Saya Psikolog, Saya Depresi dan Ingin Bunuh Diri

Baru-baru ini, lagi, kasus bunuh diri tergaungkan dengan dahsyat di seluruh dunia. Orang besar dengan capaian karir yang luar biasa, mengakhiri kehidupan di tangannya sendiri.

 

Coba kita jujur pada diri sendiri.

Apa yang pertama terlintas ketika mendengar cerita tentang orang yang bunuh diri.

Tanggapan yang banyak terdengar adalah komentar-komentar negatif.

Penghakiman pada si pelaku, penghakiman atas perbuatannya, penghakiman atas sikap dan perilaku, bahkan sampai penghakiman atas kualitas agamanya, kualitas imannya.

Tiba-tiba saja ramai kalimat-kalimat negatif

“Berdosa sekali orang itu!”

“Pasti ilmu agamanya kurang”

“Bunuh diri kan dosa”

“Kasian ya padahal dia sudah memiliki banyak hal”

“Kasian ya dia, gak tahu bersyukur kayaknya”

“Cepat sekali menyerah”

dan serangkaian kalimat lainnya yang berusaha untuk mengasihani sekaligus mencibir perilaku itu.

 

Jika hanya demikian yang mampu kita lakukan, kita tidak akan mampu mencegah perilaku bunuh diri. yang terjadi, kita akan semakin menambah jumlah-jumlah pelaku bunuh diri. Mengapa? Karena kita turut serta mem-publish penghakiman terhadap orang-orang yang mungkin dalam tahap jatuh dan berkeinginan bunuh diri. Mengapa demikian? Mari kita lihat pelan-pelan.

Bunuh diri adalah bentuk perilaku dari gangguan Depresi Berat. Gangguan ketika dunia terlihat sangat kelam, yang membuat individu kehilangan harapan, tujuan dan kekuatan untuk tetap bertahan hidup. Baginya, dunia sudah sedemikian “jahat” kepadanya sehingga Ia merasa kehilangan kesempatan bertumbuh dengan baik di dunia. Gangguan ini sayangnya bukan hanya sekadar keyakinan begitu saja, gangguan ini dapat menjadi keyakinan mendalam atau “Waham”.

 

“Saya teringat bagaimana perjuangan saya sendiri menghadapi masa depresi dengan keinginan bunuh diri yang sangat kuat. Waktu itu semua terjadi begitu saja. 2016 adalah pencapaian karir gemilang saya, keuangan dan materi. Hingga akhinya di pertengahan tahun sekitar bulan Juli, ketika saya bertengkar kecil dengan saudara sepupu saya, ‘kejatuhan’ itu tiba-tiba terjadi begitu saja. Pertengkaran itu sangat sepele, bahkan teman-teman saya bisa menertawakan saya jika mendengar cerita itu , tetapi entah mengapa dampaknya begitu dalam di kehidupan saya”. 

Akhir bulan Agustus merupakan awal mula penderitaan saya. Awalnya, saya belum paham jika penderitaan ini adalah depresi. Saat itu, saya mengalami kesulitan tidur dan ketegangan terus-menerus. Ada waktu di mana, malam adalah masa yang menakutkan dan melelahkan. Terkadang gejala fisik yang muncul membuat saya kehilangan seluruh energi hidup saya.

Memasuki bulan September, keadaan semakin runyam. Hidup mulai terasa membosankan, pencapaian serasa tak bermakna, keuangan pun serasa tak berguna. Emosi saya menjadi sangat labil, mudah marah, mudah tersinggung dan merasa kecil hati. Ada apa dengan diri saya? Saya mulai yakin kalau ada yang tidak beres dengan diri saya, jiwa saya dan kehidupan saya. Saya mulai menyadari kalau saya mengalami Depresi.

Gangguan itu sempat meredup ketika pada akhir september mobil impian saya berhasil terbeli. Hari pertama memilikinya, hidup saya mulai terasa bermakna, terasa memiliki motivasi, mudah tersenyum dan terlihat bahagia. Hari kedua perasaan itu mulai berkurang dan di hari ketiga, serasa semua itu tak berguna lagi. Tiba-tiba saya melihat mobil bukan suatu pencapaian. bukan suatu hal yang membanggakan. Sementara di lain pihak, saya semakin banyak mendengarkan bagaimana orang-orang memuji keberhasilan saya. Namun, saya sendiri tak bisa merasakan keberhasilan itu.

Ada begitu banyak gejolak yang tiba-tiba hadir di bulan itu. Gejolak emosi dan ketakutan akan kesendirian, kehilangan, kegagalan, yang saya tidak mengerti mengapa muncul namun sangat menganggu.

Saya sering menangis tanpa sebab di malam hari. Rasa kantuk yang luar biasa tidak pernah terpenuhi lagi. Setiap saya memejamkan mata, perasaan yang hadir adalah kesendirian, kesedihan dan ketakutan. Rasa itu ibarat vacum cleaner yang menyerap seluruh jiwa saya ke dalam ruang kegelapan hingga tiba-tiba saya kesulitan bernafas dan menangis sejadi-jadinya. Pada titik itu, hanya kematianlah rasanya obat yang berharga.

Tak ada teman, tak ada sahabat, tak ada siapapun yang tahu apa yang terjadi dengan saya. Ketika waktunya beraktivitas di pagi hari, saya berusaha beratus-ratus persen untuk tampak baik-baik saja. Ketika saya harus profesional di kantor bekerja sebagai konselor, saya harus memaksa diri untuk mendengarkan dan memahami orang lain, dan pada titik tertentu, setelah melayani pasien, saya akan jatuh dan menangis sejadi-jadinya. Semua itu saya pendam seorang diri. saya tidak mau diketahui oleh siapapun. Orang-orang di luar masih melihat saya hebat, kuat dan pekerja keras. Mereka masih bisa melihat tawa yang saya hadirkan untuk menutupi rasa sedih saya. Setiap siang saya tampak baik-baik saja, tetapi setiap sore hingga subuh saya sangat menderita.

Oktober adalah bulan terberat berikutnya. Gangguan itu semakin menjadi. Ketakutan untuk tidur sendiri semakin parah. Saya takut kesendirian, saya takut ketika semua orang pergi dari sisi saya. Dada saya bergemuruh ketakutan, nafas saya sesak seperti ditekan beban yang sangat berat. Asam lambung saya meningkat yang membuat tenggorokan saya sakit seperti terbakar. Saya mulai sadar bahwa depresi saya semakin berat dan saya mesti mencari cara mengatasinya.

Pada titik itu, saya memutuskan mencari Tuhan dan bersandar di pangkuanNya. Keputusan itu ditandai dengan saya tinggal setiap malam di tempat ibadah bersama seorang sahabat baru yang bernama Angga.

Meskipun saya memiliki Angga sebagai sahabat, saya masih enggan bercerita dan diam seribu bahasa. Saya tidak mau dia mengetahui kalau saya sedang terganggu dan memiliki masalah berat. Bukan hanya Angga, kepada semua sahabat pun demikian. Saya tidak ingin mereka tahu, karena saya takut mereka akan pergi dan meninggalkan saya begitu saja. Ada titik dimana saya berharap mereka yang memahami lebih dulu kondisi penderitaan saya. Begitu labilnya emosi saya.

Kehadiran Angga sebagai sahabat dan rumah ibadah itu mampu membuat saya sedikit lega. Setiap jam 8 pagi sampai dengan jam 4 sore, saya beraktivitas di kantor, berusaha profesional meskipun perasaan saya sebenarnya naik turun antara sedih dan memaksa kuat. Jam 4 sore adalah pertanda kiamat bagi saya karena saya akan sendiri dan berpisah dari manusia-manusia di sekeliling saya.

Saya harus segera ke rumah ibadah untuk sembahyang dan menangis sepuas-puasnya di hadapan Tuhan. Ketika malam hari, Angga hadir untuk menemani. Sekedar bercerita atau bertukar kisah satu sama lainnya.

Saat waktunya tidur, ketakutan dan kesepian itu merajalela. Saya menangis lagi, marah lagi, sesak nafas, sakit perut, dan kelelahan. Angga yang tidur di samping saya menjadi tempat menangis hingga tertidur pulas.

Pada saat itu, saya jadi begitu membenci suara Adzan Subuh (bukan membenci Adzan itu sendiri) yang membangunkan tidur saya. Kondisi jiwa yang labil dan sensitif membuat saya emosi dengan suara itu. Bagaimana tidak, memulai tidur saja saya sulit, lalu saat sudah tidur, suara Adzan tiba-tiba membangunkan saya. Sementara saya terbangun, tak ada satu pun manusia lain yang terbangun di kamar itu termasuk Angga.

Yang terjadi kemudian adalah, air mata terus mengalir, ketakutan dan ketakutan, kesedihan mendalam hingga perasaan tak berguna. Di setiap subuh itu, dunia bagi saya adalah hitam, kelam, dan penuh dengan kesedihan, dunia menjauh dari saya, saya dibuang dalam kesendirian. Saya merasa Tuhan kejam.

Mengapa orang-orang lain seperti pasien pecandu saya masih mendapatkan teman untuk membantu mereka, untuk mendengarkan mereka, sementara saya menghadapi semua ini sendiri. Tak ada orang ataupun teman yang memahami kondisi saya, mengapa mereka bisa jadi sangat bodoh hingga mudah tertipu oleh tampilan luar saya.

Saya membenci semua teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, saya meyakini bahwa saya memang diciptakan sendiri dan tak ada yang peduli dengan saya. Itulah isi pikiran saya setiap subuh yang membuat air mata terus mengalir. Pada saat itu, yang saya butuhkan adalah : bahu untuk bersandar, pelukan untuk menghangatkan serta meyakinkan saya bahwa semua baik-baik saja. Tetapi saya tak mendapatkannya dari siapa pun pada saat itu.

Di akhir Oktober, saya sudah tidak sanggup lagi dengan semua gangguan ini. Saya memutuskan untuk menceritakan semua hal tentang masalah saya kepada Angga, dan dua sahabat saya, Erik dan Yuni. Setelah saya menceritakan semuanya, mereka sangat terkejut. Ada kelegaan tersendiri ketika dapat menceritakan kepada mereka. Padahal bercerita bukan hal yang mudah, teman. Saya harus mengumpulkan keberanian dan keyakinan di tengah fase depresi bahwa mereka tidak akan meninggalkan saya.

Suatu hari saat gangguan semakin parah, saya menjadi sangat sensitif. Saya ingat ketika itu, Angga mengatakan kalimat “Lihat nanti ya, Kak.” Ketika saya memintanya untuk menemani tidur lagi. Saat itu, saya merasa bahwa Angga jahat dan berniat meninggalkan saya setelah dia tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Sambil menyetir mobil, air mata mengalir deras di pipi saya. Tiba-tiba dunia sangat hitam, yang ada hanya kalimat-kalimat “Kamu sendiri, kamu tak berguna, kamu mati saja” dan Yaaa kata terakhir itu menjadi tujuan akhir saya. Saya melihat truk di depan mobil saya dan saya memutuskan menginjak gas dalam-dalam. Di detik-detik saya akan mengakhiri hidup saya, HP saya berbunyi, Erik tiba-tiba menelfon dan menganggu rencana itu. Dia seperti paham sesuatu terjadi dengan saya, dia hanya mengatakan agar saya segera ke rumahnya detik itu juga, dengan kalimat paksaan yang harus saya penuhi.

Setiba di rumah Erik, saya menumpahkan semua tangisan saya. Menceritakan semua ketakutan, kemarahan, kesedihan, kejengkelan, dan rasa putus asa saya. Tahu kah teman-teman apa yang Erik lakukan, dia hanya diam mendengarkan saya sambil sesekali mengatakan “Iya Tu, kamu tahu dari mana, oh begitu, kau ini sedih sekali ya” Dan saya terus bercerita tentang kesedihan saya. Saya mendengar dia berkata “Kau tenang saja, saya selalu ada buat kau, apa pun yang kau mau, saya bakalan bantu kau, kau mau tinggal di rumah ini, silahkan!”

Dan kalimat itu adalah multivitamin yang berharga untuk saya. Tiba-tiba perasaan saya dipenuhi dengan rasa damai dan keyakinan bahwa saya tidak sendiri. Erik membuat saya tertidur dengan tenang dan mimpi yang indah.

Erik dan Yuni kemudian mengajak saya untuk menikmati pantai yang indah. Di sana keduanya hadir bukan untuk mencerahami saya, memarahi saya, menegur saya, apalagi menertawakan kebodohan saya. Mereka pun tidak menghakimi derita saya, apalagi menghinanya. Mereka hanya mendengarkan, mereka hanya hadir, hanya memberikan kehangatan melalui senyuman dan tawa yang tulus. Mereka membiarkan saya tidur di pasir pantai yang dingin, menemani saya melewati masa-masa ini. Perlahan tapi pasti, gejala gangguan depresi itu mulai mereda, kehadiran mereka seperti memastikan bahwa di tengah dunia yang gelap, masih ada orang-orang yang mencintai saya.

Angga juga demikian, tak pernah ada semalam pun tanpa dia menemani saya untuk tidur. Entah apa yang dia pikirkan, tetapi dia selalu ada di saat saya akan memejamkan mata. Dia juga selalu ada saat saya terbangun. Dia tidak melakukan apa-apa untuk membantu saya melewati masalah ini selain hanya di samping saya, menemani saya tidur.

Saya juga merasakan kehadiran Tuhan dalam energi yang tiba-tiba hadir dalam masa-masa jatuh dan keinginan untuk bunuh diri. Ada masa ketika saya merasa Tuhan hadir memeluk saya, meski dalam beberapa masa yang lain, saya juga merasa justru Tuhan yang meninggalkan saya.

Tetapi satu yang pasti, keinginan untuk mengakhiri hidup saya adalah tetap obat yang selalu saya ingin lakukan. Terutama saat malam. Puncak di hari selasa di minggu akhir oktober itu. entah mengapa, seluruh fisik saya sakit, gemetaran, saya kehilangan nafsu makan, emosi saya meledak-ledak, tetapi tidak mampu diekspresikan, kemarahan membesar yang membuat saya sangat sedih, ketakutan yang membuat saya bahkan tak mampu berdiri lagi. Saat itulah, Eriek hadir lagi dan mengajak saya untuk ke psikiater

 

“Put, saya tahu kau psikolog hebat, tapi kau butuh orang lain, kita ke psikiater besok. Besok malam, saya antar ke sana”

Ya dan esoknya saya ke psikiater. dokter memberi saya obat anti depresan, yang membuat saya tenang dan mengendalikan emosi saya. Saya meminum obat itu hingga 4 hari setelahnya. Hingga tepat hari kelima, saya dilarikan ke rumah sakit karena SGOT dan SGPT yang naik berkali-kali lipat dan divonis hepatitis B akut.

Dokter merawat saya dengan intensif. Dua hari perawatan, kondisi saya semakin drop dan yang terpikirkan waktu itu hanya satu orang yaitu, sahabat saya di Jogja yang bernama Wayan.

Bapak saya pun menerbangkan dia dari Jogja ke Palu untuk menjenguk saya. Sesaat sebelum dia datang, nilai SGOT dan SGPT saya sampai 690 dan 696. Malamnya ketika Wayan datang, saya memintanya untuk memeluk saya. Dia hanya hadir dalam sebuah pelukan, lalu mengatakan semua baik-baik saja.

Keesokan harinya, nilai SGOT saya turun hingga 140, SGPT saya turun 500. Dokter kemudian merujuk saya ke Jogja untuk mendapatkan perawatan medis intensif dan perawatan psikologis bersama sahabat-sahabat saya.

Ya, sahabat-sahabat saya menerima saya apa adanya. Mereka tahu saya Psikolog Klinis yang mestinya paham bagaimana menerapi dan mengatasi masalah Depresi. Mereka tahu karir saya sedang baik-baiknya, pencapaian saya sedang tinggi-tingginya. Mereka tahu kemampuan saya, tetapi, saya bersyukur mereka tahu bahwa saya juga manusia yang sedang belajar.

 

Di lain pihak, banyak yang bertemu dan melihat kondisi saya mengajukan berbagai pertanyaan klasik

“Apa sih yang kurang dari kamu?”

“Apa yang membuat kamu stres? Kan semua sudah ada?”

“Jangan terlalu banyak mikir! Emang mikir apa sih?”

“Kamu loh udah berhasil? Apa lagi yang kau cari?”

 

Bisa terbayang bagaimana saya harus menjawab pertanyaan itu, sedangkan saya sendiri kurang memahami bagaimana gangguan ini terjadi dan apa yang sebenarnya terjadi dengan hidup saya.

Saya saja yang berprofesi sebagai Psikolog-yang sedikit banyak sadar tentang gangguan ini-mendengar pertanyaan itu terasa sangat menyesakkan dan merasa bahwa dunia ini penuh dengan orang-orang yang tidak punya perasaan, lantas bagaimana orang awam yang tidak paham dengan gangguan ini?

Saya membayangkan mereka mungkin mengalami kesedihan dan tekanan yang sangat dalam. Jika ide bunuh diri datang, maka segera dapat dieksekusi. Pun jika harus kuat, orang-orang itu hanya akan berpura-pura kuat dengan lari dari masalahnya.

Beruntung, Angga, Wayan, Erik, dan Yuni, hadir bukan sebagai sosok penanya. Mereka hadir sebagai sosok sahabat yang mendekap saya. Ketika saya terjatuh, mereka tidak banyak bertanya mengapa saya jatuh, mereka juga tidak memaksa saya untuk bangun dengan cepat. Mereka hadir menemani dan memahami saya, tanpa banyak bicara, tanpa banyak penghakiman. Ya HANYA HADIR, yang selalu meyakinkan saya bahwa mereka selalu ada. Untuk saya.

Kehadiran mereka, membuat saya kuat melewati masa depresi itu. Perlahan, saya mengikuti berbagai pengobatan hingga akhirnya saya dapat kembali berfungsi optimal.

Ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari kejadian ini.

Pertama : Saya semakin belajar ke dalam, untuk menemukan hal-hal / konflik / luka / traumatis apa yang masih terdapat dalam diri saya sehingga gangguan depresi ini harus saya derita.

Kedua : Saya belajar menikmati rasa sebagai seorang yang depresi. Dengan demikian, saya dapat membangun perasaan empati dan kepedulian besar terhadap gangguan ini.

Mengapa Saya menceritakan kisah saya ini, agar siapa pun yang membaca mampu memahami isi dari pikiran, perasaan dan perbuatan dari orang dengan gangguan depresi berat.

Saya menyadari bahwa gangguan ini dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Celakanya, banyak yang baru mengetahui atau menyadari kalau dirinya terganggu setelah berbagai penyakit muncul atau hingga bunuh diri. Perilaku bunuh diri itu sendiri kemudian dicaci dan dimaki sebagai perbuatan yang paling berdosa.

Coba tengok sejenak, berapa banyak lagi informasi di media yang memberitakan semakin banyaknya orang bunuh diri, dan coba juga lihat hanya beberapa orang saja yang berkomentar secara bijak. Bahkan lebih parah lagi, ada redaksi-redaksi yang justru menyiratkan bahwa seseorang yang bunuh diri itu memang lemah dan tidak menghargai hidupnya (di pojokan).

Jika redaksi seperti itu dilihat dan dibaca oleh orang-orang yang sedang depresi, sangat mungkin mereka akan meniru perilaku yang dituliskan dalam redaksi pemberitannya. Dan akhirnya perilaku itu saling berantai karena menjadi tren pemberitaan.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini, saya mencoba mengajak pembaca bukan untuk memaklumi perilaku bunuh dirinya, tetapi untuk memahami bahwa Bunuh Diri itu adalah keputusan dalam gelapnya dunia yang justru semakin diperparah oleh tak adanya orang-orang sekitar yang hadir dan ada untuk mereka.

Mari Mengenali Depresi. Mari Memahami Depresi, Mari MEMBANTU mereka yang Depresi. Sederhana, cukup HADIR DENGAN TULUS saja kepada orang tersebut, tanpa harus menghakimi atau mengata-ngatainya. Jika gangguannya semakin membahayakan, bantu dia menemukan profesional helper yang dapat menolongnya dengan benar.

Mari kita membuat redaksi pada kejadian-kejadian Bunuh Diri bukan dengan menceritakan dan memojokkan masalah mereka. Mari kita menmbuat redaksi pada kejadian-kejadian bunuh diri dengan penuh empati dan meyakinkan pada penderita depresi lainnya agar segera mencari pertolongan kepada sahabat, orang terdekat dan profesional helper.

Mari kita belajar memahami bahwa depresi bukan serta merta gangguan karena orangnya tidak beragama / imannya tidak kuat. Kita tidak pernah tahu, bagaimana ia selalu menyebutkan nama Tuhan atau sangat dekat dengan Tuhan dalam melewati masa depresi itu. Kita juga tidak pernah bisa mengukur bahwa depresi terjadi karena ia kurang ikhlas atau berserah pada Tuhan. Ya semua kemungkinan itu ada, tetapi kita harus paham bahwa depresi adalah gangguan yang melibatkan BIOPSIKOSOSIAL SPIRITUAL. Jadi gangguan itu bisa terjadi karena permasalahan biologis dalam tubuh, permasalahan psikologis, permasalahan sosial-ekonomi, dan permasalahan spiritual, interaksi diantara itu, atau interaksi keempatnya.

Sekali lagi, mari memahami depresi hingga Bunuh Diri sebagai permasalahan yang harus kita sikapi dengan Empati, kepedulian untuk membantu dan penghargaan kepada mereka yang telah kehilangan penghargaan itu sendiri. Mari Mencintai Mereka yang Hidup Tanpa Cinta.

Mari MENCIPTAKAN DUNIA YANG INDAH bagi sesama kita. Saling mencintai sesama kita, saling menebar benih kebahagiaan, dan terus menerus mengeksplorasi nilai-nilai kemanusiaan dalam diri kita.

Kapan pun dan di mana pun, anda menemukan orang-orang yang perlu dibantu atau bahkan Anda sendiri silahkan menghubungi :

www.sejenakhening.com di Palu.

Semoga kita semua dapat terbantu dan bertumbuh bersama.

 

Salam penuh cinta, penuh kedamaian.

 

I Putu Ardikayana.

 

Ini adalah kisah sahabat saya. Semoga kita mampu memahami diri sendiri terlebih dulu, lalu mampu memahami orang lain dengan sama baiknya. Memahami seperti apa itu depresi dan membantu penderitanya.

 

 

I

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: