Bait-bait Ujung November

Kupikir aku ingin sembunyi,

Di dalam lemari berpintu dua itu,

Di luar turun hujan, aku tak mau menjumpa genangan kenangan.

 

Tapi, mereka bilang, tunggulah.

Karena pelangi akan datang tersenyum. Genangan bisa kau lupakan.

Yah, garisan warna-warni itu?

Setelah lelah menunggu hujan reda terlalu lama, kenangan masih membasah sana sini, lantas dia sudah pergi!

 

Atau mungkin aku harus ke ruang sebelah?

Di situ ada meja. Aku bisa sembunyi di bawahnya.

Dari janji-janji.

Ucap manis nanti nanti.

 

Ah, atau aku harus pergi mandi?

Menghanyutkan kenangan yang tak ingin kulihat lagi.

 

Ya, harusnya begitu.

Segera karena aku tak ingin terlambat,

Malam nanti aku ingin belajar berlari lagi.

bokeh 1 UAfrom google

Sajak Jingga

Untuk aku yang belum bisa mengerti dirinya sendiri.

Mungkin kepalamu terlalu lelah, ia butuh merebah.

Memutuskan ingatan-ingatan dan ketakutan-ketakutan dari segala arah.

Atau mungkin juga hatimu harus punya tempat,

untuk salah dan ketidaksempurnaan syarat.

Bermainlah sebentar,

Berlari-lari di bawah matahari sore,

Lalu senyum se-manismanis-nya bersama jingga yang datang sesudahnya.

(yuniamelia)

DSCN8504 wp

Ia lah Nu’man ibn Qauqal

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mungkin ini pertama kalinya saya menulis, bukan, ini menyalin pure dari satu kisah yang saya baca di buku penuh berkah *in syaa Allah*, Lapis-Lapis Keberkahan oleh Salim A Fillah. Saya belum menamatkan buku ini. Entahlah, rasanya saya ingin berlama-lama membersamai tiap halamannya, tiap lapis berkahnya.

Ini tentang amalan.

Suatu waktu, demikian Jabir Radhiyallaahu ‘Anhu berkisah, seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan bertanya. “Menurut engkau ya Rasulallah,” ujarnya, “jika aku melakukan shalat yang diwajibkan, berpuasa di bulan Ramadhan, aku halalkan yang halal, aku haramkan yang haram, dan tiada kutambah lagi sesuatu atasnya, apakah akau akan masuk surga?”

Rasulullah menjawab, “Ya.”

Hadits indah yang diriwayatkan Imam Muslim dan Ahmad ini menjadi hadits ke-22 yang dihimpun Imam An-Nawawi dalam Al-Arba’in An Nawawiyah-nya. Menarik untuk dibincangkan karena lelaki yang datang pada Sang Nabi itu bertanya tentang hal mendasar dan batas terendah yang bisa memasukkannya ke surga. Shalat yang wajib saja, puasa yang wajib saja, mengupayakan yang halal, menjauhi yang haram, dan tiada tambahan lagi. Sudah. Dan Sang Nabi mengatakan “Ya”.

Alangkah lebih menarik lagi kalau kita sibak hal senyatanya tentang si lelaki yang bertanya. Namanya Nu’man ibn Qauqal Radhiyallahu ‘Anhu. Syaikh Muhammad Tatay, penulis Idhahu Ma’anil Khafiyah fil Arba’in An Nawawiyah menukil berbagai riwayat tentang Nu’man. Ternyata, amal shalih Nu’man tidak seperti pertanyaannya. Sama sekali tidak sekadarnya.

“Dia,” tulis Syaikh Muhammad Tatay dalam penjelasan makna tersembunyi Arba’in yang disusunnya, “dikenal sebagai seorang yang nyaris ‘mewajibkan’ amalan-amalan sunnah nawafil bagi dirinya, selalu berburu berbagai macam keterangan tentang ibadah Sang Nabi, dan berprasetia menjalankan berbagai keutamaan.”

Padahal Nu’man memiliki keterbatasan jasadiyah. Dia cacat. Dia pincang.

Nu’man ibn Qauqal juga mengikuti Perang Badr dan menemui syahidnya pada Perang Uhud. Di hari Uhud itu dia berteriak, “Aku bersumpah kepada-Mu duhai Rabbi, takkan tenggelam matahari hingga kugapai hijaunya surga dengan pincangku ini.” Sesudah gugurnya Nu’man, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam mensabdakan, “Sesungguhnya Nu’man telah berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang baik. Maka dia mendapati Allah sebagaimana yang disangkanya. Sungguh telah kulihat dia bercengkrama dalam hijaunya surga, dan kini tiada lagi pincang di kakinya.

Semoga Allah membalas dari kita untuk Nu’man ibn Qauqal kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Dari apa yang ditanyakannya kepada Rasulullah, kita memahami bahwa ketika hati ikhlas dan diri berturut di jalan runtut, maka amal ibadah yang sekadar mengugur kewajiban dasar telah memasukkan seorang hamba ke dalam surga dengan ridha-Nya.

Ini senada dengan nasihat Rasulullah kepada Mu’adz ibn Jabal sebakda beliau jelaskan padanya penggugur-penggugur pahala amal. Syirik,, takabbur, hasad, riya’, kezhaliman, dan ghibah, adalah ancaman besar pembangkrut amal kelak di akhirat. “Apa yang harus kulakukan, ya Rasulallah?” Tanya Mu’adz. “Akhlish li diinika fayakfika ‘amalul qalil,” jawab Sang Nabi. “Bermurnilah kepada agamamu, maka amal yang sedikit akan mencukupimu.”

Di lapis-lapis keberkahan, amal yang sedikit tetapi terpasti bahwa ia diamarkan dan diteladankan oleh Rasulullah, sungguh sebuah perbendaharaan yang sangat berharga. Di lapis-lapis keberkahan, memastikan bahwa setiap ibadah sekecil apapun yang kita lakukan berasal dari tuntunan Nabi Shallallaahu’Alaihi wa Sallam adalah sebuah keniscayaan.

Dari pribadi Nu’man ibn Qauqal kita juga belajar tentang hubungan iman dan amal di lapis-lapis keberkahan. Bahwa meski yang sekadar telah dapat memasukkan ke surga adalah ridha Allah, iman dalam hati takkan puas jika hanya sebegini yang dilakukan oleh tangan dan kaki. Bahwa pengetahuan tentang apa yang wajib dipenuhi, ternyata diikuti semangat untuk mengilmui dan mengamalkan hal-hal yang dicintai dan dipuji oleh Rabb Yang Maha Tinggi. Bahwa di lapis-lapis keberkahan, ada orang seperti Nu’man ibn Qauqal yang merendahkan kata, tapi meninggikan karya.

Dia bertanya tentang amal-amal yang bersahaja. Dia berkarya dengan segala yang tak cukup diungkap kata. Dialah lelaki di lapis-lapis keberkahan, yang bekerja lebih nyaring dan merdu daripada bicaranya, yang berturut pada Sang Nabi di jalan runtut, yang menjemput ridha Rabb Nan Maha Lembut.

 

Masya Allah.

Entah apa yang harus keluar dari lisan ke tulisan ini. Semoga umur kita cukup menabung, menikmati berlapis-lapis berkahNya. Aamiin, ya Rabbal ‘alaamiin.

Undangan? Penghargaan!

paper-old-past-typewriter-Favim.com-518417

Kemajuan tekhnologi di jaman sekarang membuat komunikasi antar daerah, kota atau Negara yang jauh jaraknya bukan lagi masalah. Berbagai macam social media, seperti facebook, twitter, path, atau applikasi chatting, whatsapp, line, dkk yang mudah di-akses, juga sangat memudahkan komunikasi penyampaian informasi, berita pun gossip sana sini.

Nah, di musim nikah, media social juga applikasi chatting dipakai oleh beberapa orang untuk menyebar undangan pernikahan mereka. Yang paling sering saya lihat di-timeline facebook, event pernikahan dengan banyak teman di-tag. Jadi objek dari undangan juga pernah.

Saya tertarik untuk nulis ini, setelah pagi tadi saya membaca link berita online yang di-share teman saya di facebook. “Fenomena Undangan Pernikahan Online Melalui Facebook, Pantaskah Dilakukan?”

Sering kita lihat, ketika ada undangan online, si pengirim undangan akan menandai banyak temannya, dengan *biasanya* permohonan maaf karena mengundang via facebook. Praktis, mudah, cepat, juga alasan terakhir, murah. Teman saya dan beberapa perempuan dalam artikel ini menilai, undangan semacam ini tidak pantas dilakukan. Kurang personal, merasa tidak diundang , itu pengumuman bukan undangan.

Ya, secara etika, undangan seperti ini memang tidak pantas dilakukan, terlebih kalau si pengundang dan teman-teman yang diundang berada di satu kota. Niat dan keseriusan pengundang menjadi hal yang dipertanyakan. Kalaupun pertimbangan biaya *tapi saya pikir ini jarang sekali terjadi*, ya undangan online tersebut dikirim personally satu-satu ke teman yang akan diundang, dengan menyebut nama yang diundang nya tentunya. Ini jauh lebih menghargai dan mengharapkan teman untuk datang.

Mengundang berjamaah via event di facebook akan jadi hal biasa jika pengundang dan undangan masih berstatus mahasiswa, yang “rasa pengertian” nya masih bisa memaklumi keterbatasan satu sama lain. Tapi, di masa-masa ketika kuliah sudah kelar, sudah ada yang kerja dan memiliki pasangan sah, mengundang teman-teman via facebook rasanya kurang etis.

Tahun lalu, seorang teman di Jakarta mengabari kalau dia akan menikah. Via facebook atau bbm saya lupa. Dan mendekati hari H, undangan pernikahannya nyampek ke kost saya via pos. Dengan nama saya tertulis di tujuan undangan. Rasanya? Terharu juga bahagia. Dia sudah mengabari sebelumnya dan mengharapkan saya datang, kemudian mengirim langsung undangannya via JN*. Hal kecil yang mungkin akan membekas di penerima undangan selamanya. Sayangnya, waktu itu saya betul-betul tak bisa menghadiri. Kado dan permintaan maaf pun dikirim balik ke mempelai via JN*.

Ya, ketika pengundang tak secara personal * undangannya memang atas nama kita* mengundang kita, sebagian besar orang akan merasa tak dihargai. Apalagi hanya via media social. Memilih untuk tidak menghadiri bukan lah hal yang salah.

Beberapa baris di buku “Ta’aruf, Khitbah , Nikah dan Talak” menyetujui hal ini,

Menghadiri undangan yang ditujukan kepada orang banyak, tanpa menyebut nama tertentu dan bersifat umum, maka undangannya tidak wajib untuk dihadiri. “

Nah, jelas bukan? Semoga menjadi pembelajaran saya *yang belum datang saat nya mengundang* juga kita semua.

 

“Well saya tidak sedang membicarakan teman-teman saya yang barusan nikah dan tidak mengirim undangannya ke saya yang sedang di Malang. Undangan kan sampai ke telinga saya langsung dari si pengundang. :p ”

Got Tired in Kebun Raya Purwodadi

Ini awal dari jalan-jalan keluar dari Malang yang pertama. Waktu itu liburan semester 1. Saya gak pulang ke kampung halaman karena pertimbangan ongkos. ONGKOS. Tiket pesawat di musim libur akhir tahun sudah pasti naik. Dan baru lima bulan berubah status jadi perantau, belum dramatis untuk pulang melepas rindu ke ayah bunda di sana.

Syukurnya ada dua perempuan yang ternyata gak mudik juga. Firda, asal Lombok Timur. Ain, asal Padang. Kami daariii…. *lupakan*

Awalnya hanya Firda dan saya yang punya rencana jalan-jalan jauh. *Kalo diingat-ingat, ini jalanjalan kedua bareng Firda. Saya dan Firda punya kisah hampir menginap terpaksa di Batu, berdua* Eh pas ajakin Ain juga, dia mau ikut. Yeay! Kita bertiga.

Kita pengen maen ke pantai. Ettapi jauh. Gak ada angkutan umum yang bisa kesana. Nyewa motorpun, saya angkat tangan. Nyerah. Gak berani. Firda apalagi. Mau ke Jogja, Firda lagi nabung. Ya udah yang deket-deket dan terjangkau transportasi umum.

Kamis, jam 7 pagi kita bertiga janjian ngumpul di dekat kost-an saya. Dari situ kita ke terminal Arjosari. Itu pertama kalinya saya ngangkot ke Arjosari. Rasanya jauh. Dan memang! Pas nyampe terminal, 3 perempuan ini kebingungan. Nah Lo! Kita disambut bapak-bapak, nyebutnya apa ya, yang teriak-teriak, ” Maaliingg Maaalinngg” eh salah ding, “Surabaya Surabayaaaaa !!!”

” Pak, Ke *tiiiiiiittt* (disensor dulu tujuannya) berapa ya?” tanyaku ke bapak-bapak yang paling dekat dari tempat kami.

” Dua puluh lima ribu, Mbak.” jawabnya.

Uwhaaaat? Ape lu kateee pak? Sambil pake mata melotot. Ke Surabaya aja gak segitu. Saya protes sewot. Dalam hati -_-. Iya kali protes beneran, pasti langsung dinaikkin ke atap bus sama bapaknya.

“Kemahalan, Pak. Masa segitu” Kami bertiga protes manja. Percaya? Jangan! Si bapak itu maen bisik-bisik ke temannya, trus ngomong lagi ke kita.

“Lima belas ribu deh, mbak” katanya lagi. Saya, Firda, Ain, kode-kodean. Dan Ok.

Bismillah. Kita naek ke bus. Sebelum jalan, selfie ber3 dulu ya. Kebiasaan saya dulu adalah, selalu update dp bbm tiap kemana-mana. *dulu? sampe sekarang juga masih. #diprotes* Sylvia teman sekelas yang lagi berleha-leha di Bengkulu,  langsung kepo :p, “kalian kemana?”  Saya jawab ke Jogja. Dan dia percaya. Hahaha. Maap ya Py.

Nah, ada satu kejadian lucu -dan memalukan diri sendiri- yang dipersembahkan oleh Firda dan saya di bus. Sepuluh menit-an bus nya jalan, ada mas-mas yang bagiin sticker arema. Cuma-cuma. Dua perempuan yang masih lugu ini, girang. Lumayan dapat beginian gratis. Buat disimpen, selain karcis bus, sumpah gak penting banget simpenannya. Eh, pas udah nyimpen tu stiker di tas, si mas-mas tadi balik kanan dari arah belakang bus, sambil cuap-cuap ada ikhlas-ikhlasnya gitu. Plus bawa gelas air mineral kosong. Saya sama Firda senyum-senyum ngenes. Tuiing, bayar neng! Enak aja gratis. Seribu cukup lah ya. Harusnya tadi minta empat. *eh*

Setengah jam lebih apa kurang ya. lupa. Busnya udah dekat. Saya dibangunin ama kernet busnya. Grasa grusu lagi ngebanguninnya. *INGAT, itu kernet, yun. Bukan emak di rumah.* 3 menit-an sempat berdiri, baru bus nya benar-benar nurunin kami bertiga. Belakangan setelah kesana sini naek bus dan kereta, baru saya tau, ya memang kita harus berdiri sesegera mungkin kalau mau turun ke bukan tujuan akhir bus/kereta, lambat dikit, maka selamat melanjutkan perjalanan ke bukan tujuan anda. Hihihi.

Yeayh. Alhamdulillah. Sampailah di sini.

DSCN0383 WP

DSCN0384

Kebun Raya Purwodadi. Lokasinya di Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur. Kebun Penelitian besar yang juga jadi tempat wisata. Luasnya sekitar 85 hektar dan punya 10.000 jenis pohon dan tumbuhan. Biaya masuk /orang dewasanya Rp.6000. Kita bisa naik kereta ala odong-odong atau nyewa sepeda atau make’ kaki sendiri. Kami pilih opsi ke tiga. Ini kebun raya, kami jalan kaki? Karena kami gak akan tau pulangnya bisa tepar pake banget. Saya udah lupa apa-apa saja yang ada dalam KRP ini. Mau gugling, males ah 😀

DSCN0242
Ain

DSCN0257

DSCN0245

Oh iya, kata temanku yang warga asli sekitaran sini, mesti banyak-banyak istighfar.

“Loh? Kenapa, mas?” tanyaku via bbm

“Banyak yang pacaran, duduk dekat-dekatan, hahaha” balasnya.

Ya iyalah, kalo duduknya jauh-jauhan itu ujian final Prof. Sauqah kale ah.

Bikin risih? Iya. Ini tempat umum bukan tempat mesum! Mestinya ada larangan pacaran. Kan gak enak, pas lagi jalan dapat spot bagus buat foto-foto, eh ada yang pacaran *pasti langsung dikatain #jomblosirik. Hahaha. Oh iya per sekian menit bapak bapak security nya boncengan patroli keliling kebun raya ini. Mungkin buat nyergap yang pacaran :D. atau buat jagain cewek bertiga dari Malang yang lagi jalan keliling? :p

DSCN0279

DSCN0273

DSCN0286

DSCN0291

Ternyata capek juga. Ets, ada sungai dan jembatan gantung di salah satu sudut KRP ini. Waktu itu ada yang lagi take pre-wedd n family photo. Udaranya yang sejuk, lumayan lah buat refresh otak yang dipake mikir tugas kuliah kemaren.

DSCN0327

DSCN0352

Puas jalan-jalan, udah siang juga, kita nyari musholah. Untungnya ada. Lumayan bersih juga. Habis sholat, kita pulang. Capek ma meen. Makan siang gak di KRP ini, gak ada yang jualan makanan. Eh ada dink, ibu-ibu jualan nasi bungkus dan mie instan, tapi kita gak minat makan makanan anak kost *di kost maem mie, masa iya di kebun juga, hehehe. Jadilah kita pulang dengan kaki pegal dan perut laper.

Nah lo. Pulang naek apa kita? Nyetop bus lagi?

Saya bertanya cara pulang ke Malang sama ibu-ibu yang jualan di kantin dekat pintu gerbang masuk. Katanya tunggu aja, di depan banyak patas, bus an kota, atau bus mini yang ke Malang. Ongkosnya? Ternyata Lima Ribu ! UWOOWWW! Dibagi tiga ongkos pergi tadi.

Maka lewatlah bus mini lumayan tua tapi masih kece, “Malaaangg, Malaaang !!!” teriak bapak-bapak di dalamnya.

Kami memilih itu. Bus mini nya berhenti. “Malang berapa, Pak?” tanyaku

“Maunya berapa?” tanyanya balik. Yaelaaah Bapak, pake nanya balik, kaya si *tiiiiit* #sensor

“Lima ribu!” jawabku cepat.

“Yo wesss, ayo!” si Bapak oke.

Come on. Mobilnya masih kosong. Kita bertiga milih jok paling belakang. Nyaman loh, pemirsa. Gak kalah sama bus gede yang tadi kami bayar 3x lipat. Yah, pelajaran buat perempuan yang pasti keliatan anak baru dan lugu di terminal pagi tadi.

Alhamdulillah, ngebolangnya seru. Sampe ketemu lagi, Kebun Raya Purwodadi

Awal November dan Sepotong Pikiran Pagi

Bahwa hidup penuh kejutan, iya aku sering membacanya. Mengalaminya juga. Banyak hal-hal yang tak pernah kau pikirkan, lalu Tuhan berikan. Atau yang kau pikir, kau takkan bisa mendapatkannya, lantas sekarang itu menjadi milikmu dan tak pernah pergi. Pun juga sebaliknya, yang kau pikir akan selalu menemani dan tak pergi, malah berlalu, menjauh. Bertemu, mendapatkan dan kehilangan. Hidup memang serupa pola itu. Tapi, aku tak ingin membahas itu. Cukuplah kemarin, kehilangan yang terlalu menyedihkan. Ah, aku lupa. Aku belum memilikinya.

Seorang blogger Makassar yang sering ku ikuti kisahnya dulu, pernah pula kumenangkan GA nya (meski bukan juara pertama), dan kita juga pernah bertemu di Palu, lalu berteman di beberapa socmeds, membawa kabar mengejutkan.

Ya, kita memang tak lagi pernah komunikasi dalam waktu yang lama. Suatu malam, dia menanyakan no hp, WA, dan BBM. Menyambung silaturahmi lagi katanya. Saling bertanya kabar, dan yang mengejutkan adalah, dia tak lagi di Makassar, dia tak lagi bekerja di kantor pusat perusahaan besar berskala nasional yang sudah 4 tahun di-setia-inya. Hidup mengantarnya ke sebuah kota berjam-jam dari Makassar, ke sebuah instansi, mengabdi di BPN- Badan Pertahanan Nasional . Dikurangi setahun-an proses daftar dan prajabatan, mungkin sebulan-an resmi lah dia di sana, dengan hal yang mungkin tidak masuk dalam life goals lists nya.

Menjadi PNS. Banyak temannya yang juga terkejut dengan keputusan pindah haluannya ini. Aku tak bertanya alasan di balik perpindahannya, aku menghormatinya sebagai seorang kakak dan tidak mau ‘kepo’. Pun kemarin aku bingung, menyelamati hidup barunya atau tidak. Sekarang lebih baik atau tidak, dia lah yang tau. Menurutku, pekerjaan lama dan sekarangnya sama-sama banyak diingini orang banyak. Aku cukup menyelipkan harap untuk kelak nanti bisa bertemu dengannya lagi entah di mana. Seperti 2 tahun lalu.

Ya. Ini mutlak. Kita tidak tau apa yang akan kita hadapi di depan sana. Seorang kakak juga pernah berujar, “ in sya Allah, saya nikahnya kalau sudah kerja” Well. Tuhan mengirimkannya jodoh di semester akhir kuliahnya. Menikah ketika masih jadi mahasiswi. Dan sekarang bahagia dengan 3 anak lucu-lucu. See?

Manusia bisa berencana. Pun kuat mengusahakan rencana-rencananya. Tapi di tengah jalan, Tuhan bisa menghentikan usaha kita. Itu tak baik untuk kita. Kita berhak lebih. Who knows?

Mungkin kita akan bimbang. Ketika kita punya dua pilihan yang menurut kita, sama baiknya. Mana godaan untuk suatu usaha bertahan atau tuntunanNya untuk menjalani arah lain? Balik lagi, masing-masing kita punya cara bertanya, membujuk Tuhan dengan segala penghambaan. Ah, hidup. Kadang aku merasa terlalu kecil, dan tak bisa apa-apa dengan semua yang ada di depan sana.

Dulu, aku pernah berujar “aku tak ingin jadi guru, apa enaknya berhadapan dan harus mendidik anak-anak banyak, belum kalau nakal-nakal, tiap hari pula”. Betul-betul jadi guru tak ada dalam cita-cita masa depan. Tapi apa? Tuhan sudah menyuruhku mengajar anak tk-kuliah, kemarin. Dan aku jatuh cinta dengan itu. Pun kalau jodoh dengan rencana yang sekarang. Aku juga akan kembali menjadi pengajar.

Sekarang, yang aku akan lakukan, dan harusnya sudah sejak lama. Rancang proposal hidupmu, yuni amelia. Sebaik-baiknya, seindah-indahnya. Berikan kepada Tuhan yang Punya segala. Sang Maha Kaya. Lalu berusahalah semampu, setinggi yang kau bisa. Teruslah berjalan. Mungkin ada doamu akan terjawab lain. Tapi, jangan lupa kalau itu kejutan-kejutan dari Tuhan. Nikmat yang akan kau bahagia-i selamanya. Insya Allah.

“Dan Dia menyempurnakan untukmu, nikmat lahir dan batin” (Q.S. Luqman: 20)

DSCN6153 wp
Berjalanlah. Bersiaplah untuk kejutan-kejutan Tuhan.

Hati-hati, Perempuan!

tumblr_mc7dbgEDGv1qc99cbo1_500 WP

Bahwa orang-orang berbahaya yang otaknya sudah penuh dengan niat jahat itu ada di mana-mana. Entah darimana, muncul tiba-tiba, dan melecehkan.

Jumat kemarin, di perpustakaan, saya ketemu teman. Dari situ, sekitar waktu Jumat-an, kita pulang bareng. Kebetulan searah. Kost-an mbak ini lebih dulu, lalu kost saya. Kita ngambil sebelah kiri jalan. Saya di kiri, mbak ini di sebelah kanan saya. Pas udah masuk jalan kost-annya dan lagi ngobrol ketawa tiwi normal, tiba-tiba ada motor melambat di samping mbak ini, laki-laki pake helm tutup. Saya pikir temennya mbak ini, tapi loh kok tangan kiri laki-laki di atas motor itu cepat dan tiba-tiba mau memegang dada temen saya! Spontan mbak ini nunduk dan saya dengar ber-istighfar. Sementara laki-laki kampr*t itu ngegas cepat motornya. Shock! Saya Cuma bisa diam. Mbak ini apalagi! 😦

Astaghfirullah. Si kampr*t itu masih anak sekolah. Dia pake seragam pramuka. Entah apa yang ada di kepalanya. I couldn’t say n do anything. Temen saya kesel, shock, pengen nangis. Saya bisa ngebayangin perasaannya. Saya jadi ingat teman se-kost saya yang juga pernah jadi sasaran orang-orang kampr*t kaya begini. Di jalan yang sama pula. Tapi, kejadiannya pagi-pagi skali. Gara-gara cerita teman kost saya itu, memang saya gak pernah mau lewat jalan ini. Sunyi memang. Kendaraan jarang melintas.

Saya kesal setengah mati sama anak sekolah yang sudah arrrh. Teman saya, gak pernah nyangka kalo dia juga bisa ‘diginiin’. We can say, pelecehan. Dan rasanya dilecehkan itu ……! Nyumpahin juga gak berguna.

DSCN0891 WP
Ini jalannya. Emang sunyi.

Pelecehan seksual, ada di urutan ke-3 dari 15 jenis kekerasan seksual yang ditemukan Komnas Perempuan selama pengamatan 15 tahun (1998-2013). Tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual. Seperti siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan, atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Well, ini menakutkan untuk perempuan, di kota orang, dan kemana-mana harus biasa sendiri. Karena pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja, kapan saja. Saya sampe googling cara melindungi diri, selain bela diri. Here they are;

  1. Tarik perhatian orang sekitar. Jadi kalo *amit-amit ya ini* ngalamin pelecehan, ya teriak aja, jangan ragu! Supaya orang-orang aware dan *diharapkan* bisa nolong kita.
  2. Waspada! Hati-hati dengan keadaan dan gerak-gerik orang-orang asing di sekitar kita. Waspadai orang asing yang selalu liatin kita.
  3. Setting nomor telp darurat. Panggilan sekali tekan. Kalau keadaan udah mulai gak terkontrol, hubungi nomor2 penting tadi untuk meminta pertolongan.
  4. Dengarkan naluri. Kalo ngerasain gak nyaman sama orang asing yang sok kenal, sok dekat dan menjadi berlebihan, pergilah dari situ secepatnya.
  5. Tempat ramai selalu lebih aman. Sebisa mungkin hindari tempat sepi. Pilih jalan alternative yang lebih ramai, ini lebih aman, dan juga lebih mudah minta bantuan pas lagi terdesak,
  6. Senjatai diri. Untuk keamanan, bawa pisau lipat, semprotan cabe or merica, atau alat setrum. (wolipop.com)

Well, intinya waspada, juga jangan lupa doa kalo mau pergi kemana saja.

Once more, Hati-hati, perempuan!

Ini Pagiku, Mana Pagimu?

Selama jadi mahasiswa di Malang, jarang sekali saya kesiangan. Bangun pagi justru sering kepagian. Mungkin karena terlalu dinginnya yang memaksa mata saya terbuka lebih cepat. Di Palu saya juga tetap a morning person, hanya saja tak ‘separah’ di sini *pencitraan*.
Sayangnya, kamar saya tak berjendela, jadi tak ada adegan senyum dengan mata berbinar-binar membuka jendela perlahan, lalu diam menatap kejauhan *selamat pagi nya RUN mengalun jadi backsound* Tuhan, saya ingin udara shubuh dan pagi-pagi sekali masuk ke kamar. Hiks. Ok. Lupakan.
Padahal kata pakar kesehatan, udara shubuh itu kaya oksigen dan belum terkotori zat-zat lain, *seperti aroma ayam goreng tetangga, parfum orang sebelah dan mungkin aroma kuah bakso mas-mas di pinggir jalan*. Ini sangat bermanfaat buat metabolisme tubuh. Dan ini jelas besar pengaruhnya ke vitalitas kita untuk beraktivitas seharian penuh. So, demi udara super yang tak bisa masuk ke kamar saya, saya lah yang keluar kamar, keluar rumah, keluar gang *ya iyalah*.
Jogging or biking. I did it several days a week. Menikmati pagi. Menikmati hidup, sendiri. Kalau jogging, saya pilih muter-muter di lapangan volli kampus. Beberapa kali putaran saja, gak kuaaat, kakak. Eh ada lansia-lansia yang senam pagi di halaman kampus. Mereka semangat pula. Sadar akan kesehatan. Masa kita yang muda justru kalah?

DSCN4358 UNNI b

DSCN4372 UNNI b

Kalo lagi males jogging, maka saya akan memanfaatkan sepeda temen kost yang nganggur tak tersentuh pemiliknya. Retawu, Ijen, Semarang, Dieng, Kawi, Wilis. Jalan-jalan sekitaran kostan. Oh Tuhan, nyamannya shubuh-pagi dari atas sepeda. Langit, pohon-pohon dan orang di kiri kananmu terlihat beda dari biasa.

DSCN0398 UNNI b
Juga akan kau temui, ibu-ibu paruh baya sederhana dengan karung di punggungnya, bapak ibu yang berteman sapu di teras-teras dan halaman rumahnya, asisten-asisten rumah tangga menyiram tanaman, rumput, di depan deretan rumah-rumah berpagar tinggi yang kulihat hampir semua pemiliknya bukan makhluk pribumi, juga security-security yang bermuka lelah setelah semalaman tidurnya mungkin tak nyenyak. Oh iya, juga bapak-bapak dan mas-mas berseragam petugas kebersihan kota dengan peralatan di tangan mereka. Angkot-angkot yang melaju, mengejar penumpang yang menjemput rejeki pagi-pagi skali.

DSCN0350 unni b

DSCN0437 UNNI b

DSCN0452 unni b

Melihat itu semua, seperti menemukan manusia-manusia yang mengejar berkah Tuhan. Menemukan manusia yang tak mau kalah sama ayam. Menemukan arti kenapa kau harus terus hidup dan tidak merengut pula mengeluh di tiap pagi, menikmati tiap sentinya.

“Ya Allah, berkahilah umatku di pagi harinya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar)

Salam untukmu ya Rasulullah,

 

Ini pagiku, mana pagimu? 🙂

Merutin (kembali)

Demi pikiran-pikiran yang sering berdesak-desakkan di kepala.
Yang sebagiannya juga kadang keluar ke tengah-tengah saya dan teman-teman.

Saya rindu -rutin- menulis. Mengalirkan kata.
Menikmati diri sendiri. Berenang-renang bebas, tak berbatas.

Ayo, yun.
Menulislah!

Blog at WordPress.com.

Up ↑