Ia lah Nu’man ibn Qauqal

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mungkin ini pertama kalinya saya menulis, bukan, ini menyalin pure dari satu kisah yang saya baca di buku penuh berkah *in syaa Allah*, Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A Fillah. Saya belum menamatkan buku ini. Entahlah, rasanya saya ingin berlama-lama membersamai tiap halamannya, tiap lapis berkahnya.

Ini tentang amalan.

Suatu waktu, demikian Jabir Radhiyallaahu ‘Anhu berkisah, seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan bertanya. “Menurut engkau ya Rasulallah,” ujarnya, “jika aku melakukan shalat yang diwajibkan, berpuasa di bulan Ramadhan, aku halalkan yang halal, aku haramkan yang haram, dan tiada kutambah lagi sesuatu atasnya, apakah akau akan masuk surga?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Hadits indah yang diriwayatkan Imam Muslim dan Ahmad ini menjadi hadits ke-22 yang dihimpun Imam An-Nawawi dalam Al-Arba’in An Nawawiyah-nya. Menarik untuk dibincangkan karena lelaki yang datang pada Sang Nabi itu bertanya tentang hal mendasar dan batas terendah yang bisa memasukkannya ke surga. Shalat yang wajib saja, puasa yang wajib saja, mengupayakan yang halal, menjauhi yang haram, dan tiada tambahan lagi. Sudah. Dan Sang Nabi mengatakan “Ya”.

Alangkah lebih menarik lagi kalau kita sibak hal senyatanya tentang si lelaki yang bertanya. Namanya Nu’man ibn Qauqal Radhiyallahu ‘Anhu. Syaikh Muhammad Tatay, penulis Idhahu Ma’anil Khafiyah fil Arba’in An Nawawiyah menukil berbagai riwayat tentang Nu’man. Ternyata, amal shalih Nu’man tidak seperti pertanyaannya. Sama sekali tidak sekadarnya.

“Dia,” tulis Syaikh Muhammad Tatay dalam penjelasan makna tersembunyi Arba’in yang disusunnya, “dikenal sebagai seorang yang nyaris ‘mewajibkan’ amalan-amalan sunnah nawafil bagi dirinya, selalu berburu berbagai macam keterangan tentang ibadah Sang Nabi, dan berprasetia menjalankan berbagai keutamaan.”

Padahal Nu’man memiliki keterbatasan jasadiyah. Dia cacat. Dia pincang.

Nu’man ibn Qauqal juga mengikuti Perang Badr dan menemui syahidnya pada Perang Uhud. Di hari Uhud itu dia berteriak, “Aku bersumpah kepada-Mu duhai Rabbi, takkan tenggelam matahari hingga kugapai hijaunya surga dengan pincangku ini.” Sesudah gugurnya Nu’man, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam mensabdakan, “Sesungguhnya Nu’man telah berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang baik. Maka dia mendapati Allah sebagaimana yang disangkanya. Sungguh telah kulihat dia bercengkrama dalam hijaunya surga, dan kini tiada lagi pincang di kakinya.

Semoga Allah membalas dari kita untuk Nu’man ibn Qauqal kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Dari apa yang ditanyakannya kepada Rasulullah, kita memahami bahwa ketika hati ikhlas dan diri berturut di jalan runtut, maka amal ibadah yang sekadar mengugur kewajiban dasar telah memasukkan seorang hamba ke dalam surga dengan ridha-Nya.

Ini senada dengan nasihat Rasulullah kepada Mu’adz ibn Jabal sebakda beliau jelaskan padanya penggugur-penggugur pahala amal. Syirik,, takabbur, hasad, riya’, kezhaliman, dan ghibah, adalah ancaman besar pembangkrut amal kelak di akhirat. “Apa yang harus kulakukan, ya Rasulallah?” Tanya Mu’adz. “Akhlish li diinika fayakfika ‘amalul qalil,” jawab Sang Nabi. “Bermurnilah kepada agamamu, maka amal yang sedikit akan mencukupimu.”

Di lapis-lapis keberkahan, amal yang sedikit tetapi terpasti bahwa ia diamarkan dan diteladankan oleh Rasulullah, sungguh sebuah perbendaharaan yang sangat berharga. Di lapis-lapis keberkahan, memastikan bahwa setiap ibadah sekecil apapun yang kita lakukan berasal dari tuntunan Nabi Shallallaahu’Alaihi wa Sallam adalah sebuah keniscayaan.

Dari pribadi Nu’man ibn Qauqal kita juga belajar tentang hubungan iman dan amal di lapis-lapis keberkahan. Bahwa meski yang sekadar telah dapat memasukkan ke surga adalah ridha Allah, iman dalam hati takkan puas jika hanya sebegini yang dilakukan oleh tangan dan kaki. Bahwa pengetahuan tentang apa yang wajib dipenuhi, ternyata diikuti semangat untuk mengilmui dan mengamalkan hal-hal yang dicintai dan dipuji oleh Rabb Yang Maha Tinggi. Bahwa di lapis-lapis keberkahan, ada orang seperti Nu’man ibn Qauqal yang merendahkan kata, tapi meninggikan karya.

Dia bertanya tentang amal-amal yang bersahaja. Dia berkarya dengan segala yang tak cukup diungkap kata. Dialah lelaki di lapis-lapis keberkahan, yang bekerja lebih nyaring dan merdu daripada bicaranya, yang berturut pada Sang Nabi di jalan runtut, yang menjemput ridha Rabb Nan Maha Lembut.

 

Masya Allah.

Entah apa yang harus keluar dari lisan ke tulisan ini. Semoga umur kita cukup menabung, menikmati berlapis-lapis berkahNya. Aamiin, ya Rabbal ‘alaamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: