Menulis Itu…

Menulis adalah cara saya untuk jujur. Jujur pada perasaan sendiri, pun pada orang-orang yang untuknya tulisan saya, saya tujukan. Bukan berarti apa yang saya lakukan lantas jauh berbeda dengan tulisan saya, tetapi dalam tulisan lah saya bisa jauh lebih jujur dan ekspresif.

 

Ada orang-orang yang tumbuh dengan rasa malu yang tinggi. Saya salah satunya. Lalu ada yang protes, “yuni, itu bukan malu. Itu gengsimu yang terlalu tinggi”. Entahlah. Lalu kata yang lain lagi, “Kamu itu egois”.

 

Mungkin memang egois. Mungkin. Saya selalu memilih cara saya untuk dimengerti, lantas menggunakan cara yang sama untuk mengerti, bukan cara orang lain bagaimana mereka mau dimengerti.

 

Yang saya tahu hanyalah saya sedang jujur. Sekarang pun, saya menuliskan satu dari sekian pikiran yang belakangan mondar-mandir di kepala saya. Lucu saja rasanya, makin kesini, makin berpikir, beberapa hal yang kemarin saya percayai, tak lagi sama. Ada ha-hal yang saya sukai pun, sekarang tak lagi sama. Saya menemukan perbedaan di perjalanan pemikiran saya. Lantas, apakah selain egois, saya pun plin-plan? Tak punya pendirian?  Sementara, menurut saya, saya tak keras kepala lagi.

 

Satu contoh, saya dulu akan sangat *sebut saja* terpesona dan mengagumi orang lain *utamanya lelaki yang puitis, sarkastic, yang bisa bikin kepala saya muter kesana sini hanya untuk menangkap maksud tulisannya. Saya lalu bertemu, terkagum-kagum dengan beberapa dari mereka yang saya temui dalam perjalanan saya. Menikmati perbincangan-perbincangan dengan mereka yang sepertinya terlahir sudah dengan kemampuan berkata-katanya itu. Tapi sekarang? Yang ada tinggal lah rasa hormat kepada kemampuan mereka itu. Kagum dan terpesonanya sudah hilang entah kemana. Ada apa dengan saya?  Mungkin kalian akan berpikir karena saya pernah kecewa lantas apa-apa tak lagi sama. 🙂 Bagi saya, saya hanya sedang membuka mata lebih jernih lagi.

Manusia hidup dengan kedinamisannya. Hari ini bisa A, besok mungkin K. Hari ini suka besok tak lagi sama. Lalu pertanyaan saya, Tuhan kapan Kau datangkan Ia yang menemani hamba dalam perjalanan hidup yang dinamis ini? Hamba meminta pertolonganMu, sampaikan salam hamba padanya. Itu saja. *ehh

 

*Dan 2  menit waktu kalian terbuang karena curhatan penulis, maafkan. Haha.

 

30a623913719840adcf1024aaf9c9a12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: