Jakarta, 1st Day of Happiness Series

 

Rumus dari ‘berserah kepada jalan Tuhan’ memang selalu menghasilkan sesuatu yang manis.

 

Setelah gagal ke Togean bareng teman-teman kece, Allah ‘nyuruh’ saya ke Jakarta. Bismillah. Berangkat tanggal 2 Mei 2016, saya dan teman-teman langsung nyari penginapan deket UI, supaya pagi nya pas kegiatan tinggal jalan kaki or naik angkot ke UI.  Eh, ga ada yang deket. Ada sih, apartemen, di gugel sama instagram katanya harian, pas ngecek ke kantornya, bulanan ding. Bisa sih kalo pake jasa Buk Ibuk calo. Yetapi kan ribet dan ga aman. Akhirnya sama panitia kegiatan kita diarahin ke guest house Fakultas Ilmu Budaya, Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia. Pas liat bangunannya, kok agak-agak suram, sunyi dan dapat lantai dasar pula. Eh pas masuk, gak suram, malah pas buka pintu geser ke beranda samping, Wuih pemandangannya ijo seger. Lumayan lah, standard guest house plus pemandangannya, dituker sama 370K / malam.

 

C360_2016-05-02-17-22-36-072

Rebahin badan, terus  cari makan malam. Skalian langsung nodong Ruddiwan, temen se- SMP dan SMA yang kebetulan kerja di Jakarta, buat datang nengokin temennya ini. Janjinya pulang kantor langsung cuss ke guest house. HHa, jam 9 malem pas udah mau baring-baring manja saking cape nya, dia baru nelp “We, saya sudah di depan”. Ini daerah Ibukota kali neng, dimana waktu banyak diabisin di jalan. Dan saya baru tau pas ngobrol kalo tadi pas pulang kantor sore, dia ke rumahnya dulu, di daerah BEKASI, dan saya di UI, DEPOK. Kalo start di Palu, itu mungkin sama aja dia nyamperin temennya di Pusat Laut Donggala sana.

Ketemu temen lama itu rasanya selalu bikin bahagia. Apalagi pas lagi maen jauh ke kota orang gini. Nyaman saja, di antara orang-orang lain yang tak kau kenal, lalu ada satu orang yang di masa-masa lalu kalian selalu ketemu. Menyenangkan. Nostalgia jaman sekolah, ngomongin lugu dan nakalnya kita-kita dulu, ngitungin teman seangkatan yang udah nikah, sementara kita masih hhaha hihihi.

Ruddiwan ga banyak berubah, kecuali,,, ga ada. Hahaha. Makin dewasa mungkin. Secara dia paling tua di kelas, pas SMA. Dan saya paling muda. Kita sekelas, tapi bedanya 2 tahun pas. Ngobrolin banyak hal dan Kalo ga ditegur security, mungkin kita bisa ngobrol sampe pagi. Jam 00.00 an Ruddiwan pamit pulang. Jangan salah paham ya, kita ditegur bukan karena berisik atau karena karena yang lain. Hanya karena peraturan jam 23.00-05.00 ga boleh nerima tamu. Hahahaa.

 

_20160502_214828

Dan well God, perhaps that I am too serious seeing this life, but what lesson that YOU want to tell me? Bahwa silaturahmi memang berberkah. Begitu banyak orang dalam hidupmu, kalian bertemu, lalu berpisah. Kalian mengingat, sejenak lupa, dan mengenang. Kalian rindu, bertemu lalu kembali rindu.

Hari pertama trip kali ini. Masih ada hari kedua, ketiga, keempat, kelima. Alhamdulillah.

Advertisements

Ayat-Ayat Cinta 2: Ekspektasi dan Opini

Identitas buku

Judul Buku: Ayat-Ayat Cinta 2

Penulis: Habiburrahman El Shirazy

ISBN: 978-602-0822-15-0

Penerbit: Republika

Editor: Syahruddin El-Fikri dan Triana Rahmawati

Cetakan: IV, Desember 2015

Tahun terbit: 2015

Jumlah halaman: 690

Harga: 95.000

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya akhirnya memutuskan buat membawa pulang buku karya Kang Abik ini setelah akhirnya menyingkirkan Jo’s Boys dari tangan saya (Little Women series). Ekspektasi saya sangat besar terhadap lembar-lembarnya yang bertumpuk tebal. Saya ingin mendapatkan rangkaian sentilan, siraman dan ketenangan untuk kepala, hati dan iman saya.

Halaman-halaman pertama saya mulai di ruang tunggu Bandara Juanda dalam perjalanan pulang ke rumah. Fahri menyambut kita, pembaca, di Edinburgh, Ibu kota Skotlandia, yang ternyata adalah tempat impian istrinya, Aisyah. Fahri yang sekarang makin ‘kuat’ secara personal dan akademis. Ia adalah seorang dosen di bidang Filologi, di The University of Edinnburgh. Ph.D nya diperoleh di bidang yang sama dari Albert- Ludwigs-Universitat Freiburg, Jerman. Oh iya di sini Kang Abik menggunakan sudut pandang orang ketiga. Saya suka penggambaran detail setting tempat dalam buku ini. Saya pun akhirnya googling beberapa tempat, the University of Edinburgh, kawasan Stoneyhill, the Central mosque of Edinburgh,  yang betul-betul digambarkan dengan baik.

Tokoh-tokoh yang dikenalkan pun, kebanyakan tokoh baru. Keira, remaja tetangga Fahri yang sangat benci kepada muslim. Adik nya Jason, pun sama. Nenek Catarina, Brenda, Paman Hulusi, Nyonya Janet, Baruch, dll. Selain itu, Paman Akbar, Misbah, Syaikh Ustman pun masih ‘menemani’ Fahri. Hidup Fahri pun akan berkisah bersama mereka.

Fahri, dalam buku ini betul-betul digambarkan sebagai lelaki tanpa cela menurut ukuran manusia. Ia sukses dalam karir di Edinburgh sebagai dosen yang diakui ilmu dan kemampuannya, bisnisnya pun berjalan lancar dan berkembang, kedermawanannya terhadap sesama, tak ketinggalan, Ia tetap memberikan kajian di perkumpulan muslim di UK, pun hafalan Qur’an tetap tak ditinggalkan. Sayangnya, dengan semua yang dimiliknya, ternyata Ia hidup tanpa Aisyah. Aisyah hilang! Fahri harus selalu meneteskan air mata ketika mengingat istrinya tercinta. Why Aisha disappeared and how Fahri fill his days while waiting Aisha that he believes will return? Just read the book 😉

Pastinya desakan untuk segera menikah lagi datang dari kerabat-kerabat Fahri. Satu dua wanita pilihan ditawari sebagai pengganti Aisyah.

Well. Buku ini tentang Islam, kasih sayang, kehidupan, perjuangan dan cinta. Banyak juga pelajaran tentang sejarah Islam dan keadaan Islam sekarang yang saya baru tahu. Kang Abik menyelipkan pelajaran-pelajaran itu ke dalam dialog-dialog dengan cukup baik. Fahri yang harus ‘menjawab’ dan ‘melawan’ paham islamophobia di sekitarnya pun menjadi bagian menarik yang bisa dicontoh oleh kita. Puncak dari pemikiran besar dalam novel ini adalah pada debat prestisius di Oxford Debating Union yang diikuti Fahri sebagai seorang pakar Islam Timur Tengah dan Asia Tenggara. Jujur saja, tentang content, ilmu dan pandangan Kang Abik tentang phenomena islamophobia, saya bisa banyak belajar. It adds my islamic knowledge and values.

Hanya saja, sebagai pembaca yang butuh sesuatu yang move, and pause my brain at the same time, I couldn’t find it. Mungkin subjektif, kalau menurut saya alur ceritanya datar-datar saja, penggunaan kalimat yang terlalu biasa dan too eksplisit, saya tidak merasakan sesuatu yang mengharukan dan bisa membuat saya tiba-tiba diam, mengulangi lagi dan lagi. Tebakan saya tentang apa yang akan terjadi pun ternyata tidak salah. Endingnya juga. Ya. Sama.

Sekali lagi, ini menurut kacamata saya. Saya juga membaca beberapa buku Kang Abik. Saya kagum dengan ilmu serta pandangan beliau tentang  agama, cinta, kasih sayang dan kehidupan yang luar biasa. Terima kasih untuk buku yang tetap mengajarkan dan menebarkan banyak kebaikan, semoga bernilai berkah, in syaa Allah. Aamiin.

1453550704931

 

Selamat membaca

 

Smile from A Smiler

One thing that I love to see from other people is their smile. It’s something precious that someone can give freely. It can be seen and felt. I talk about sincere smiles that sent by heart and felt by heart, too. It is calming and relaxing. People who love to smile indicate that they are happy. They transferred positive vibes that people need days by days.

Smiling makes someone look positively attractive. Researchs have proven that people become more attractive when they are wearing smile. Smile is also good for our health. It is one of effectife exercises for face. Why? Because when we smile, bloodstream around our face becomes more smoothly and thousands of nerve move spontaneously. This causes the muscles and skin of our face tightened, thus it reducing wrinkles. Stay young with smile.

As social beings, people love to be respected and appreciated. Smile is the easiest thing to show our respect. The sincere one, not the fake. We can feel it. There is something special with sincere smile. It’s like, the eyes also smile. It can change our feeling, turn to something we can’t express. Dr. Aidh Al-Qarni says, “That smile is something beautiful, engaging, fun and exciting. Someone who sees people smiling will feel peace and his heart filled with coolness.”

 

smile (2)

            When you’re smiling, no doubt it simply makes you better. Research has shown that smiling releases serotonin – a neurotransmitter that produces feelings of happiness and wellbeing. It’s like a circle of happiness, you feel happy and you smile, smile and you feel happy!

So, just be a smiler to keep the happiness inside and spread it outside, people!

 

(ameliayuni, Jan 2016)

 

smile (1)
Smile, you are beautiful.

 

*some parts are quoted, edited and translated from some sources.

Bait-bait Ujung November

Kupikir aku ingin sembunyi,

Di dalam lemari berpintu dua itu,

Di luar turun hujan, aku tak mau menjumpa genangan kenangan.

 

Tapi, mereka bilang, tunggulah.

Karena pelangi akan datang tersenyum. Genangan bisa kau lupakan.

Yah, garisan warna-warni itu?

Setelah lelah menunggu hujan reda terlalu lama, kenangan masih membasah sana sini, lantas dia sudah pergi!

 

Atau mungkin aku harus ke ruang sebelah?

Di situ ada meja. Aku bisa sembunyi di bawahnya.

Dari janji-janji.

Ucap manis nanti nanti.

 

Ah, atau aku harus pergi mandi?

Menghanyutkan kenangan yang tak ingin kulihat lagi.

 

Ya, harusnya begitu.

Segera karena aku tak ingin terlambat,

Malam nanti aku ingin belajar berlari lagi.

bokeh 1 UAfrom google

Sajak Jingga

Untuk aku yang belum bisa mengerti dirinya sendiri.

Mungkin kepalamu terlalu lelah, ia butuh merebah.

Memutuskan ingatan-ingatan dan ketakutan-ketakutan dari segala arah.

Atau mungkin juga hatimu harus punya tempat,

untuk salah dan ketidaksempurnaan syarat.

Bermainlah sebentar,

Berlari-lari di bawah matahari sore,

Lalu senyum se-manismanis-nya bersama jingga yang datang sesudahnya.

(yuniamelia)

DSCN8504 wp

Ia lah Nu’man ibn Qauqal

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mungkin ini pertama kalinya saya menulis, bukan, ini menyalin pure dari satu kisah yang saya baca di buku penuh berkah *in syaa Allah*, Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A Fillah. Saya belum menamatkan buku ini. Entahlah, rasanya saya ingin berlama-lama membersamai tiap halamannya, tiap lapis berkahnya.

Ini tentang amalan.

Suatu waktu, demikian Jabir Radhiyallaahu ‘Anhu berkisah, seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan bertanya. “Menurut engkau ya Rasulallah,” ujarnya, “jika aku melakukan shalat yang diwajibkan, berpuasa di bulan Ramadhan, aku halalkan yang halal, aku haramkan yang haram, dan tiada kutambah lagi sesuatu atasnya, apakah akau akan masuk surga?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Hadits indah yang diriwayatkan Imam Muslim dan Ahmad ini menjadi hadits ke-22 yang dihimpun Imam An-Nawawi dalam Al-Arba’in An Nawawiyah-nya. Menarik untuk dibincangkan karena lelaki yang datang pada Sang Nabi itu bertanya tentang hal mendasar dan batas terendah yang bisa memasukkannya ke surga. Shalat yang wajib saja, puasa yang wajib saja, mengupayakan yang halal, menjauhi yang haram, dan tiada tambahan lagi. Sudah. Dan Sang Nabi mengatakan “Ya”.

Alangkah lebih menarik lagi kalau kita sibak hal senyatanya tentang si lelaki yang bertanya. Namanya Nu’man ibn Qauqal Radhiyallahu ‘Anhu. Syaikh Muhammad Tatay, penulis Idhahu Ma’anil Khafiyah fil Arba’in An Nawawiyah menukil berbagai riwayat tentang Nu’man. Ternyata, amal shalih Nu’man tidak seperti pertanyaannya. Sama sekali tidak sekadarnya.

“Dia,” tulis Syaikh Muhammad Tatay dalam penjelasan makna tersembunyi Arba’in yang disusunnya, “dikenal sebagai seorang yang nyaris ‘mewajibkan’ amalan-amalan sunnah nawafil bagi dirinya, selalu berburu berbagai macam keterangan tentang ibadah Sang Nabi, dan berprasetia menjalankan berbagai keutamaan.”

Padahal Nu’man memiliki keterbatasan jasadiyah. Dia cacat. Dia pincang.

Nu’man ibn Qauqal juga mengikuti Perang Badr dan menemui syahidnya pada Perang Uhud. Di hari Uhud itu dia berteriak, “Aku bersumpah kepada-Mu duhai Rabbi, takkan tenggelam matahari hingga kugapai hijaunya surga dengan pincangku ini.” Sesudah gugurnya Nu’man, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam mensabdakan, “Sesungguhnya Nu’man telah berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang baik. Maka dia mendapati Allah sebagaimana yang disangkanya. Sungguh telah kulihat dia bercengkrama dalam hijaunya surga, dan kini tiada lagi pincang di kakinya.

Semoga Allah membalas dari kita untuk Nu’man ibn Qauqal kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Dari apa yang ditanyakannya kepada Rasulullah, kita memahami bahwa ketika hati ikhlas dan diri berturut di jalan runtut, maka amal ibadah yang sekadar mengugur kewajiban dasar telah memasukkan seorang hamba ke dalam surga dengan ridha-Nya.

Ini senada dengan nasihat Rasulullah kepada Mu’adz ibn Jabal sebakda beliau jelaskan padanya penggugur-penggugur pahala amal. Syirik,, takabbur, hasad, riya’, kezhaliman, dan ghibah, adalah ancaman besar pembangkrut amal kelak di akhirat. “Apa yang harus kulakukan, ya Rasulallah?” Tanya Mu’adz. “Akhlish li diinika fayakfika ‘amalul qalil,” jawab Sang Nabi. “Bermurnilah kepada agamamu, maka amal yang sedikit akan mencukupimu.”

Di lapis-lapis keberkahan, amal yang sedikit tetapi terpasti bahwa ia diamarkan dan diteladankan oleh Rasulullah, sungguh sebuah perbendaharaan yang sangat berharga. Di lapis-lapis keberkahan, memastikan bahwa setiap ibadah sekecil apapun yang kita lakukan berasal dari tuntunan Nabi Shallallaahu’Alaihi wa Sallam adalah sebuah keniscayaan.

Dari pribadi Nu’man ibn Qauqal kita juga belajar tentang hubungan iman dan amal di lapis-lapis keberkahan. Bahwa meski yang sekadar telah dapat memasukkan ke surga adalah ridha Allah, iman dalam hati takkan puas jika hanya sebegini yang dilakukan oleh tangan dan kaki. Bahwa pengetahuan tentang apa yang wajib dipenuhi, ternyata diikuti semangat untuk mengilmui dan mengamalkan hal-hal yang dicintai dan dipuji oleh Rabb Yang Maha Tinggi. Bahwa di lapis-lapis keberkahan, ada orang seperti Nu’man ibn Qauqal yang merendahkan kata, tapi meninggikan karya.

Dia bertanya tentang amal-amal yang bersahaja. Dia berkarya dengan segala yang tak cukup diungkap kata. Dialah lelaki di lapis-lapis keberkahan, yang bekerja lebih nyaring dan merdu daripada bicaranya, yang berturut pada Sang Nabi di jalan runtut, yang menjemput ridha Rabb Nan Maha Lembut.

 

Masya Allah.

Entah apa yang harus keluar dari lisan ke tulisan ini. Semoga umur kita cukup menabung, menikmati berlapis-lapis berkahNya. Aamiin, ya Rabbal ‘alaamiin.

Undangan? Penghargaan!

paper-old-past-typewriter-Favim.com-518417

Kemajuan tekhnologi di jaman sekarang membuat komunikasi antar daerah, kota atau Negara yang jauh jaraknya bukan lagi masalah. Berbagai macam social media, seperti facebook, twitter, path, atau applikasi chatting, whatsapp, line, dkk yang mudah di-akses, juga sangat memudahkan komunikasi penyampaian informasi, berita pun gossip sana sini.

Nah, di musim nikah, media social juga applikasi chatting dipakai oleh beberapa orang untuk menyebar undangan pernikahan mereka. Yang paling sering saya lihat di-timeline facebook, event pernikahan dengan banyak teman di-tag. Jadi objek dari undangan juga pernah.

Saya tertarik untuk nulis ini, setelah pagi tadi saya membaca link berita online yang di-share teman saya di facebook. “Fenomena Undangan Pernikahan Online Melalui Facebook, Pantaskah Dilakukan?”

Sering kita lihat, ketika ada undangan online, si pengirim undangan akan menandai banyak temannya, dengan *biasanya* permohonan maaf karena mengundang via facebook. Praktis, mudah, cepat, juga alasan terakhir, murah. Teman saya dan beberapa perempuan dalam artikel ini menilai, undangan semacam ini tidak pantas dilakukan. Kurang personal, merasa tidak diundang , itu pengumuman bukan undangan.

Ya, secara etika, undangan seperti ini memang tidak pantas dilakukan, terlebih kalau si pengundang dan teman-teman yang diundang berada di satu kota. Niat dan keseriusan pengundang menjadi hal yang dipertanyakan. Kalaupun pertimbangan biaya *tapi saya pikir ini jarang sekali terjadi*, ya undangan online tersebut dikirim personally satu-satu ke teman yang akan diundang, dengan menyebut nama yang diundang nya tentunya. Ini jauh lebih menghargai dan mengharapkan teman untuk datang.

Mengundang berjamaah via event di facebook akan jadi hal biasa jika pengundang dan undangan masih berstatus mahasiswa, yang “rasa pengertian” nya masih bisa memaklumi keterbatasan satu sama lain. Tapi, di masa-masa ketika kuliah sudah kelar, sudah ada yang kerja dan memiliki pasangan sah, mengundang teman-teman via facebook rasanya kurang etis.

Tahun lalu, seorang teman di Jakarta mengabari kalau dia akan menikah. Via facebook atau bbm saya lupa. Dan mendekati hari H, undangan pernikahannya nyampek ke kost saya via pos. Dengan nama saya tertulis di tujuan undangan. Rasanya? Terharu juga bahagia. Dia sudah mengabari sebelumnya dan mengharapkan saya datang, kemudian mengirim langsung undangannya via JN*. Hal kecil yang mungkin akan membekas di penerima undangan selamanya. Sayangnya, waktu itu saya betul-betul tak bisa menghadiri. Kado dan permintaan maaf pun dikirim balik ke mempelai via JN*.

Ya, ketika pengundang tak secara personal * undangannya memang atas nama kita* mengundang kita, sebagian besar orang akan merasa tak dihargai. Apalagi hanya via media social. Memilih untuk tidak menghadiri bukan lah hal yang salah.

Beberapa baris di buku “Ta’aruf, Khitbah , Nikah dan Talak” menyetujui hal ini,

Menghadiri undangan yang ditujukan kepada orang banyak, tanpa menyebut nama tertentu dan bersifat umum, maka undangannya tidak wajib untuk dihadiri. “

Nah, jelas bukan? Semoga menjadi pembelajaran saya *yang belum datang saat nya mengundang* juga kita semua.

 

“Well saya tidak sedang membicarakan teman-teman saya yang barusan nikah dan tidak mengirim undangannya ke saya yang sedang di Malang. Undangan kan sampai ke telinga saya langsung dari si pengundang. :p ”

Got Tired in Kebun Raya Purwodadi

Ini awal dari jalan-jalan keluar dari Malang yang pertama. Waktu itu liburan semester 1. Saya gak pulang ke kampung halaman karena pertimbangan ongkos. ONGKOS. Tiket pesawat di musim libur akhir tahun sudah pasti naik. Dan baru lima bulan berubah status jadi perantau, belum dramatis untuk pulang melepas rindu ke ayah bunda di sana.

Syukurnya ada dua perempuan yang ternyata gak mudik juga. Firda, asal Lombok Timur. Ain, asal Padang. Kami daariii…. *lupakan*

Awalnya hanya Firda dan saya yang punya rencana jalan-jalan jauh. *Kalo diingat-ingat, ini jalanjalan kedua bareng Firda. Saya dan Firda punya kisah hampir menginap terpaksa di Batu, berdua* Eh pas ajakin Ain juga, dia mau ikut. Yeay! Kita bertiga.

Kita pengen maen ke pantai. Ettapi jauh. Gak ada angkutan umum yang bisa kesana. Nyewa motorpun, saya angkat tangan. Nyerah. Gak berani. Firda apalagi. Mau ke Jogja, Firda lagi nabung. Ya udah yang deket-deket dan terjangkau transportasi umum.

Kamis, jam 7 pagi kita bertiga janjian ngumpul di dekat kost-an saya. Dari situ kita ke terminal Arjosari. Itu pertama kalinya saya ngangkot ke Arjosari. Rasanya jauh. Dan memang! Pas nyampe terminal, 3 perempuan ini kebingungan. Nah Lo! Kita disambut bapak-bapak, nyebutnya apa ya, yang teriak-teriak, ” Maaliingg Maaalinngg” eh salah ding, “Surabaya Surabayaaaaa !!!”

” Pak, Ke *tiiiiiiittt* (disensor dulu tujuannya) berapa ya?” tanyaku ke bapak-bapak yang paling dekat dari tempat kami.

” Dua puluh lima ribu, Mbak.” jawabnya.

Uwhaaaat? Ape lu kateee pak? Sambil pake mata melotot. Ke Surabaya aja gak segitu. Saya protes sewot. Dalam hati -_-. Iya kali protes beneran, pasti langsung dinaikkin ke atap bus sama bapaknya.

“Kemahalan, Pak. Masa segitu” Kami bertiga protes manja. Percaya? Jangan! Si bapak itu maen bisik-bisik ke temannya, trus ngomong lagi ke kita.

“Lima belas ribu deh, mbak” katanya lagi. Saya, Firda, Ain, kode-kodean. Dan Ok.

Bismillah. Kita naek ke bus. Sebelum jalan, selfie ber3 dulu ya. Kebiasaan saya dulu adalah, selalu update dp bbm tiap kemana-mana. *dulu? sampe sekarang juga masih. #diprotes* Sylvia teman sekelas yang lagi berleha-leha di Bengkulu,  langsung kepo :p, “kalian kemana?”  Saya jawab ke Jogja. Dan dia percaya. Hahaha. Maap ya Py.

Nah, ada satu kejadian lucu -dan memalukan diri sendiri- yang dipersembahkan oleh Firda dan saya di bus. Sepuluh menit-an bus nya jalan, ada mas-mas yang bagiin sticker arema. Cuma-cuma. Dua perempuan yang masih lugu ini, girang. Lumayan dapat beginian gratis. Buat disimpen, selain karcis bus, sumpah gak penting banget simpenannya. Eh, pas udah nyimpen tu stiker di tas, si mas-mas tadi balik kanan dari arah belakang bus, sambil cuap-cuap ada ikhlas-ikhlasnya gitu. Plus bawa gelas air mineral kosong. Saya sama Firda senyum-senyum ngenes. Tuiing, bayar neng! Enak aja gratis. Seribu cukup lah ya. Harusnya tadi minta empat. *eh*

Setengah jam lebih apa kurang ya. lupa. Busnya udah dekat. Saya dibangunin ama kernet busnya. Grasa grusu lagi ngebanguninnya. *INGAT, itu kernet, yun. Bukan emak di rumah.* 3 menit-an sempat berdiri, baru bus nya benar-benar nurunin kami bertiga. Belakangan setelah kesana sini naek bus dan kereta, baru saya tau, ya memang kita harus berdiri sesegera mungkin kalau mau turun ke bukan tujuan akhir bus/kereta, lambat dikit, maka selamat melanjutkan perjalanan ke bukan tujuan anda. Hihihi.

Yeayh. Alhamdulillah. Sampailah di sini.

DSCN0383 WP

DSCN0384

Kebun Raya Purwodadi. Lokasinya di Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur. Kebun Penelitian besar yang juga jadi tempat wisata. Luasnya sekitar 85 hektar dan punya 10.000 jenis pohon dan tumbuhan. Biaya masuk /orang dewasanya Rp.6000. Kita bisa naik kereta ala odong-odong atau nyewa sepeda atau make’ kaki sendiri. Kami pilih opsi ke tiga. Ini kebun raya, kami jalan kaki? Karena kami gak akan tau pulangnya bisa tepar pake banget. Saya udah lupa apa-apa saja yang ada dalam KRP ini. Mau gugling, males ah 😀

DSCN0242
Ain

DSCN0257

DSCN0245

Oh iya, kata temanku yang warga asli sekitaran sini, mesti banyak-banyak istighfar.

“Loh? Kenapa, mas?” tanyaku via bbm

“Banyak yang pacaran, duduk dekat-dekatan, hahaha” balasnya.

Ya iyalah, kalo duduknya jauh-jauhan itu ujian final Prof. Sauqah kale ah.

Bikin risih? Iya. Ini tempat umum bukan tempat mesum! Mestinya ada larangan pacaran. Kan gak enak, pas lagi jalan dapat spot bagus buat foto-foto, eh ada yang pacaran *pasti langsung dikatain #jomblosirik. Hahaha. Oh iya per sekian menit bapak bapak security nya boncengan patroli keliling kebun raya ini. Mungkin buat nyergap yang pacaran :D. atau buat jagain cewek bertiga dari Malang yang lagi jalan keliling? :p

DSCN0279

DSCN0273

DSCN0286

DSCN0291

Ternyata capek juga. Ets, ada sungai dan jembatan gantung di salah satu sudut KRP ini. Waktu itu ada yang lagi take pre-wedd n family photo. Udaranya yang sejuk, lumayan lah buat refresh otak yang dipake mikir tugas kuliah kemaren.

DSCN0327

DSCN0352

Puas jalan-jalan, udah siang juga, kita nyari musholah. Untungnya ada. Lumayan bersih juga. Habis sholat, kita pulang. Capek ma meen. Makan siang gak di KRP ini, gak ada yang jualan makanan. Eh ada dink, ibu-ibu jualan nasi bungkus dan mie instan, tapi kita gak minat makan makanan anak kost *di kost maem mie, masa iya di kebun juga, hehehe. Jadilah kita pulang dengan kaki pegal dan perut laper.

Nah lo. Pulang naek apa kita? Nyetop bus lagi?

Saya bertanya cara pulang ke Malang sama ibu-ibu yang jualan di kantin dekat pintu gerbang masuk. Katanya tunggu aja, di depan banyak patas, bus an kota, atau bus mini yang ke Malang. Ongkosnya? Ternyata Lima Ribu ! UWOOWWW! Dibagi tiga ongkos pergi tadi.

Maka lewatlah bus mini lumayan tua tapi masih kece, “Malaaangg, Malaaang !!!” teriak bapak-bapak di dalamnya.

Kami memilih itu. Bus mini nya berhenti. “Malang berapa, Pak?” tanyaku

“Maunya berapa?” tanyanya balik. Yaelaaah Bapak, pake nanya balik, kaya si *tiiiiit* #sensor

“Lima ribu!” jawabku cepat.

“Yo wesss, ayo!” si Bapak oke.

Come on. Mobilnya masih kosong. Kita bertiga milih jok paling belakang. Nyaman loh, pemirsa. Gak kalah sama bus gede yang tadi kami bayar 3x lipat. Yah, pelajaran buat perempuan yang pasti keliatan anak baru dan lugu di terminal pagi tadi.

Alhamdulillah, ngebolangnya seru. Sampe ketemu lagi, Kebun Raya Purwodadi

Awal November dan Sepotong Pikiran Pagi

Bahwa hidup penuh kejutan, iya aku sering membacanya. Mengalaminya juga. Banyak hal-hal yang tak pernah kau pikirkan, lalu Tuhan berikan. Atau yang kau pikir, kau takkan bisa mendapatkannya, lantas sekarang itu menjadi milikmu dan tak pernah pergi. Pun juga sebaliknya, yang kau pikir akan selalu menemani dan tak pergi, malah berlalu, menjauh. Bertemu, mendapatkan dan kehilangan. Hidup memang serupa pola itu. Tapi, aku tak ingin membahas itu. Cukuplah kemarin, kehilangan yang terlalu menyedihkan. Ah, aku lupa. Aku belum memilikinya.

Seorang blogger Makassar yang sering ku ikuti kisahnya dulu, pernah pula kumenangkan GA nya (meski bukan juara pertama), dan kita juga pernah bertemu di Palu, lalu berteman di beberapa socmeds, membawa kabar mengejutkan.

Ya, kita memang tak lagi pernah komunikasi dalam waktu yang lama. Suatu malam, dia menanyakan no hp, WA, dan BBM. Menyambung silaturahmi lagi katanya. Saling bertanya kabar, dan yang mengejutkan adalah, dia tak lagi di Makassar, dia tak lagi bekerja di kantor pusat perusahaan besar berskala nasional yang sudah 4 tahun di-setia-inya. Hidup mengantarnya ke sebuah kota berjam-jam dari Makassar, ke sebuah instansi, mengabdi di BPN- Badan Pertahanan Nasional . Dikurangi setahun-an proses daftar dan prajabatan, mungkin sebulan-an resmi lah dia di sana, dengan hal yang mungkin tidak masuk dalam life goals lists nya.

Menjadi PNS. Banyak temannya yang juga terkejut dengan keputusan pindah haluannya ini. Aku tak bertanya alasan di balik perpindahannya, aku menghormatinya sebagai seorang kakak dan tidak mau ‘kepo’. Pun kemarin aku bingung, menyelamati hidup barunya atau tidak. Sekarang lebih baik atau tidak, dia lah yang tau. Menurutku, pekerjaan lama dan sekarangnya sama-sama banyak diingini orang banyak. Aku cukup menyelipkan harap untuk kelak nanti bisa bertemu dengannya lagi entah di mana. Seperti 2 tahun lalu.

Ya. Ini mutlak. Kita tidak tau apa yang akan kita hadapi di depan sana. Seorang kakak juga pernah berujar, “ in sya Allah, saya nikahnya kalau sudah kerja” Well. Tuhan mengirimkannya jodoh di semester akhir kuliahnya. Menikah ketika masih jadi mahasiswi. Dan sekarang bahagia dengan 3 anak lucu-lucu. See?

Manusia bisa berencana. Pun kuat mengusahakan rencana-rencananya. Tapi di tengah jalan, Tuhan bisa menghentikan usaha kita. Itu tak baik untuk kita. Kita berhak lebih. Who knows?

Mungkin kita akan bimbang. Ketika kita punya dua pilihan yang menurut kita, sama baiknya. Mana godaan untuk suatu usaha bertahan atau tuntunanNya untuk menjalani arah lain? Balik lagi, masing-masing kita punya cara bertanya, membujuk Tuhan dengan segala penghambaan. Ah, hidup. Kadang aku merasa terlalu kecil, dan tak bisa apa-apa dengan semua yang ada di depan sana.

Dulu, aku pernah berujar “aku tak ingin jadi guru, apa enaknya berhadapan dan harus mendidik anak-anak banyak, belum kalau nakal-nakal, tiap hari pula”. Betul-betul jadi guru tak ada dalam cita-cita masa depan. Tapi apa? Tuhan sudah menyuruhku mengajar anak tk-kuliah, kemarin. Dan aku jatuh cinta dengan itu. Pun kalau jodoh dengan rencana yang sekarang. Aku juga akan kembali menjadi pengajar.

Sekarang, yang aku akan lakukan, dan harusnya sudah sejak lama. Rancang proposal hidupmu, yuni amelia. Sebaik-baiknya, seindah-indahnya. Berikan kepada Tuhan yang Punya segala. Sang Maha Kaya. Lalu berusahalah semampu, setinggi yang kau bisa. Teruslah berjalan. Mungkin ada doamu akan terjawab lain. Tapi, jangan lupa kalau itu kejutan-kejutan dari Tuhan. Nikmat yang akan kau bahagia-i selamanya. Insya Allah.

“Dan Dia menyempurnakan untukmu, nikmat lahir dan batin” (Q.S. Luqman: 20)

DSCN6153 wp
Berjalanlah. Bersiaplah untuk kejutan-kejutan Tuhan.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑