Sebentar Saja

Bicara tentang waktu, kita bicara tentang rahasia. Berapa banyak orang yang tahu pasti sisa waktunya setelah tiap detiknya berkurang? Bukan, bukan berapa banyak. Adakah?

Pun, berapa banyak orang yang tahu pasti jika hidup itu sebentar saja? Berapa banyak yang sadar kalau hidup itu tak akan lama? Saya membayangkan, andai saya, andai orang-orang selalu ingat kalau waktu kita tinggal sebentar, ya kita akan ‘pulang’, mungkin kita tak akan lagi menyimpan dan menunda-nunda banyak hal. Semisal, rasa, harta. Menunda segala kebaikan dan ibadah dengan pikiran, “masih ada waktu kok, nanti saja”. Well, tenang, saya tidak akan membahas urusan pribadi seseorang dengan Tuhannya ini. Bukan kapasitas saya, kan?

Semisal yang saya sebut pertama sajalah, soal rasa. Menyimpan rasa. Sadar atau tidak, banyak yang rela menyimpan rasa bahkan ada yang terlalu lama, membiarkan mereka yang berhak mendapatkannya tak tahu apa-apa. Gengsi? Malu? Takut?

Rasa. Kagum, simpatik, sayang, rindu, cinta, marah, kecewa. Apalagi? Berapa banyak orang yang egois menikmati nya sendiri, tanpa mau berbagi? Padahal dengan membaginya sesuai porsi yang pantas dan cara yang pas, bisa mengubah sesuatu, sesuatu yang kembali ke rasa lagi. Ah, menjelaskan nya susah bagi saya. Rasa memang untuk dirasakan, bukan dijelaskan, kan?

Membolehkan seseorang tau kalau Ia dirindukan, sama saja dengan mengatakan kalau hadirnya berarti. Mengungkapkan kecewa, sama saja mengajak seseorang itu untuk berbicara, menyelesaikan masalah, melapangkan hati. Toh dengan hanya menyimpannya sendiri saja tidak akan mengubah apa-apa. Kecuali kita dianugerahi kemampuan membaca hati dan pikiran, semisal telepati, maka tak mengapa.  Jangan sampai sia-sia hati yang Tuhan berikan itu. Tak berfungsi.

Maka kembali lagi, jika kita sadar, waktu kita hanya sebentar, mungkin kita mau menghabiskannya dengan tidak egois. Sebelum sesal datang, waktu kita tak bisa diulang.

 

671717134483c18f731c9e943dd55696

photo

Advertisements

One thought on “Sebentar Saja

Add yours

  1. diusia kepala banyak kek saya skr ini, entah kenapa pembahasan emosional macam ini sudah sangat menjemukan.. maunya ya yg terjadi terjadimi saja, tanpa perlu diterka-terka dan dirasa-rasa lebih dalam. kecuali sudah benar-benar dalam genggaman.

    lebih di-sederhana-kan mungkin 🙂

    **malasmikirmodeon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: