Perjalanan 5 Menit

Sisa hujan masih menggenang di sisi-sisi jalanan. Awan-awan putih masih belum mau pergi. Pagi itu, Palu serupa Malang, sejuk dengan ujung-ujung dingin yang dibawa hujan tadi malam. Di jam 10 pun, suhunya masih sama, ditambah gerimis. Bismillah, saya masuk kelas dengan satu new warming up activity di kepala saya.

Processed with VSCO
Processed with VSCO

Ada 25 mahasiswa di kelas saya pagi ini. Mereka mahasiswa baru. Dan hari ini minggu kedua kami bertemu. Sebelum masuk materi, saya meminta mereka untuk keluar kelas selama 5 menit. Ada yang senyum-senyum penasaran mau bikin apa, ada yang diam bengong tapi bingung. Nah, enaknya mengajar di semester 1 adalah dosennya juga ikut tertransfer excited dan semangat -perpindahan dari anak sekolah ke mahasiswa- mereka.  Maka akan selalu sangat menyenangkan berangkat dari rumah dengan semangat dan disambut di kelas juga dengan semangat, yang lebih malah. Jadi, instruksi saya adalah,

“Yang kalian akan lakukan adalah keluar dari kelas selama 5 menit. Kalian harus berjalan sampai di ujung gedung ini. Laluu amati apa saja, siapa saja, yang akan kalian lewati. Apa saja, siapa saja. Nanti setelah 5 menit, masuk kembali, lalu kita lihat apa yang akan kalian lakukan.” Seruan excited mereka masih terdengar, lebih riuh malah. Dan ada satu mahasiswi yang bertanya,

“Bu, bawa buku ndak?”

“ No. Amati bukan catat. Oke, sekarang kalian boleh keluar, Sebelum 10.18 am kalian sudah harus kembali ke kelas.”  Jawab saya.

“Iya Bu” Mereka menjawab rame, semangat. I guess, that is one of magical sounds God gives. Mereka pun mulai keluar.

Saya pun ikut keluar sebatas depan pintu kelas. Karena akan tidak lucu, kalau mereka balik dari perjalanan 5 menit itu dan akan ada barang mereka yang hilang karena kelas kosong (bu dosen nya masih ingat jaman sekolah, ditinggal bentar, pulpen berpindah tangan hha)

Mereka pun mengamati sekitarnya, nengok kiri kanan, ke lantai atas lantas mengangguk, ada yang tenang, diam. Macam-macam. Oh sekedar informasi, gedung kuliah umum Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ini dan Fakultas lainnya adalah gedung 3 lantai, dengan formasi dari bawah ke atas yaitu jejeran 9 kelas dengan jarak spasi adalah tangga dan wc di antara tiap 3 kelas. Jadi total ada 27 kelas di satu gedung. Dan berhadapan dengan gedung yang sama bentuknya, terhubung dengan ‘jembatan’ di lantai dua dan tiga. Mereka mengamati apa saja, saya juga, mengamati mereka. Ada yang jalan sama teman dan teman-temannya, ada yang sendiri. Ada yang jalan sampai bolak-balik kedua ujung gedung, ada yang sampai ujung langsung balik ke kelas. Karena kelas-kelas lain ada yang lagi kosong jam kuliah, maka suasana di luar kelas waktu itu lumayan ramai. Lebih semarak.

5 menit pengamatan pun selesai. Satu-satu mereka kembali ke kelas dengan raut wajah yang beda-beda. Setelah semuanya kembali ke kursi masing-masing.

“Well. Sudah perjalanan 5 menit nya ya. Sekarang, apa yang akan kalian lakukan?” Sambil senyum saya bertanya. Dijawab pun dengan senyum malu-malu. *eh kenapa kayak orang lagi PDKT. Kelas sunyi.

“Sekarang, saya minta 3 orang untuk maju menceritakan hasil pengamatannya tadi. Silahkan.”

“ Saya Bu!”  Beberapa mahasiswa serentak antusias semangat ngacung. Sementara yang lain senyum saling melihat teman-temannya. Yang terpilih maju adalah 2 mahasiswi dan 1 mahasiswa. Mereka bertiga saya minta berdiri di depan kelas, dan bergantian menceritakan perjalanan 5 menit mereka.

Mahasiswa pertama (perempuan),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Baiklah, saya akan menceritakan hasil observasi  saya selama 5 menit di luar tadi. Jadi, yang saya lihat adalah banyaknya mahasiswa di kampus ini. Dan dalam kepala saya adalah kita sebagai mahasiswa harus menjaga nama baik kampus ini. Sekian yang bisa saya sampaikan, wassalamu’alaikum warrahmatullah.”

Mahasiswa kedua (perempuan),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Di luar tadi saya melihat banyak mahasiswa yang sedang tidak ada mata kuliah. Mereka ngobrol di luar kelas, sementara di dekat mereka berserakan sampah. Tidak adanya kesadaran untuk mengangkat sampah-sampah itu. Itu saja, terima kasih, wassalamu’alaikumwarrahmatullah.

Mahasiswa ketiga (laki-laki),

“assalamu’alaikum warrahmatullah. Baiklah, saya akan menceritakan apa yang saya lihat selama 5 menit tadi. Hal pertama yang saya lihat ketika keluar kelas tadi adalah sebuah pot bunga besar depan kelas ini dengan ukiran gold. Pot nya bagus, sayang, tidak ada tanaman atau bunga di pot tersebut. Yang kedua, di ‘jembatan penghubung’ lantai dua, ada dua orang mahasiswi duduk di kursi dengan beberapa kertas. Keliatannya mereka bicara serius, mungkin KRS nya belum ditanda tangan dosen PA (Penasehat Akademik) nya. Yang ketiga, (Well, anak ini detail juga) saya lihat ada sepeda terparkir di samping kelas. Padahal kita tahu di situ bukan tempat parker sepeda. Kampus sudah menyediakan tempat parker di depan. Yang keempat, saya lihat ada 3 orang mahasiswa. 2 memakai jas kampus, yang 1 nya lagi memakai setelan gamis, berjenggot. Kelihatannya mereka sedang diskusi masalah agama, mungkin itu senior dan junior. (Masih ada lagi ternyata) lalu saya ketemu beberapa teman saya, dan mereka merokok. Sangat disayangkan, mereka merokok dalam lingkungan kampus dan dalam jam belajar. Pas lagi jalan balik ke kelas, beberapa teman menyalami saya, Alhamdulillah, silaturahmi masih baik dan pas di depan kelas, saya liat Ibu yang bilang 5 menit sudah selesai. Saya pun masuk kelas. Itu saja (saja? Hehe) yang bisa saya ceritakan, terima kasih. Wassalamu’alaikum warrahmatullah.”

Well, ketiga mahasiswa ini sudah selesai bercerita, lalu? Saya masih menanyakan siapa lagi yang mau bercerita, karena tadi masih ada beberapa yang antusias. Tapi ternyata hanya 1 yang masih mau bercerita. Yang lainnya jadi malu-malu lagi. Yang maju kali ini mahasiswa, Komsat a.k.a Ketua Komisariat, atau Ketua Kelas/ Tingkat.

Mahasiswa keempat,

“Assalamu’alaikum warrahmatullah, apa yang saya amati 5 menit di luar tadi, adalah pertama, saya lihat teman-teman yang perempuan, berjalan sambil gandengan tangan. Rasanya damai saja melihat orang-orang yang bersahabat. Yang kedua, saya lihat satu perempuan berjilbab (haha, padahal semuanya berjilbab). Masya Allah, cantik, santun. Sementara dosennya ini nanya “Jadi, udah ditandain kelasnya di mana?” Dan kelas pun rebut ciyee ciyee ke Komsat mereka. Sudah Bu, di kelas sebelah haha. Wets, saya hanya melihat dengan mata, bukan pakai hati, santai teman-teman hehe.  Dan yang terakhir, di luar ada cermin besar, saya bercermin. Kelas masih ketawa. Yang saya lihat adalah saya masih banyak kekurangan, saya harus bisa lebih baik lagi ke depannya. Itu saja cerita saya, terima kasih, wassalamu ‘alaikum warrahmatullah.”

 

“Oke. Silahkan tepuk tangan untuk empat teman kalian yang sudah sharing cerita mereka.” Sekelas tepuk tangan dan saya belum meminta mereka kembali ke tempat duduk. Mereka berempat masih senyum malu usai bercerita

“Nah sekarang saya mau bertanya ke yang lain, bagaimana, cerita teman kalian ada yang sama tidak?”

“Tidak, Bu” Ada yang menjawab sambil menggeleng semangat.

“Tempat yang diamati beda ndak? apa ada yang keluar dari batas gedung tadi?” saya masih bertanya.

“Tidak, Buuu. Tempatnya sama semua”

“Oke, kalau kita amati, Anisa –mahasiswa pertama- melihat satu hal dari sudut pandang yang umum, tidak detail, kan? Sedangkan Frida –mahasiswa kedua- melihat fokus ke satu hal, mengkritisi apa yang kurang, tapi lupa memberi solusinya. Dan Afwan, -mahasiswa ketiga- Ia tipe pengamat yang detil. Ingatannya bagus, dan cenderung menganalisa satu hal dari detail yang tampak. Ia bisa melihat lebih dari satu sudut pandang. Dan yang terakhir, Rasyid, Ia cenderung melihat sisi keindahan dari satu hal. Sepertinya Ia penikmat ketenangan.” Subjektif saya menilai cara pikir keempat mahasiswa di depan kelas ini.

“Well kalau begitu, teman kalian ada yang bisa disalahkan karena cerita mereka beda-beda meskipun tempatnya sama?”

Jawaban serentak masih sama, “Tidak, Bu.”

“So, apa yang bisa kalian simpulkan dari perjalanan 5 menit dan cerita-cerita teman kalian?

“Perbedaan pendapat, Bu” ada yang menjawab

“Ok. Perbedaan pendapat. Jawaban lain?” Saya masih menunggu yang lebih tepat.

“Perbedaan pengamatan, Bu” Mahasiswa di dekat saya berdiri menjawab.

“Oke, good! atau perbedaan cara pandang!” Mulailah giliran saya yang berbicara untuk menambahkan sedikit pemahaman mereka.

“ Dalam perkuliahan nanti kalian akan banyak berinteraksi, berdiskusi, sharing. Ketika pandangan teman kalian berbeda dengan apa yang kalian pikirkan, bukan berarti teman kalian salah lalu kalian lah yang benar. Atau sebaliknya. Apa yang ada di depan kalian, sangat banyak, sangat luas. Buka ‘mata’ kalian, luaskan pikiran dan wawasan kalian. Jangan berpikiran sempit, saling menyalahkan. Toh kalau nanti ada yang salah dalam kelas kita, jangan merendahkan, jangan memaki. Berikan cara terbaik untuk membenarkan. Bisa ya?”

“Bisa Bu.” Mereka menjawab plus anggukan. Ada senyum, pun masih ada yang lempeng-lempeng saja. Hahaha. Entahlah, yang saya rasakan saat itu adalah hati saya bertambah sekian space lapangnya untuk mengingat dan memasukkan mereka dalam cerita hidup saya yang entah sampai kapan.  Pagi itu saya bahagia. 🙂

d13e2e1b8c9810e9f79339c7774b96bd

photo

 

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan 5 Menit

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: