlah-jumlah pelaku bunuh diri. Mengapa? Karena kita turut serta mem-publish penghakiman terhadap orang-orang yang mungkin dalam tahap jatuh dan berkeinginan bunuh diri. Mengapa demikian? Mari kita lihat pelan-pelan.

Bunuh diri adalah bentuk perilaku dari gangguan Depresi Berat. Gangguan ketika dunia terlihat sangat kelam, yang membuat individu kehilangan harapan, tujuan dan kekuatan untuk tetap bertahan hidup. Baginya, dunia sudah sedemikian “jahat” kepadanya sehingga Ia merasa kehilangan kesempatan bertumbuh dengan baik di dunia. Gangguan ini sayangnya bukan hanya sekadar keyakinan begitu saja, gangguan ini dapat menjadi keyakinan mendalam atau “Waham”.

 

“Saya teringat bagaimana perjuangan saya sendiri menghadapi masa depresi dengan keinginan bunuh diri yang sangat kuat. Waktu itu semua terjadi begitu saja. 2016 adalah pencapaian karir gemilang saya, keuangan dan materi. Hingga akhinya di pertengahan tahun sekitar bulan Juli, ketika saya bertengkar kecil dengan saudara sepupu saya, ‘kejatuhan’ itu tiba-tiba terjadi begitu saja. Pertengkaran itu sangat sepele, bahkan teman-teman saya bisa menertawakan saya jika mendengar cerita itu , tetapi entah mengapa dampaknya begitu dalam di kehidupan saya”. 

Akhir bulan Agustus merupakan awal mula penderitaan saya. Awalnya, saya belum paham jika penderitaan ini adalah depresi. Saat itu, saya mengalami kesulitan tidur dan ketegangan terus-menerus. Ada waktu di mana, malam adalah masa yang menakutkan dan melelahkan. Terkadang gejala fisik yang muncul membuat saya kehilangan seluruh energi hidup saya.

Memasuki bulan September, keadaan semakin runyam. Hidup mulai terasa membosankan, pencapaian serasa tak bermakna, keuangan pun serasa tak berguna. Emosi saya menjadi sangat labil, mudah marah, mudah tersinggung dan merasa kecil hati. Ada apa dengan diri saya? Saya mulai yakin kalau ada yang tidak beres dengan diri saya, jiwa saya dan kehidupan saya. Saya mulai menyadari kalau saya mengalami Depresi.

Gangguan itu sempat meredup ketika pada akhir september mobil impian saya berhasil terbeli. Hari pertama memilikinya, hidup saya mulai terasa bermakna, terasa memiliki motivasi, mudah tersenyum dan terlihat bahagia. Hari kedua perasaan itu mulai berkurang dan di hari ketiga, serasa semua itu tak berguna lagi. Tiba-tiba saya melihat mobil bukan suatu pencapaian. bukan suatu hal yang membanggakan. Sementara di lain pihak, saya semakin banyak mendengarkan bagaimana orang-orang memuji keberhasilan saya. Namun, saya sendiri tak bisa merasakan keberhasilan itu.

Ada begitu banyak gejolak yang tiba-tiba hadir di bulan itu. Gejolak emosi dan ketakutan akan kesendirian, kehilangan, kegagalan, yang saya tidak mengerti mengapa muncul namun sangat menganggu.

Saya sering menangis tanpa sebab di malam hari. Rasa kantuk yang luar biasa tidak pernah terpenuhi lagi. Setiap saya memejamkan mata, perasaan yang hadir adalah kesendirian, kesedihan dan ketakutan. Rasa itu ibarat vacum cleaner yang menyerap seluruh jiwa saya ke dalam ruang kegelapan hingga tiba-tiba saya kesulitan bernafas dan menangis sejadi-jadinya. Pada titik itu, hanya kematianlah rasanya obat yang berharga.

Tak ada teman, tak ada sahabat, tak ada siapapun yang tahu apa yang terjadi dengan saya. Ketika waktunya beraktivitas di pagi hari, saya berusaha beratus-ratus persen untuk tampak baik-baik saja. Ketika saya harus profesional di kantor bekerja sebagai konselor, saya harus memaksa diri untuk mendengarkan dan memahami orang lain, dan pada titik tertentu, setelah melayani pasien, saya akan jatuh dan menangis sejadi-jadinya. Semua itu saya pendam seorang diri. saya tidak mau diketahui oleh siapapun. Orang-orang di luar masih melihat saya hebat, kuat dan pekerja keras. Mereka masih bisa melihat tawa yang saya hadirkan untuk menutupi rasa sedih saya. Setiap siang saya tampak baik-baik saja, tetapi setiap sore hingga subuh saya sangat menderita.

Oktober adalah bulan terberat berikutnya. Gangguan itu semakin menjadi. Ketakutan untuk tidur sendiri semakin parah. Saya takut kesendirian, saya takut ketika semua orang pergi dari sisi saya. Dada saya bergemuruh ketakutan, nafas saya sesak seperti ditekan beban yang sangat berat. Asam lambung saya meningkat yang membuat tenggorokan saya sakit seperti terbakar. Saya mulai sadar bahwa depresi saya semakin berat dan saya mesti mencari cara mengatasinya.

Pada titik itu, saya memutuskan mencari Tuhan dan bersandar di pangkuanNya. Keputusan itu ditandai dengan saya tinggal setiap malam di tempat ibadah bersama seorang sahabat baru yang bernama Angga.

Meskipun saya memiliki Angga sebagai sahabat, saya masih enggan bercerita dan diam seribu bahasa. Saya tidak mau dia mengetahui kalau saya sedang terganggu dan memiliki masalah berat. Bukan hanya Angga, kepada semua sahabat pun demikian. Saya tidak ingin mereka tahu, karena saya takut mereka akan pergi dan meninggalkan saya begitu saja. Ada titik dimana saya berharap mereka yang memahami lebih dulu kondisi penderitaan saya. Begitu labilnya emosi saya.

Kehadiran Angga sebagai sahabat dan rumah ibadah itu mampu membuat saya sedikit lega. Setiap jam 8 pagi sampai dengan jam 4 sore, saya beraktivitas di kantor, berusaha profesional meskipun perasaan saya sebenarnya naik turun antara sedih dan memaksa kuat. Jam 4 sore adalah pertanda kiamat bagi saya karena saya akan sendiri dan berpisah dari manusia-manusia di sekeliling saya.

Saya harus segera ke rumah ibadah untuk sembahyang dan menangis sepuas-puasnya di hadapan Tuhan. Ketika malam hari, Angga hadir untuk menemani. Sekedar bercerita atau bertukar kisah satu sama lainnya.

Saat waktunya tidur, ketakutan dan kesepian itu merajalela. Saya menangis lagi, marah lagi, sesak nafas, sakit perut, dan kelelahan. Angga yang tidur di samping saya menjadi tempat menangis hingga tertidur pulas.

Pada saat itu, saya jadi begitu membenci suara Adzan Subuh (bukan membenci Adzan itu sendiri) yang membangunkan tidur saya. Kondisi jiwa yang labil dan sensitif membuat saya emosi dengan suara itu. Bagaimana tidak, memulai tidur saja saya sulit, lalu saat sudah tidur, suara Adzan tiba-tiba membangunkan saya. Sementara saya terbangun, tak ada satu pun manusia lain yang terbangun di kamar itu termasuk Angga.

Yang terjadi kemudian adalah, air mata terus mengalir, ketakutan dan ketakutan, kesedihan mendalam hingga perasaan tak berguna. Di setiap subuh itu, dunia bagi saya adalah hitam, kelam, dan penuh dengan kesedihan, dunia menjauh dari saya, saya dibuang dalam kesendirian. Saya merasa Tuhan kejam.

Mengapa orang-orang lain seperti pasien pecandu saya masih mendapatkan teman untuk membantu mereka, untuk mendengarkan mereka, sementara saya menghadapi semua ini sendiri. Tak ada orang ataupun teman yang memahami kondisi saya, mengapa mereka bisa jadi sangat bodoh hingga mudah tertipu oleh tampilan luar saya.

Saya membenci semua teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, saya meyakini bahwa saya memang diciptakan sendiri dan tak ada yang peduli dengan saya. Itulah isi pikiran saya setiap subuh yang membuat air mata terus mengalir. Pada saat itu, yang saya butuhkan adalah : bahu untuk bersandar, pelukan untuk menghangatkan serta meyakinkan saya bahwa semua baik-baik saja. Tetapi saya tak mendapatkannya dari siapa pun pada saat itu.

Di akhir Oktober, saya sudah tidak sanggup lagi dengan semua gangguan ini. Saya memutuskan untuk menceritakan semua hal tentang masalah saya kepada Angga, dan dua sahabat saya, Erik dan Yuni. Setelah saya menceritakan semuanya, mereka sangat terkejut. Ada kelegaan tersendiri ketika dapat menceritakan kepada mereka. Padahal bercerita bukan hal yang mudah, teman. Saya harus mengumpulkan keberanian dan keyakinan di tengah fase depresi bahwa mereka tidak akan meninggalkan saya.

Suatu hari saat gangguan semakin parah, saya menjadi sangat sensitif. Saya ingat ketika itu, Angga mengatakan kalimat “Lihat nanti ya, Kak.” Ketika saya memintanya untuk menemani tidur lagi. Saat itu, saya merasa bahwa Angga jahat dan berniat meninggalkan saya setelah dia tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Sambil menyetir mobil, air mata mengalir deras di pipi saya. Tiba-tiba dunia sangat hitam, yang ada hanya kalimat-kalimat “Kamu sendiri, kamu tak berguna, kamu mati saja” dan Yaaa kata terakhir itu menjadi tujuan akhir saya. Saya melihat truk di depan mobil saya dan saya memutuskan menginjak gas dalam-dalam. Di detik-detik saya akan mengakhiri hidup saya, HP saya berbunyi, Erik tiba-tiba menelfon dan menganggu rencana itu. Dia seperti paham sesuatu terjadi dengan saya, dia hanya mengatakan agar saya segera ke rumahnya detik itu juga, dengan kalimat paksaan yang harus saya penuhi.

Setiba di rumah Erik, saya menumpahkan semua tangisan saya. Menceritakan semua ketakutan, kemarahan, kesedihan, kejengkelan, dan rasa putus asa saya. Tahu kah teman-teman apa yang Erik lakukan, dia hanya diam mendengarkan saya sambil sesekali mengatakan “Iya Tu, kamu tahu dari mana, oh begitu, kau ini sedih sekali ya” Dan saya terus bercerita tentang kesedihan saya. Saya mendengar dia berkata “Kau tenang saja, saya selalu ada buat kau, apa pun yang kau mau, saya bakalan bantu kau, kau mau tinggal di rumah ini, silahkan!”

Dan kalimat itu adalah multivitamin yang berharga untuk saya. Tiba-tiba perasaan saya dipenuhi dengan rasa damai dan keyakinan bahwa saya tidak sendiri. Erik membuat saya tertidur dengan tenang dan mimpi yang indah.

Erik dan Yuni kemudian mengajak saya untuk menikmati pantai yang indah. Di sana keduanya hadir bukan untuk mencerahami saya, memarahi saya, menegur saya, apalagi menertawakan kebodohan saya. Mereka pun tidak menghakimi derita saya, apalagi menghinanya. Mereka hanya mendengarkan, mereka hanya hadir, hanya memberikan kehangatan melalui senyuman dan tawa yang tulus. Mereka membiarkan saya tidur di pasir pantai yang dingin, menemani saya melewati masa-masa ini. Perlahan tapi pasti, gejala gangguan depresi itu mulai mereda, kehadiran mereka seperti memastikan bahwa di tengah dunia yang gelap, masih ada orang-orang yang mencintai saya.

Angga juga demikian, tak pernah ada semalam pun tanpa dia menemani saya untuk tidur. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi dia selalu ada di saat saya akan memejamkan mata. Dia juga selalu ada saat saya terbangun. Dia tidak melakukan apa-apa untuk membantu saya melewati masalah ini selain hanya di samping saya, menemani saya tidur.

Saya juga merasakan kehadiran Tuhan dalam energi yang tiba-tiba hadir dalam masa-masa jatuh dan keinginan untuk bunuh diri. Ada masa ketika saya merasa Tuhan hadir memeluk saya, meski dalam beberapa masa yang lain, saya juga merasa justru Tuhan yang meninggalkan saya.

Tetapi satu yang pasti, keinginan untuk mengakhiri hidup saya adalah tetap obat yang selalu saya ingin lakukan. Terutama saat malam. Puncak di hari selasa di minggu akhir oktober itu. entah mengapa, seluruh fisik saya sakit, gemetaran, saya kehilangan nafsu makan, emosi saya meledak-ledak, tetapi tidak mampu diekspresikan, kemarahan membesar yang membuat saya sangat sedih, ketakutan yang membuat saya bahkan tak mampu berdiri lagi. Saat itulah, Eriek hadir lagi dan mengajak saya untuk ke psikiater

 

“Put, saya tahu kau psikolog hebat, tapi kau butuh orang lain, kita ke psikiater besok. Besok malam, saya antar ke sana”

Ya dan esoknya saya ke psikiater. dokter memberi saya obat anti depresan, yang membuat saya tenang dan mengendalikan emosi saya. Saya meminum obat itu hingga 4 hari setelahnya. Hingga tepat hari kelima, saya dilarikan ke rumah sakit karena SGOT dan SGPT yang naik berkali-kali lipat dan divonis hepatitis B akut.

Dokter merawat saya dengan intensif. Dua hari perawatan, kondisi saya semakin drop dan yang terpikirkan waktu itu hanya satu orang yaitu, sahabat saya di Jogja yang bernama Wayan.

Bapak saya pun menerbangkan dia dari Jogja ke Palu untuk menjenguk saya. Sesaat sebelum dia datang, nilai SGOT dan SGPT saya sampai 690 dan 696. Malamnya ketika Wayan datang, saya memintanya untuk memeluk saya. Dia hanya hadir dalam sebuah pelukan, lalu mengatakan semua baik-baik saja.

Keesokan harinya, nilai SGOT saya turun hingga 140, SGPT saya turun 500. Dokter kemudian merujuk saya ke Jogja untuk mendapatkan perawatan medis intensif dan perawatan psikologis bersama sahabat-sahabat saya.

Ya, sahabat-sahabat saya menerima saya apa adanya. Mereka tahu saya Psikolog Klinis yang mestinya paham bagaimana menerapi dan mengatasi masalah Depresi. Mereka tahu karir saya sedang baik-baiknya, pencapaian saya sedang tinggi-tingginya. Mereka tahu kemampuan saya, tetapi, saya bersyukur mereka tahu bahwa saya juga manusia yang sedang belajar.

 

Di lain pihak, banyak yang bertemu dan melihat kondisi saya mengajukan berbagai pertanyaan klasik

“Apa sih yang kurang dari kamu?”

“Apa yang membuat kamu stres? Kan semua sudah ada?”

“Jangan terlalu banyak mikir! Emang mikir apa sih?”

“Kamu loh udah berhasil? Apa lagi yang kau cari?”

 

Bisa terbayang bagaimana saya harus menjawab pertanyaan itu, sedangkan saya sendiri kurang memahami bagaimana gangguan ini terjadi dan apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup saya.

Saya saja yang berprofesi sebagai Psikolog-yang sedikit banyak sadar tentang gangguan ini-mendengar pertanyaan itu terasa sangat menyesakkan dan merasa bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang tidak punya perasaan, lantas bagaimana orang awam yang tidak paham dengan gangguan ini?

Saya membayangkan mereka mungkin mengalami kesedihan dan tekanan yang sangat dalam. Jika ide bunuh diri datang, maka segera dapat dieksekusi. Pun jika harus kuat, orang-orang itu hanya akan berpura-pura kuat dengan lari dari masalahnya.

Beruntung, Angga, Wayan, Erik, dan Yuni, hadir bukan sebagai sosok penanya. Mereka hadir sebagai sosok sahabat yang mendekap saya. Ketika saya terjatuh, mereka tidak banyak bertanya mengapa saya jatuh, mereka juga tidak memaksa saya untuk bangun dengan cepat. Mereka hadir menemani dan memahami saya, tanpa banyak bicara, tanpa banyak penghakiman. Ya HANYA HADIR, yang selalu meyakinkan saya bahwa mereka selalu ada. Untuk saya.

Kehadiran mereka, membuat saya kuat melewati masa depresi itu. Perlahan, saya mengikuti berbagai pengobatan hingga akhirnya saya dapat kembali berfungsi optimal.

Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari kejadian ini.

Pertama : Saya semakin belajar ke dalam, untuk menemukan hal-hal / konflik / luka / traumatis apa yang masih terdapat dalam diri saya sehingga gangguan depresi ini harus saya derita.

Kedua : Saya belajar menikmati rasa sebagai seorang yang depresi. Dengan demikian, saya dapat membangun perasaan empati dan kepedulian besar terhadap gangguan ini.

Mengapa Saya menceritakan kisah saya ini, agar siapa pun yang membaca mampu memahami isi dari pikiran, perasaan dan perbuatan dari orang dengan gangguan depresi berat.

Saya menyadari bahwa gangguan ini dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Celakanya, banyak yang baru mengetahui atau menyadari kalau dirinya terganggu setelah berbagai penyakit muncul atau hingga bunuh diri. Perilaku bunuh diri itu sendiri kemudian dicaci dan dimaki sebagai perbuatan yang paling berdosa.

Coba tengok sejenak, berapa banyak lagi informasi di media yang memberitakan semakin banyaknya orang bunuh diri, dan coba juga lihat hanya beberapa orang saja yang berkomentar secara bijak. Bahkan lebih parah lagi, ada redaksi-redaksi yang justru menyiratkan bahwa seseorang yang bunuh diri itu memang lemah dan tidak menghargai hidupnya (di pojokan).

Jika redaksi seperti itu dilihat dan dibaca oleh orang-orang yang sedang depresi, sangat mungkin mereka akan meniru perilaku yang dituliskan dalam redaksi pemberitannya. Dan akhirnya perilaku itu saling berantai karena menjadi tren pemberitaan.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya mencoba mengajak pembaca bukan untuk memaklumi perilaku bunuh dirinya, tetapi untuk memahami bahwa Bunuh Diri itu adalah keputusan dalam gelapnya dunia yang justru semakin diperparah oleh tak adanya orang-orang sekitar yang hadir dan ada untuk mereka.

Mari Mengenali Depresi. Mari Memahami Depresi, Mari MEMBANTU mereka yang Depresi. Sederhana, cukup HADIR DENGAN TULUS saja kepada orang tersebut, tanpa harus menghakimi atau mengata-ngatainya. Jika gangguannya semakin membahayakan, bantu dia menemukan profesional helper yang dapat menolongnya dengan benar.

Mari kita membuat redaksi pada kejadian-kejadian Bunuh Diri bukan dengan menceritakan dan memojokkan masalah mereka. Mari kita menmbuat redaksi pada kejadian-kejadian bunuh diri dengan penuh empati dan meyakinkan pada penderita depresi lainnya agar segera mencari pertolongan kepada sahabat, orang terdekat dan profesional helper.

Mari kita belajar memahami bahwa depresi bukan serta merta gangguan karena orangnya tidak beragama / imannya tidak kuat. Kita tidak pernah tahu, bagaimana ia selalu menyebutkan nama Tuhan atau sangat dekat dengan Tuhan dalam melewati masa depresi itu. Kita juga tidak pernah bisa mengukur bahwa depresi terjadi karena ia kurang ikhlas atau berserah pada Tuhan. Ya semua kemungkinan itu ada, tetapi kita harus paham bahwa depresi adalah gangguan yang melibatkan BIOPSIKOSOSIAL SPIRITUAL. Jadi gangguan itu bisa terjadi karena permasalahan biologis dalam tubuh, permasalahan psikologis, permasalahan sosial-ekonomi, dan permasalahan spiritual, interaksi diantara itu, atau interaksi keempatnya.

Sekali lagi, mari memahami depresi hingga Bunuh Diri sebagai permasalahan yang harus kita sikapi dengan Empati, kepedulian untuk membantu dan penghargaan kepada mereka yang telah kehilangan penghargaan itu sendiri. Mari Mencintai Mereka yang Hidup Tanpa Cinta.

Mari MENCIPTAKAN DUNIA YANG INDAH bagi sesama kita. Saling mencintai sesama kita, saling menebar benih kebahagiaan, dan terus menerus mengeksplorasi nilai-nilai kemanusiaan dalam diri kita.

Kapan pun dan di mana pun, anda menemukan orang-orang yang perlu dibantu atau bahkan Anda sendiri silahkan menghubungi :

www.sejenakhening.com di Palu.

Semoga kita semua dapat terbantu dan bertumbuh bersama.

 

Salam penuh cinta, penuh kedamaian.

 

I Putu Ardikayana.

 

Ini adalah kisah sahabat saya. Semoga kita mampu memahami diri sendiri terlebih dulu, lalu mampu memahami orang lain dengan sama baiknya. Memahami seperti apa itu depresi dan membantu penderitanya.

 

 

I

 

 

 

Krisis Sosok Ayah

Taufik Noor, seniman keren punya Jogjakarta di instagramnya pernah ngepost kurang lebih begini “ Coba tonton video ini, dan dengar apa yang Mas Eross katakan. Lalu pandanganmu tentang cinta, keluarga dan lagu-lagu SO7 akan berubah.”

Apa yang ingin  ‘dibagikan’ Mas Eross sejalan dengan apa yang pernah diceritakan oleh sahabat saya.

“Kita krisis sosok ayah” katanya.

“Maksudnya?” Saya bertanya.

“Iya. Indonesia, tepatnya anak-anak Indonesia mengalami krisis sosok ayah. Sosok ayah identik dengan pencari nafkah dan pemimpin dalam keluarga. Ia tegas, kaku, dan cenderung canggung dalam hubungan emosional dengan anak. Padahal peran ayah dalam mendidik anak secara emosional pun akan sangat berpengaruh penting kepada perkembangan kepribadian anak. Tahu tidak, anak laki-laki yang kehilangan sosok ayah akan berdampak pada rendahnya harga diri anak, kesulitan identitas seksual, lemah dalam ngambil keputusan. Dan untuk anak perempuan, kehilangan sosok ayah dapat menyebabkan kesulitan mengetahui dan menentukan pria yang tepat untuk jadi pasangan hidupnya.” Ia menjelaskan panjang lebar

“ Hilangnya sosok ayah bukan hanya karena (maaf) meninggal atau orang tua berpisah kan?” Saya masih bertanya

“Benar. Ayah , fisikalnya ada, emosional nya tidak pun termasuk dalam tidak adanya sosok ayah. Dan tahu tidak, akibat hilangnya sosok ayah untuk anak laki-laki, lebih berbahaya jika dibandingkan hilangnya sosok ibu untuk anak perempuan. Masih banyak ayah yang menganggap bukan tugasnya untuk menjadi tempat anak bercerita, berbagi masalah, bahkan sedih dan menangis. Padahal, Ayah pun memiliki andil yang penting dalam memberikan perhatian. Banyak anak yang saya tangani yang ternyata memang menjadi ‘pemakai’ , karena bermasalah dalam keluarga, dan rata-rata, hampir semua kehilangan sosok ayah. Kasus Homo pun, kurang lebih demikian ”

 

Saya diam. Mencerna apa yang barusan dijelaskan sahabat saya. Oh iya sahabat saya ini seorang psikolog klinis.

Belakangan saya searching, dan “Indonesia adalah negara kedua di dunia yang anak-anaknya merasa tidak berayah. Sebab, sebagian besar ayah merasakan tugas membimbing anak adalah tugas ibu. Sementara Indonesia saat ini sudah disebut dalam kondisi darurat narkoba dan juga darurat pornografi” (Khofifah, 2015)

Sebegitu pentingnya peran ayah, sosok ayah physically, emotionally. Beruntungnya Mas Eross adalah satu dari sekian anak yang alhamdulillah tidak jadi korban hilangnya sosok ayah dalam perkembangannya. Meski ada penyesalan dan kesedihan, tetapi Ia tetap bisa berjalan dengan ketimpangan menjadi ayah tanpa panutan ayah yang baik. Masih banyak anak lain yang sayangnya tidak seberuntung Mas Eross. Dan luar biasanya adalah, benar kata Mas Taufik Noor, pandangan tentang lagu-lagu SO7 berubah. Mereka lahir dari laki-laki hebat yang paham benar arti mencintai dan dicintai.

Saya tidak ingin memberi komentar terhadap apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah. Tidak pantas. Ingin meng-kode- calon ayah anak-anak saya, ah terlalu jauh. Si calon saja masih rahasia Langit. Saya hanya tiba-tiba teringat teman-teman laki-laki saya yang kurang ekspresif, canggung untuk mengungkapkan kesenangan, kesedihan, dan lebih memendam. Apakah bibit dari sosok ayah yang nanti akan hilang? Ah, semoga saja tidak.

40b870954c026a94105f211b31e545dd

 photo

Sebentar Saja

Bicara tentang waktu, kita bicara tentang rahasia. Berapa banyak orang yang tahu pasti sisa waktunya setelah tiap detiknya berkurang? Bukan, bukan berapa banyak. Adakah?

Pun, berapa banyak orang yang tahu pasti jika hidup itu sebentar saja? Berapa banyak yang sadar kalau hidup itu tak akan lama? Saya membayangkan, andai saya, andai orang-orang selalu ingat kalau waktu kita tinggal sebentar, ya kita akan ‘pulang’, mungkin kita tak akan lagi menyimpan dan menunda-nunda banyak hal. Semisal, rasa, harta. Menunda segala kebaikan dan ibadah dengan pikiran, “masih ada waktu kok, nanti saja”. Well, tenang, saya tidak akan membahas urusan pribadi seseorang dengan Tuhannya ini. Bukan kapasitas saya, kan?

Semisal yang saya sebut pertama sajalah, soal rasa. Menyimpan rasa. Sadar atau tidak, banyak yang rela menyimpan rasa bahkan ada yang terlalu lama, membiarkan mereka yang berhak mendapatkannya tak tahu apa-apa. Gengsi? Malu? Takut?

Rasa. Kagum, simpatik, sayang, rindu, cinta, marah, kecewa. Apalagi? Berapa banyak orang yang egois menikmati nya sendiri, tanpa mau berbagi? Padahal dengan membaginya sesuai porsi yang pantas dan cara yang pas, bisa mengubah sesuatu, sesuatu yang kembali ke rasa lagi. Ah, menjelaskan nya susah bagi saya. Rasa memang untuk dirasakan, bukan dijelaskan, kan?

Membolehkan seseorang tau kalau Ia dirindukan, sama saja dengan mengatakan kalau hadirnya berarti. Mengungkapkan kecewa, sama saja mengajak seseorang itu untuk berbicara, menyelesaikan masalah, melapangkan hati. Toh dengan hanya menyimpannya sendiri saja tidak akan mengubah apa-apa. Kecuali kita dianugerahi kemampuan membaca hati dan pikiran, semisal telepati, maka tak mengapa.  Jangan sampai sia-sia hati yang Tuhan berikan itu. Tak berfungsi.

Maka kembali lagi, jika kita sadar, waktu kita hanya sebentar, mungkin kita mau menghabiskannya dengan tidak egois. Sebelum sesal datang, waktu kita tak bisa diulang.

 

671717134483c18f731c9e943dd55696

photo

Perjalanan 5 Menit

Sisa hujan masih menggenang di sisi-sisi jalanan. Awan-awan putih masih belum mau pergi. Pagi itu, Palu serupa Malang, sejuk dengan ujung-ujung dingin yang dibawa hujan tadi malam. Di jam 10 pun, suhunya masih sama, ditambah gerimis. Bismillah, saya masuk kelas dengan satu new warming up activity di kepala saya.

Processed with VSCO
Processed with VSCO

Ada 25 mahasiswa di kelas saya pagi ini. Mereka mahasiswa baru. Dan hari ini minggu kedua kami bertemu. Sebelum masuk materi, saya meminta mereka untuk keluar kelas selama 5 menit. Ada yang senyum-senyum penasaran mau bikin apa, ada yang diam bengong tapi bingung. Nah, enaknya mengajar di semester 1 adalah dosennya juga ikut tertransfer excited dan semangat -perpindahan dari anak sekolah ke mahasiswa- mereka.  Maka akan selalu sangat menyenangkan berangkat dari rumah dengan semangat dan disambut di kelas juga dengan semangat, yang lebih malah. Jadi, instruksi saya adalah,

“Yang kalian akan lakukan adalah keluar dari kelas selama 5 menit. Kalian harus berjalan sampai di ujung gedung ini. Laluu amati apa saja, siapa saja, yang akan kalian lewati. Apa saja, siapa saja. Nanti setelah 5 menit, masuk kembali, lalu kita lihat apa yang akan kalian lakukan.” Seruan excited mereka masih terdengar, lebih riuh malah. Dan ada satu mahasiswi yang bertanya,

“Bu, bawa buku ndak?”

“ No. Amati bukan catat. Oke, sekarang kalian boleh keluar, Sebelum 10.18 am kalian sudah harus kembali ke kelas.”  Jawab saya.

“Iya Bu” Mereka menjawab rame, semangat. I guess, that is one of magical sounds God gives. Mereka pun mulai keluar.

Saya pun ikut keluar sebatas depan pintu kelas. Karena akan tidak lucu, kalau mereka balik dari perjalanan 5 menit itu dan akan ada barang mereka yang hilang karena kelas kosong (bu dosen nya masih ingat jaman sekolah, ditinggal bentar, pulpen berpindah tangan hha)

Mereka pun mengamati sekitarnya, nengok kiri kanan, ke lantai atas lantas mengangguk, ada yang tenang, diam. Macam-macam. Oh sekedar informasi, gedung kuliah umum Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ini dan Fakultas lainnya adalah gedung 3 lantai, dengan formasi dari bawah ke atas yaitu jejeran 9 kelas dengan jarak spasi adalah tangga dan wc di antara tiap 3 kelas. Jadi total ada 27 kelas di satu gedung. Dan berhadapan dengan gedung yang sama bentuknya, terhubung dengan ‘jembatan’ di lantai dua dan tiga. Mereka mengamati apa saja, saya juga, mengamati mereka. Ada yang jalan sama teman dan teman-temannya, ada yang sendiri. Ada yang jalan sampai bolak-balik kedua ujung gedung, ada yang sampai ujung langsung balik ke kelas. Karena kelas-kelas lain ada yang lagi kosong jam kuliah, maka suasana di luar kelas waktu itu lumayan ramai. Lebih semarak.

5 menit pengamatan pun selesai. Satu-satu mereka kembali ke kelas dengan raut wajah yang beda-beda. Setelah semuanya kembali ke kursi masing-masing.

“Well. Sudah perjalanan 5 menit nya ya. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan?” Sambil senyum saya bertanya. Dijawab pun dengan senyum malu-malu. *eh kenapa kayak orang lagi PDKT. Kelas sunyi.

“Sekarang, saya minta 3 orang untuk maju menceritakan hasil pengamatannya tadi. Silahkan.”

“ Saya Bu!”  Beberapa mahasiswa serentak antusias semangat ngacung. Sementara yang lain senyum saling melihat teman-temannya. Yang terpilih maju adalah 2 mahasiswi dan 1 mahasiswa. Mereka bertiga saya minta berdiri di depan kelas, dan bergantian menceritakan perjalanan 5 menit mereka.

Mahasiswa pertama (perempuan),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Baiklah, saya akan menceritakan hasil observasi  saya selama 5 menit di luar tadi. Jadi, yang saya lihat adalah banyaknya mahasiswa di kampus ini. Dan dalam kepala saya adalah kita sebagai mahasiswa harus menjaga nama baik kampus ini. Sekian yang bisa saya sampaikan, wassalamu’alaikum warrahmatullah.”

Mahasiswa kedua (perempuan),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Di luar tadi saya melihat banyak mahasiswa yang sedang tidak ada mata kuliah. Mereka ngobrol di luar kelas, sementara di dekat mereka berserakan sampah. Tidak adanya kesadaran untuk mengangkat sampah-sampah itu. Itu saja, terima kasih, wassalamu’alaikumwarrahmatullah.

Mahasiswa ketiga (laki-laki),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Baiklah, saya akan menceritakan apa yang saya lihat selama 5 menit tadi. Hal pertama yang saya lihat ketika keluar kelas tadi adalah sebuah pot bunga besar depan kelas ini dengan ukiran gold. Pot nya bagus, sayang, tidak ada tanaman atau bunga di pot tersebut. Yang kedua, di ‘jembatan penghubung’ lantai dua, ada dua orang mahasiswi duduk di kursi dengan beberapa kertas. Keliatannya mereka bicara serius, mungkin KRS nya belum ditanda tangan dosen PA (Penasehat Akademik) nya. Yang ketiga, (Well, anak ini detail juga) saya lihat ada sepeda terparkir di samping kelas. Padahal kita tahu di situ bukan tempat parker sepeda. Kampus sudah menyediakan tempat parker di depan. Yang keempat, saya lihat ada 3 orang mahasiswa. 2 memakai jas kampus, yang 1 nya lagi memakai setelan gamis, berjenggot. Kelihatannya mereka sedang diskusi masalah agama, mungkin itu senior dan junior. (Masih ada lagi ternyata) lalu saya ketemu beberapa teman saya, dan mereka merokok. Sangat disayangkan, mereka merokok dalam lingkungan kampus dan dalam jam belajar. Pas lagi jalan balik ke kelas, beberapa teman menyalami saya, Alhamdulillah, silaturahmi masih baik dan pas di depan kelas, saya liat Ibu yang bilang 5 menit sudah selesai. Saya pun masuk kelas. Itu saja (saja? Hehe) yang bisa saya ceritakan, terima kasih. Wassalamu’alaikum warrahmatullah.”

Well, ketiga mahasiswa ini sudah selesai bercerita, lalu? Saya masih menanyakan siapa lagi yang mau bercerita, karena tadi masih ada beberapa yang antusias. Tapi ternyata hanya 1 yang masih mau bercerita. Yang lainnya jadi malu-malu lagi. Yang maju kali ini mahasiswa, Komsat a.k.a Ketua Komisariat, atau Ketua Kelas/ Tingkat.

Mahasiswa keempat,

“Assalamu’alaikum warrahmatullah, apa yang saya amati 5 menit di luar tadi, adalah pertama, saya lihat teman-teman yang perempuan, berjalan sambil gandengan tangan. Rasanya damai saja melihat orang-orang yang bersahabat. Yang kedua, saya lihat satu perempuan berjilbab (haha, padahal semuanya berjilbab). Masya Allah, cantik, santun. Sementara dosennya ini nanya “Jadi, udah ditandain kelasnya di mana?” Dan kelas pun rebut ciyee ciyee ke Komsat mereka. Sudah Bu, di kelas sebelah haha. Wets, saya hanya melihat dengan mata, bukan pakai hati, santai teman-teman hehe.  Dan yang terakhir, di luar ada cermin besar, saya bercermin. Kelas masih ketawa. Yang saya lihat adalah saya masih banyak kekurangan, saya harus bisa lebih baik lagi ke depannya. Itu saja cerita saya, terima kasih, wassalamu ‘alaikum warrahmatullah.”

 

“Oke. Silahkan tepuk tangan untuk empat teman kalian yang sudah sharing cerita mereka.” Sekelas tepuk tangan dan saya belum meminta mereka kembali ke tempat duduk. Mereka berempat masih senyum malu usai bercerita

“Nah sekarang saya mau bertanya ke yang lain, bagaimana, cerita teman kalian ada yang sama tidak?”

“Tidak, Bu” Ada yang menjawab sambil menggeleng semangat.

“Tempat yang diamati beda ndak? apa ada yang keluar dari batas gedung tadi?” saya masih bertanya.

“Tidak, Buuu. Tempatnya sama semua”

“Oke, kalau kita amati, Anisa –mahasiswa pertama- melihat satu hal dari sudut pandang yang umum, tidak detail, kan? Sedangkan Frida –mahasiswa kedua- melihat fokus ke satu hal, mengkritisi apa yang kurang, tapi lupa memberi solusinya. Dan Afwan, -mahasiswa ketiga- Ia tipe pengamat yang detil. Ingatannya bagus, dan cenderung menganalisa satu hal dari detail yang tampak. Ia bisa melihat lebih dari satu sudut pandang. Dan yang terakhir, Rasyid, Ia cenderung melihat sisi keindahan dari satu hal. Sepertinya Ia penikmat ketenangan.” Subjektif saya menilai cara pikir keempat mahasiswa di depan kelas ini.

“Well kalau begitu, teman kalian ada yang bisa disalahkan karena cerita mereka beda-beda meskipun tempatnya sama?”

Jawaban serentak masih sama, “Tidak, Bu.”

“So, apa yang bisa kalian simpulkan dari perjalanan 5 menit dan cerita-cerita teman kalian?

“Perbedaan pendapat, Bu” ada yang menjawab

“Ok. Perbedaan pendapat. Jawaban lain?” Saya masih menunggu yang lebih tepat.

“Perbedaan pengamatan, Bu” Mahasiswa di dekat saya berdiri menjawab.

“Oke, good! atau perbedaan cara pandang!” Mulailah giliran saya yang berbicara untuk menambahkan sedikit pemahaman mereka.

“ Dalam perkuliahan nanti kalian akan banyak berinteraksi, berdiskusi, sharing. Ketika pandangan teman kalian berbeda dengan apa yang kalian pikirkan, bukan berarti teman kalian salah lalu kalian lah yang benar. Atau sebaliknya. Apa yang ada di depan kalian, sangat banyak, sangat luas. Buka ‘mata’ kalian, luaskan pikiran dan wawasan kalian. Jangan berpikiran sempit, saling menyalahkan. Toh kalau nanti ada yang salah dalam kelas kita, jangan merendahkan, jangan memaki. Berikan cara terbaik untuk membenarkan. Bisa ya?”

“Bisa Bu.” Mereka menjawab plus anggukan. Ada senyum, pun masih ada yang lempeng-lempeng saja. Hahaha. Entahlah, yang saya rasakan saat itu adalah hati saya bertambah sekian space lapangnya untuk mengingat dan memasukkan mereka dalam cerita hidup saya yang entah sampai kapan.  Pagi itu saya bahagia. 🙂

d13e2e1b8c9810e9f79339c7774b96bd

photo

 

Menulis Itu…

Menulis adalah cara saya untuk jujur. Jujur pada perasaan sendiri, pun pada orang-orang yang untuknya tulisan saya, saya tujukan. Bukan berarti apa yang saya lakukan lantas jauh berbeda dengan tulisan saya, tetapi dalam tulisan lah saya bisa jauh lebih jujur dan ekspresif.

 

Ada orang-orang yang tumbuh dengan rasa malu yang tinggi. Saya salah satunya. Lalu ada yang protes, “yuni, itu bukan malu. Itu gengsimu yang terlalu tinggi”. Entahlah. Lalu kata yang lain lagi, “Kamu itu egois”.

 

Mungkin memang egois. Mungkin. Saya selalu memilih cara saya untuk dimengerti, lantas menggunakan cara yang sama untuk mengerti, bukan cara orang lain bagaimana mereka mau dimengerti.

 

Yang saya tahu hanyalah saya sedang jujur. Sekarang pun, saya menuliskan satu dari sekian pikiran yang belakangan mondar-mandir di kepala saya. Lucu saja rasanya, makin kesini, makin berpikir, beberapa hal yang kemarin saya percayai, tak lagi sama. Ada ha-hal yang saya sukai pun, sekarang tak lagi sama. Saya menemukan perbedaan di perjalanan pemikiran saya. Lantas, apakah selain egois, saya pun plin-plan? Tak punya pendirian?  Sementara, menurut saya, saya tak keras kepala lagi.

 

Satu contoh, saya dulu akan sangat *sebut saja* terpesona dan mengagumi orang lain *utamanya lelaki yang puitis, sarkastic, yang bisa bikin kepala saya muter kesana sini hanya untuk menangkap maksud tulisannya. Saya lalu bertemu, terkagum-kagum dengan beberapa dari mereka yang saya temui dalam perjalanan saya. Menikmati perbincangan-perbincangan dengan mereka yang sepertinya terlahir sudah dengan kemampuan berkata-katanya itu. Tapi sekarang? Yang ada tinggal lah rasa hormat kepada kemampuan mereka itu. Kagum dan terpesonanya sudah hilang entah kemana. Ada apa dengan saya?  Mungkin kalian akan berpikir karena saya pernah kecewa lantas apa-apa tak lagi sama. 🙂 Bagi saya, saya hanya sedang membuka mata lebih jernih lagi.

Manusia hidup dengan kedinamisannya. Hari ini bisa A, besok mungkin K. Hari ini suka besok tak lagi sama. Lalu pertanyaan saya, Tuhan kapan Kau datangkan Ia yang menemani hamba dalam perjalanan hidup yang dinamis ini? Hamba meminta pertolonganMu, sampaikan salam hamba padanya. Itu saja. *ehh

 

*Dan 2  menit waktu kalian terbuang karena curhatan penulis, maafkan. Haha.

 

30a623913719840adcf1024aaf9c9a12

Kesebelasan Gen Halilintar; Sedikit Kekaguman Saya tentang Tanggung Jawab

Saya lupa dimana pertama kali melihat Keluarga Gen Halilintar. Last year, If I’m not mistaken, It was in one of programs on tv. Dan ekspresi saya, wow, I was amazed. They are so cool, traveling to many places, countries, ALL OF THEM. Dan setelah itu, saya mulai nyari-nyari info lain tentang keluarga ini, gugling lah, yutub lah. Di kepala saya cuma ada “Oke, mereka keren, kompak, pinter-pinter, traveling kemana-mana”. Dan saya sempat kepikiran mereka hanya akan jadi peramai dunia pertelivisian, jadi bintang tamu dari programs tv ke tv. Udah, sampai situ saja.

Ternyata enggak. Dari official instagram mereka, saya tahu dan akhirnya saya niat beli buku mereka yang waktu itu masih coming soon. Masih penasaran dan amazed dengan gimana hidup kesebelasan gen halilintar ini, mereka udah kemana aja, ngelakuin apa aja, ngelewatin apa aja. Dan buku nya launched, segeralah saya ga mikir dua kali buat took the book home. Lumayan mahal lah ya untuk buku dalam negeri, di atas 100K. Worth it tapi!

 

DSCN6321 UA

Banyakkan foto deh kayaknya di buku nya, hehehe. Full color dan ternyata mereka juga publishernya. Eh semua ding, dari design cover, lay out, konten, full created by Kesebelasan Gen Halilintar. Dibuka dengan cerita masa muda dari Ibu Lenggogeni dan Bapak Halilintar. Bagaimana mereka bertemu dulu, perjalanan sampai akhirnya memutuskan bersama dalam ikatan pernikahan tanpa pacaran. Eyya. Wallahu alam. Tapi, insya Allah segala yang tertulis sesuai fakta. Saya akhirnya gak heran kenapa Kesebelasan Gen Halilintar bisa sekeren sekarang, ada suami sekaligus Bapak yang berkeinginan dan berusaha kuat dan cerdas juga Istri dan ibu yang selalu siap menjadi penyeimbang di sisi suaminya dan guru yang baik untuk anak-anaknya.

 

DSCN6398 UA

Saya kagum. Iya. Tentu. Masya Allah. Saya lebih melihat dari sisi tanggung jawab, diberikan rejeki 1 anak saja, sudah tentu berat, tanggung jawabnya, mendidiknya, menjaganya, mengajarnya, melindunginya, memenuhi segala hak nya, jasmani rohani, apalah lagi 11, ya SEBELAS anak, yang waw, bisa alhamdulillah insya Allah sehat, cerdas, kreatif, pintar, dan hey jiwa leadershipnya sudah nampak. Masing-masing anak dengan tanggung jawabnya, dengan kreatifitasnya.

Mungkin ada bahkan banyak keluarga besar di luar sana yang tak masuk tipi seperti mereka. atau mungkin ada yang bilang, “iyalah jelas mereka bisa pinter, jalan-jalan kesana sini karena orang tuanya pengusaha, mampu lah”. Hello, clean up your negativity, please! Iya. Akan selalu ada orang-orang dengan pikiran negatifnya mencari celah untuk masuk, berkomentar, bla bla bla. Kritis beda dong ya sama kata-kata ala haters. Memang, apa-apa yang disajikan televisi, sudahlah pasti telah dipilah dan dipilih. Untuk tujuan tertentu pun. Well, kembali ke otak kita, mau memproses yang baik atau yang jelek mulu.

Kembali ke kesebelasan gen halilintar, sekali lagi yang saya kagumi adalah kemampuan kedua orang tua mereka dalam menjalani tanggung jawab. Menakhodai kapal kesebalasan anak-anak hebat ini. Saya tidak hapal nama-nama dan urutan mereka, hehehe. Yang saya tahu, mereka menginspirasi generasi hari ini, utamanya mewakili muslim-muslimah untuk menjadi agen muslim yang baik di mata masyarakat dunia. Sampai sekarang, mereka masih aktif menebar inspirasi di social media. Pun masih sedikit berdrama di salah satu tv station.

Well, in syaa Allah selalu dalam lindungan keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tulisan ini salah satu bentuk kekaguman terhadap berkah Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Bapak Halilintar dan Ibu Geni, yang masih ada di kepala saya sampai sekarang. Keep istiqomah dalam segala kebaikan yang nampak pun tidak. Saya tidak tahu bagaimana keluarga besar ini di mata kalian yang sedang membaca ini. Biarkan saya tetap dengan kekaguman saya terhadap mereka. Terima kasih sudah membaca 🙂

Blog at WordPress.com.

Up ↑