Jurnalis Berkisah – Najwa Shihab #1

“… Zaman  sudah jauh berubah. Ini era industrialisasi pers dengan perburuan laba sebagai motif utama. Kendati demikian, selalu ada para jurnalis yang bekerja dengan passion, yang bekerja karena panggilan hati.

….Kisah mereka dibentangkan karena kita selalu memiliki kebutuhan untuk belajar dari orang lain. “

Kalimat di atas adalah penutup prolog  buku yang baru saya ‘dapat’ sore tadi. Jeda maghrib membuat saya tidak sabar untuk mulai menjamah halaman pertaman buku ini. Buku yang jauh dari tema buku-buku yang ada di lemari kos-an.

 

Najwa Shihab. Yang pertama kali terlintas di kepala saya adalah MetroTV dan Mata Najwa.  Entah apa alasan penulis buku ini menempatkan Najwa sebagai pembuka bukunya. Cerita tentang dunia jurnalistiknya awal karir serta penghargaan-penghargaan yang pernah diraih Najwa ‘disajikan maju mundur’, menarik. Dibuka dengan cerita ‘lucu’ interview Wa Ode Nurhayati di Mata Najwa edisi 25 Mei 2011, lalu Bagaimana Najwa begitu berani menghadapi narasumber-narasumber untuk acaranya.  Juga sedikit tentang lahirnya Mata Najwa yang pernah mendapatkan KPI Award 2010 serta penghargaan talk show inspiratif 2011 versi Dompet Dhuafa, juga diceritakan di buku ini. Lulusan S1 Hukum UI, dan S2 Hukum Universitas Melbourne  ini  juga pernah mendapat penghargaan di HPN (Hari Pers Nasional) 2005 dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jaya Award (karena membuat Indonesia Menangis),  sebagai wartawan pertama yang memberi informasi tragedy tsunami secara intensif. Membaca satu-satu apa yang pernah dilakukan oleh Najwa Shihab membuat saya sedikit menahan napas, membaca lagi, menahan napas lagi. Kagum. Bagaimana NS bisa begitu cerdas, kritis dalam menyampaikan berita ke masyarakat, juga beraninya dia meng-interview  juga ‘menodong’ orang-orang besar juga koruptor-koruptor karena ingin mewakili perasaan masyarakat. MERDEKA ! 😀

Tak selalu positif, NS juga pernah dihadiahi kritik oleh Andreas Harsono, Pengamat jurnalisme.  Ketika itu 8 Mei 2009, jelang pemilu, JK dan Wiranto tampil di Metro TV, dan NS lah yang memimpin interviewnya. “ Alamak! Interview tersebut jadi terganggu karena kekurangsiapan MetroTV. Mereka memasang Najwa Shihab. Saya terganggu karena Shihab lebih panjang bicara daripada member kesempatan kepada Kalla dan Wiranto”  Dan banyak wartawan yang setuju dengan statement ini. Menurut penulis buku ini, setelah itu NS lebih tenang dan hemat dalam berbahasa. Yeay! Dengarkan kritik orang (yang memang kompeten untuk didengarkan), perbaiki diri, terus belajar do your best, and just let people watch and your beloved people adore you! 😀

Najwa adalah generasi pertama presenter di Metro TV, seangkatan sama Sandrina Malakiano. Terpilih sebagai Jurnalis Terbaik MetroTV 2006, Pembicara pada konvensi Asian American Journalist Association, nominasi Pembaca Berita Terbaik Panasonic Awards 2007, nominasi lima besar  Asian Television Awards kategori  Best Current Affairs/Talk Show Presenter. Juga Young Global Leader (YGL) 2011 dari World Economic Forum (WEF) Jenewa, Swiss. Penghargaan ini buat professional muda di bawah 40 tahun dari seluruh dunia. WOW!

Personally, NS adalah anak Quraish Shihab ( siapa yang gak kenal beliau? yang sering ngasih Kultum sebelum buka puasa kan? *gagalpaham* ) mantan Duta Besar Indonesia untuk Mesir yang juga pernah menjabat Menteri  Agama RI ( 14 Maret 1998-21 Mei 1998). Istri dari Ibrahim Assegaf, seorang pengacara yang juga dulunya adalah senior Najwa di fakultas Hukum Universitas  Indonesia.  Menikah di usia 20 tahun, dengan alasan yang simple tapi pas+cerdas menurut saya, “ Saya merasa sudah menemukan pria yang tepat sebagai suami. Buat apa menunda kebahagiaan?”

Sampe di sini saya senyum-senyum di depan buku yang bahasanya dari seorang jurnalis, tapi tidak ‘berat’ untuk otak saya yang agak lambat dalam processing ini. Baca kisah Najwa Shihab ini juga seperti membaca sejarah singkat politik Indonesia dua puluh tahun-an terakhir. Juga bagaimana seseorang bekerja dalam sebuah sistem, berdedikasi untuk bangsa, untuk tersajinya fakta ke depan ribuan telinga dan mata. Informatif. Inspiratif. Dan masih ada sembilan kisah yang harus saya nikmati sebelum tidur malam ini. Menyenangkan.

 

unni's

 

Image

ImageBuku pertama (selama di Malang) yang langsung saya tutupi body nya setelah sampai di kos-an. Dan yang pertama juga, yang langsung ‘menyuruh’ saya menulis. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: